Kata-Kata Dan Kemustahilan-Kemustahilan

Satu hal yang baru kusadari usai menyanggupi permintaannya; malam ternyata sebising ini.

Mereka—suara-suara jangkrik, alarm mobil, desau angin, decak cecak, gonggongan anjing, riuh kereta (kereta apa yang beroperasi pukul tiga pagi?!), dan yang paling menakutkan: detak detik jam—seakan-akan berikrar untuk menemaniku sampai tiba waktunya, waktuku.

Dan aku merasa tak apa, sungguh.

Kecuali… kecuali detik yang terus berdetak itu. Yang paling mengerikan, paling menjerikan.

Dan kata-kata… ah… kata-kata.

Aku telah berteman lama dengannya, amat lama. Dan kata-kata adalah teman yang paling kusukai, sahabat yang paling kuminati. Dia kekasih yang lain, yang bersedia saja kunikahi, kugumuli kapan dan di mana saja. Tetapi semua berubah, sebegitu tiba-tibanya.

Padahal sebelumnya aku tak pernah menaruh perhatian pada apa pun selain kata-kata. Tapi bibirnya, bibirnya…

Bibirnya adalah kenikmatan-kenikmatan yang harus kujajal.

“Maukah kau menjadi pengganti bagi segala kata-kata?” tanyaku lekas, kemarin sore.

Matanya begitu dingin menatapku. “Kau tidak tahu siapa aku ya?”

Kucoba untuk mengurai kemahaannya yang dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun kata-kata tak membolehkan, tak mengizinkan. Dan satu yang mesti kau tahu, sepasang bibirnya adalah khuldi yang lain, yang sanggup membuat diri ini berpisah jalan dengan kata-kata.

“Buktikan,” perintahnya.

Dan di sinilah aku, di bawah kipas-angin-tiga-puluh-ribu, di depan layar-empat-belas-inci, mencoba memenuhi keinginannya, mengabulkan perintahnya. Berteman dingin, sembilan belas kepala lain, tuts-tuts, gambar-gambar, dan tentu saja kata-kata.

Detak detik jam semakin lama semakin bingar. Seolah mengingatkan bahwa hampir tiba waktunya, waktuku. Dan seolah untuk menegaskan itu semua, beberapa jenak kemudian ponselku berbunyi, tanda sebuah pesan diterima.

Kutunggu pukul enam nanti, di tempat kemarin. Bawa apa yang mesti kaubawa.

Panas-dingin, gegas kutanyai kepala-kepala itu.

“Berapa lagi?”

Mereka membalas dengan muram, dengan terkantuk-kantuk. Telah kuperas tenaga mereka semalam suntuk. Dan jawaban yang mereka beri lumayan beragam; tiga, dua, empat… dan setelah kuhitung-hitung mereka berjumlah dua puluh satu.

Tidak akan bisa, pikirku. Waktu yang tersisa hanya satu jam, dan dalam rentang waktu itu masing-masing dari kita hanya bisa mengerjakan satu. Bangsat.

Kata-kata yang sepasang bibir itu ucapkan kemarin kini terngiang-ngiang di telingaku, berdenging-denging memekakkan. “Buatlah seribu alih bahasa dari serial drama Thailand!” perintahnya penuh kemustahilan. Dan dengan kenekatan dan kebodohan demi sepasang bibir itu, aku mengiyakan.

Dan aku gagal. Sial!

Memang tak seharusnya kutaksir itu Si Roro Jonggrang Milenial!

*

Advertisements

One thought on “Kata-Kata Dan Kemustahilan-Kemustahilan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s