He Is A Lover, Albeit A Jilted One

Butuh waktu lama bagi saya untuk membujuknya ke pokok yang satu itu. Di perjalanan saya bilang, ada seseorang yang tak saya kenal di sana. “Terpasung. Pecah-pecah bibirnya.”

Dia membalas, pokok itu terlarang. “Sedang apa dirinya di sana?”

Saya menjawab, tak tahu, dan bukan itu masalahnya. “Hampir mati dia sebab dahaga. Tolonglah! Bukankah Tuhanmu Maha Menolong?”

Dia mengerti. Ragu-ragu wajahnya.

Sampai-sampainya dia di pokok itu, dia terkejut. Sesosok rupawan dengan dada berbuah sepasang terikat dalam belenggu. Makhluk itu belum pernah dilihatnya sebelum ini. Begitu indah sekaligus menyedihkan. 

Perempuan itu mengerang dalam desah: “Ahh.”

Ada yang bergetar dalam diri lelaki itu usai mendengar erangannya. “Entah ap-apa yang membuat Tuhan saya murka hingga Dirinya memasungmu seperti ini.”

Perempuan itu, entah karena tuli atau apa, malah sibuk menjulur-julurkan lidah. Di atasnya, buah-buah yang ramai meranum, ramai pula menetes-neteskan cairan serupa emas leleh, yang ketika jatuh ke tanah, menumbuhkan tunas-tunas yang wangi dan batu-batu rubi. Dan perempuan itu menganga-nganga mencoba menggapainya.

Lelaki yang saya ajak kemari itu menjadi marah. Ia merenggut rambut panjang wanita itu kemudian menamparnya kuat-kuat. Ia bilang, itu buah terlarang, menjamahnya pun saya tak boleh. “Dan kamu pun tak boleh! Bersujudlah! Minta ampun kepada-Nya!”

Perempuan itu kemudian bersujud tanpa membantah, sampai kedua ujung dadanya menyentuh ibu-ibu jari kaki sang lelaki. Disekanya telapak itu dengan rambutnya. Kemudian ia tengadah, lalu perlahan merambat ke atas, sepanjang tungkai, dengan pipi basah oleh air mata. Wajahnya berhenti di pangkal si lelaki, yang rimbun bak pepohonan. Ia merintih, kasihanilah, aku cuma haus. “Buah yang ini bukan terlarang, kan?”

Sang lelaki terdiam, hal-hal baru seperti ini entah mengapa terasa mendebarkan baginya. Tanpa dikomandoi, perempuan itu membasuh pokok jantan yang kenyal itu dengan air matanya, mengulum-ngulum dengan air liurnya. Lelaki itu menggeliat, desah nikmat lahir dari kedua bibirnya. Pokok itu menegang, urat-uratnya ikutan matang sebab dihimpit lidah dan langit-langit yang basah.

Tak lama, sebab hal-hal baru seperti itu tak kuasa ditahannya lama-lama, geram kasar lelaki itu mengoyak awan kala getahnya yang susu, yang metah, menyembur; namun kala tetes-tetes itu jatuh ke tanah, tiada tunas-tunas wangi yang lahir, pun batu-batu rubi.

Si lelaki galau, entah setan atau Tuhan yang membisikkan, nikmat itu dosa.

Direnggutnya sekali lagi rambut perempuan yang masih mencari-cari sisa embun di kelangkang dengan lidahnya. Perempuan itu mendesah, lagi. “Ahh, saya hanya haus.”

Perempuan itu mengangkang, yang kemudian memancarkan harum berahi dari lubang yang ada di antara kedua pahanya. Sang lelaki terdiam, hal-hal baru seperti ini entah mengapa terasa mendebarkan baginya.

Si lelaki galau, entah setan atau Tuhan yang membisikkan, hukum dia.

Lalu, dengan ujung jarinya ia menikam. Dan dengan tunggul dagingnya ia merajam.

Saya hanya memperhatikan dengan celana yang kian lama kian basah betapa panasnya mereka bersanggama. Dan dengan hati gembira kulihat Kamu dan pesuruh-pesuruh-Mu, alangkah murka. Kekasih-Mu itu pasti Kamu usir, itu hukumannya. 

 “Aduhai Tuhan, seandainya tak pernah kamu ciptakan makhluk itu, dan tak pernah Kamu bagi rasa cinta itu, mungkin saya takkan sebuta ini,” bisik saya letih, jemari saya tak berhenti memutar-mutar liontin yang Kamu berikan pada hari jadiku yang kesekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s