Fatwa

gagak

“Dan kalau agamaku tiba-tiba menyuruh untuk berpuasa membeli buku-buku, kayaknya aku akan segera murtad, deh,” candamu entah kapan. Aku lupa. Mungkin karena terlalu banyak waktu yang kuhabiskan denganmu hingga silap semua angka-angka. Seminggu? Sewindu?

Dan dalam rentang waktu yang ‘entah kapan’ itu, seluruh eksistensiku melulu tentang kamu. Ketika proses taaruf kita yang tak bisa dibilang lama. Ketika kuterima nikahmu dan kawinmu yang disaksikan orang-orang tercinta. Tentang keputusanmu mengikuti kemauanku untuk segera menutupi seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah.

“Bukan karena aku takut neraka-Nya, Bang. Aku ingin mencintai-Nya sepertimu mencintai-Nya. Dengan begitu, semoga Dia menambah-numbuhkan cinta yang lebih lagi di dadaku untukmu. Sebab, bukankah Tuhan yang kauagung-agungkan itu Maharomantis?”

Aduhai, Dik, bergetarlah ini semesta di dalam hati.

Tak ada yang mampu kulakukan saat itu kecuali menabahkan hati. Kularang dengan garang itu air-air mata yang dengan lancang hendak menuruni kedua pipi.

Lucunya, cinta yang sebesar ini pun masih harus bersaing dengan buku-buku. Buku-bukumu. Cinta pertamamu.

Dan kini, di sini, dengan buku di kedua tanganku, dan senja pukul lima di hadapan kita, kuulangi lagi hobi yang paling kugilai; merajahi tiap inci wajahmu dalam sunyi.

Tuhan mungkin sedang tergila-gila benar pada sesuatu—atau seseorang?—kala menciptamu. Kutemui badam paling kelam dalam susu matamu. Hidung yang semancung Halimun. Lesung pipit yang semanis kopi pukul tujuh. Dan bibir itu…

Tersipu aku dibuatnya, ketika—untuk kesejuta kalinya—aku tertangkap basah tengah memandang wajahmu likat-likat.

“Besok sidang apa, Bang?” tanyamu, masih tersisa itu senyum, masih indah itu bibir dikulum.

“Tak tahu. Kyai bertemu dengan penguasa-penguasa kemarin.”

Kau mengalihkan pandang setelah mendengar jawabku, meneruskan bacaanmu yang dengan lucu sempat kuganggu.

“Bagaimana kabar Kyai, Bang? Beliau sudah lama tak main ke rumah.”

“Baik… kurasa.”

Mungkin ada getir di suaraku, hingga meratamu kembali lagi pada merataku. Aku tak bisa menjelaskan apa-apa sebab aku memang tak tahu apa-apa. Hanya satu; betapa keruh air muka Kyai usai bertemu dengan mereka; penguasa-penguasa.

Lama kita berpandang-pandangan seperti itu, Dik. Sembari dalam hati kurapalkan doa-doa kalau-kalau kau mampu membaca pikiran. Sebab, telah berminggu-minggu ini kepala penuh dengan kegundahan-kegundahan.

*

“Sidang ditutup.”

Lalu palu itu diketuknya tiga kali, keras menggema di ruangan yang sejenak kemudian ramai oleh derit-derit kursi yang ditarik. Orang-orang memasang ekspresi beragam pada wajah mereka. Senang, sedih, kecewa.

Aku, Dik, merasa dikhianati setengah mati. Apa-apa yang kusucikan, kujaga sebaik-baiknya aku menjaga diriku sendiri, berbalik mengunyahku bulat-pulat.

Jangan kaulakukan apa yang akan kaulakukan, Dik! Kumohon!

Kau hanya perlu tahu bahwa di negeri celaka ini, penguasa-penguasanya tak menyukai orang-orang yang pintar. Mereka lebih nyaman memimpin orang-orang yang gelimang dalam kebodohan. Tiran-tiran itu hanya peduli pada perut dan anak-istri mereka. Segala yang kotor telah lekat padanya, segala noda relah rekat.

Karenanya, penguasa-penguasa keji itu membenci buku-buku.

Dan jika esok, atau lusa, atau hari setelah lusa kau mendengar Kyai sekonyong-konyong mengharamkan buku-buku, maka itu bukan salah agamaku… agama kita…

Kau hanya perlu tahu bahwa di negeri celaka ini, penguasa-penguasanya begitu pintar mencampuradukkan mana yang hak dan mana yang batil. Telah dikencinginya agama. Telah dikangkanginya ulama-ulama.

Jangan kaulakukan apa yang akan kaulakukan, Dik! Kumohon! Sebab aku mencintaimu!

***

Advertisements

2 thoughts on “Fatwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s