Begini Caraku Belajar Bercerita

bright_eyes

Tulisan ‘Hati-Hati di Sini Pernah Ada yang Mati’ itu kian hari kian kabur. Cat putih yang berada tepat di kedua sisi gajlukan-nya pun kian saru dengan kelam aspal. Tertutup debu, abu, dan rindu. Kadang dilapisi organ-organ dalam tikus beserta tahi-tahinya. Digiling dan digiling terus, diuleninya hingga lebur semua.

Dan begini caraku menyimpan luka: kupandangi dengan serakah kenangan yang tetas dari tetes hujan pukul tiga. Yang darinyalah sunyi yang tak henti-henti terlampau ada di antara kita; mengisi ruang-tanpa-sekat pada kedua dada.

Aku sedang belajar, kataku, pecah hening di antara kita.

Belajar apa, tanyamu.

Bercerita, menggambar dengan kata-kata.

Untuk apa, tanyamu.

Agar semakin baik tulisanku.

Oh, jawabmu.

Lalu kata-kata itu saling balap-membalap dengan ruang dan waktu. Mereka saling pepat-memepatkan. Yang satu tak mau kalah dari yang lain. Yang lain tak mau kalah pula dari yang satu. Dalam pengar yang membuat kepalaku pecah, mereka bertukar tinju.

Dan kata-kata menang.

Kata-kata akan selalu jadi pemenang.

Malam itu sepi hanya diusik oleh dengung kipasangintigapuluhribu, ceritaku. Hidup di pinggir kota begini, sulit kautemukan suara jangkrik yang asyik bernyanyi. Sulit lagi kaujumpai desau angin, sebab tembok-tembok beton tak pernah menyilakan apa-apa kecuali kesedihan-kesedihan sebuah keluarga di dalamnya.

Aku ingin menceritakan bagaimana bentuk rumahmu, rumah kita. Namun, tak ada apa-apa yang istimewa darinya: pintu berdaun satu yang telah terkelupas catnya; dinding polos, kuning gading pudar di sebelah kiri; di sisi satunya, setengah depa dari lantai di bawah, bertengger jendela kaca yang telah payah kaurekat-rekat.

Kau tertawa, lama dan menyenangkan.

Aku ingat, serumu. Waktu itu ibumu dengan kalap melempari rumah kita dengan batu-batu bata sekepalan tangan. Aduhai, lucu sekali!

Kau tertawa, lama dan menjengkelkan.

Dia tak pernah benar-benar melihat dirimu sebagai wanita yang kucintai, lanjutku. Rambut hitam yang tak pernah berubah-ubah, lurus dan selalu sepunggung. Alis yang rimbun. Hidung mancung. Bibir tebu. Dan pipi yang langsat itu, yang pada keduanya berdiam sebuah ceruk yang begitu dalam.

Teramat dalam hingga kini kumulai bertanya-tanya; karenanyakah aku jatuh hati?

Bodoh kau, bantahnya. Manusia biasanya jatuh hati pada bola-bola mata.

Aku tidak biasa, bantahku.

Alasan, bantahnya. Coba ceritakan tentang bola-bola mata ini.

Aku berpikir begitu lama, mencari cara paling utama untuk menggambarkannya. Malam masih sesak oleh dengung kipas angin, ditambah detak detik jam, hela napas, dan asmara yang pengap dibawa nyamuk yang berdenging-denging tepat di telinga.

Lama. Begitu lama hingga racah-racah tanya mulai penuh mengisi halaman yang hanya ditumbuhi dua batang pohon mangga; satu di barat daya, satu di tenggara.

Manik-manik itu merupa kelereng paling malam yang pernah kulihat, yang paling pekat, paling likat, lanjutku. Bulatan-bulatan ter yang hidup di antara rawa-rawa kapas itu serasa begitu dangkal, hingga mampu kulihat cerminan diriku yang ranap dibabat rindu.

Aih, serumu malu-malu. Tolong ya, bedakan; mana rindu, mana hasrat kepengen ngentot.

Lalu begitu caramu menipu diri: tenggelam dalam hahahihi tiada berarti. Hidup berkubang mimpi macam babi-babi di penjagalan Haji Syafii. Kautolak semua realita yang tak sepakat dengan berahi.

Bagaimana, tanyaku usai air matanya—air mata kita reda.

Kau hanya menggambarkan teras rumah kita juga sedikit dari wajahku, kritiknya.

Memangnya harus kuceritakan apa lagi, tanyaku.

Dada ini, jawabnya, kau dapat bercerita tentang bekas cupang di dada ini. Kau bisa mengutip dan enggan memberikan catatan-catatan atasnya. Seperti tulisan-tulisanmu dahulu, misal; maukah kau menghapus bekas cupangnya di dadaku dengan cupangmu?

Kau tertawa, lama dan menjengkelkan.

Dan kukira, kutipan-kutipan akan selalu jemawa di atas kata-kata.

Halaqntl.

Advertisements

7 thoughts on “Begini Caraku Belajar Bercerita”

      1. Hahahaha ngaqaq, ikutan aja jumat depan~
        Eh serius deksripsinya gimanah? Aq mau tanya tanya mba eka tapi nganu keknya ini tuh inappropriate bgt

      2. Inapropriet nya bagian akhir doang (?)
        Asique kok deskrip nya 😦
        Apalah aku yg cuma nulis asal-asalan dalam waktu enampuluh menit 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s