Sampai Bibirmu Yang Basah Dan Asin Sebab Air Mata, Bertemu Bibirku

tears

Aku telah merancang jutaan skenario untuk nanti, ketika aku harus berpisah denganmu. Dan kau tahu, jutaan skenario itu memiliki pola yang serupa; bibirmu yang basah dan asin sebab air mata, bertemu bibirku.

Dan air mata, ya, banyak sekali air mata yang akan tumpah.

Lalu hujan mungkin. Karena hujan tak pernah mengabarkan kebaikan barang sekali di antara dadamu-dadaku.

Lalu suara gaduh yang tak mungkin dapat kuuraikan menjadi kata-kata. Atau lebih baik hening yang sama? Entahlah, pokoknya skenario yang jamak itu akan berhenti pada suatu adegan; bibirmu yang basah dan asin sebab air mata, bertemu bibirku.

Celakanya, kau orang paling optimis yang pernah kutemui. Sejantung oportunis-nihilis yang membuatku keki setengah mati. Tapi tetap saja, kucinta dengan teramat sangat. Palung dalam yang kuandai-andaikan tak pernah mampu kusentuh dasarnya itulah kadar cintaku padamu.

Lalu kau membalas kalau cintamu garam; tersebar di mana-mana, nyata ada.

Kontollah. Kutahu kamu sedang sakit—sange sedikit, ketika mengucapkannya.

Kemudian gelak tawa membahana, keluar dari paru-parumu, jua paru-paruku. Gelak itu begitu meledak hingga lelah kita setelahnya. Kaubaringkan tubuhmu di atas tubuhku, jemarimu di sela-sela jemariku, bibirku di puncak kepalamu, sembari gelembung-gelembung dalam kepala bergeletar dicerca tanya; apakah kita?

Satu yang aku tahu, jauh sebelum aku jatuh cinta padamu; akan datang saatnya di mana bibirmu yang basah dan asin sebab air mata, bertemu bibirku.

Dan kau tak pernah setuju ketika skenario-skenario itu kujabarkan di depanmu. Memangnya aku dukun, ejekmu fasih, bisa melihat segala apa yang akan terjadi.

Aku bukan, Sayang, balasku menggodanya, aku hanya tahu.

Tahi anjinglah, pungkasmu, lalu tak kudengar lagi kabarmu dalam rentang waktu dua-empat jam.

Lalu selama itu pulalah rindu menjadi bajingan. Tak diberikannya waktu yang lebih untukmu berpikir, memaknai kita, dan kita, dan kita, dan kita lagi. Kau gampang saja melenggang kembali memelukku, tanpa merasa apa, tanpa mengingat apa.

Sedangkan racah harapan-harapan baikku telah lumat ditelan dahaga, digulung ombak-ombak telaga yang penuh dengan kembimbangan. Yang membuatku hakulyakin; nanti bibirmu yang basah dan asin sebab air mata, bertemu bibirku.

Dan di malam pahit yang sekopi sunyi ini telah lahir skenario yang lain.

Tentunya air mata. Banyak sekali air mata yang akan tumpah.

Lalu hujan mungkin. Karena hujan tak pernah mengabarkan kebaikan barang sekali di antara dadamu-dadaku.

Kemudian gaduh, yang di skenario ini mampu kuurai menjadi kata-kata; jerit ibumu-ibuku, detak jam, dengung kipas-angin-tiga-puluh-ribu, bising acara dangdut di televisi, napasmu yang satu-satu, jua napasku.

Setelah itu cinta… ah… begitu banyak cinta hingga gembung kedua dada kita.

Dan tetap; bibirmu yang basah dan asin sebab air mata, bertemu bibirku.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s