Opera Orang Gila

“Ayah sedang apa?”

“Mengecat ulang dinding-dinding kita.”

“Lagi? Sudah terlalu kotorkah?”

Alangkah semua orang di kota ini merupakan kegoblokan yang mewujud. Mereka berpikir sama dangkal dengan sungai-sungainya, bersumbu sama rendah dengan polah tingkahnya. Saban-saban pemilu datang, tak malu mereka menggontok ninik-mamaknya sebab berbeda pandang. Mesti yang sipit-sipit ditendang. Lalu terbahaklah mereka yang berjenggot dan bercambang.

“Semalam ada yang menulisi lagi, jadi kotor. Apalagi sudah seminggu tidak dicat.”

“Tersebab ucapan Ayahkah?”

“Alahai… Sudah! Masuk sana! Jangan kacau!”

Alangkah semua orang di kota ini merupakan kegoblokan yang mewujud. Dengan semena-mena, tata iman mereka gunakan sebagai perisai. Ini-ituku dan ini-itu mereka harus bersesuai. Padahal tak semua orang memiliki tata iman yang serupa. Ah, menjadi berbeda telah diharamkan oleh mereka.

“Jangan mau Bapak-Ibu dibohongi pakai zodiak!” seruku tempo hari, di tanah yang letaknya jauh dari kota ini. Lalu entah mengapa orang-orang di kota ini lekas menjadi pandai menghakimi.

“Kafir!”

“Penistaan tata iman namanya! Pidanakan dia!”

Alangkah semua orang di kota ini merupakan kegoblokan yang mewujud. Hanya karena satu kalimat sederhana yang kita tahu sama tahu artinya, mampu membuat para peramal dan ahli nujum bahu-membahu demi mengganyang diriku. Ahli-ahli bahasa sedikit banyak memelintir satu kalimatku itu, mengobarkan lebih lagi dengki bagi orang-orang bersumbu pendek di kota ini.

“Dasar babi sipit! Pulang sana ke negaramu!” tulis salah satu dari mereka di dinding-dinding rumahnya.

“Bunuh sang penista tata iman!” tulis yang lain.

‘Transkrip Isi Video Seruan Pemimpin Kafir Yang Melecehkan Zodiak. Ahli Bahasa: “Sangat Jelas Ada Tendensi Menghina Tata Iman Kami.”’ merupakan berita besar yang hampir ada di seluruh halaman-halaman berita sebagian dari mereka.

Alangkah semua orang di kota ini merupakan kegoblokan yang mewujud. Meski kukenal baik beberapa di antaranya—bahkan rasanya seperti keluarga, tetap saja mereka melontarkan cacian dan sumpah serapah. Membuang ludah seraya mencibirkan bibir lalu menghilang dengan terlebih dahulu membanting pintu rumah. Padahal aku tahu, mereka orang yang baik. Hidup mereka saleh. Prestasi akademik mereka cemerlang. Gagasan mereka jitu dan sarat orientasi. Tetapi karena satu kalimat yang aku hakulyakin berniatan suci pun benar, mereka menganggap diriku musuh nomor satu.

“Sampai kapan kita begini, Ayah?”

Belum masuk ternyata dirinya.

“Sampai kapan?”

Bening-bening jatuh dari matanya.

“Sampai kapan?”

Bening-bening jatuh dari mataku.

*

Advertisements

4 thoughts on “Opera Orang Gila”

  1. Ini cerdas banget ya menurutku, pintar membaca sesuatu yg tengah on di media dan mampu memodifikasinya menjadi sesuatu yg kreatif, tanpa sara pula. Rocking! Cuma saya khawatir, mereka2 itu bakal diangkat jadi duta zodiak haha. Si bapa namain jadi ‘Asoy’ aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s