Bincang BasaBasi Hari Kedua: Cerita-Cerita Dan Janji-Janji

7 Hari Tantangan Menulis Basabasi Store (LINE @zog5070K)

Lalu Kau Tiada Berbicara Lagi

Di taman yang menghadap ke laut ini, aku pernah menciummu, Puan. Menciummu dengan nikmat dan hikmat. Merasakan debar napas dan desah jantung yang talu itu. Menggenggam bisik lirihmu atas nama-namaku, mendengar sentuh kulitmu. Dan kelak pada jenak ketiga belas, bibirmu-bibirku cerai untuk nanti bergaul kembali, bergumul lagi.

Namun ‘pernah’ akan selalu menjadi pernah. Ia berada di antara masa kini dan masa lalu, tak mau maju.

Kecuali… kecuali kau membacanya.

Kecuali kau mengingatnya.

Kecuali kau masih mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu.

“Damar!”

Alahai… kaget aku dibuatnya. Kukira kau memanggilku, Puan. Ternyata bukan. Damar Kecil yang diseru-seru tadi dengan nakalnya berdiri begitu dekat dengan itu tebing yang tingginya sehasta, yang membatasi lantai beton dan pasir pantai di bawahnya. Sedangkan Damar Tua ini masih bengal, masih bebal mengurusi luka-duka ranap hatinya.

Kemudian mereka—ayah, ibu, Damar Kecil, dan neneknya—kembali menikmati piknik mereka, kembali mengacuhkan si Damar Tua.

Lalu, di taman yang menghadap ke laut ini, kita pernah membuat janji, Puan. Janji yang kauterakan dengan tinta yang (dijaminkan) paling abadi di kulit dompetmu, jua dompetku. Tiga belas Maret, di pantai ini, sepuluh tahun usai kesediaan-kesediaan itu dibuat.

Dan kau tiada menepati, Puan. Lalu kau tiada berbicara lagi.

Hingga kini, hingga putih semua rambutku. Hingga kematian rasanya mulai sering mengembuskan napasnya di tengkukku. Hingga masih belum juga rapi apa-apa yang kautinggal pergi.

“Damar! Jangan ganggu nenekmu!”

Lalu Damar Kecil berbuat ulah, direnggutnya tas jinjing neneknya, dibawanya kabur, lama berputar-putar sebelum berlari ke arahku. Aku tertawa saja, hingga sesuatu jatuh di dekat kakiku.

Dompet kulit cokelat.

Kotor sebab tinta yang terusap.

Diterakan pemiliknya dengan angka-angka dan kata-kata.

Dua belas Maret, di pantai ini.

*

Berhubung hamba menuliskan ini sejam sebelum batas waktu yang ditentukan, hamba hanya akan memberikan benar-benar secuil kisah dari semesta kisah antara hamba dan sahabat hamba.

Entah dua-ribu-berapa, hamba iseng-iseng mengajak sahabat hamba untuk membuat ‘janji’. Kurang lebih begini isinya;

“Dua puluh tahun lagi, kita temu di gedung tertinggi di Jakarta.”

Naif memang. Memangnya umur Anda sampai? Umur Jakarta sampai? Memangnya Anda masih punya kepercayaan diri sebegitu hebatnya pada prestasi-prestasi Anda yang hanya sebatas medioker dan tiada apa-apanya itu?

Dan masih banyak ‘memangnya’ yang lain.

Iqbal, masih ingat?

*

Ini mimin/momonnya kampret bener, ya? Kirain di 7 Hari Tantangan Menulis Basabasi Store (LINE @zog5070K) ini bisa dengan mudah cuwap-cuwap tiada jelas tanpa piksipikisan hhhhh… kzl…

Sampai jumpa esok! Semoga!

P.S.

Oh ya, writng challenge ini kugabung dengan weekly prompt mondayflashfiction.com yha!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s