“Tuhan Anu! Mari mampir!”

img_20161030_210725

“Buat siapa, Mak?”

“Buat Tuhan.”

“Tapi… nanti kita makan apa?”

Kudengar dia mendengus sebal sebelum lembut menjawab. “Tuhan kita itu mahakaya, mahapunya. Yang mereka inginkan, pasti mereka dapat. Tak payah kau rusuh hati. Sudah! Masuk kau ke dalam! Sebentar lagi mereka datang.”

Ke dalam ke mana? Kamar? Memangnya ada?

Akhirnya aku hanya beringsut ke sudut ruang, menjauhi Mamak dan ketaatannya menjamu Tuhan.

“Kali ini mereka pasti datang. Kali ini mereka pasti terjamu,” gumamnya menjelma mantra.

Sesaat dua, Tuhan-tuhan itu bermunculan. Riuh rendah jalan di depan rumah karena mereka. Dan hanya butuh sekejap untuk keringat sebesar biji-biji jagung pontang-panting di dahi dan pelipis Mamak.

“Tuhan Anu! Mari mampir!”

“Tuhan Inu! Silalah singgah sebentar!”

“Tuhan Una! Singkat saja tak apa! Kemarilah!”

Tuhan-tuhan yang datang dan Mamak coba jamu itu berbeda. Tiap-tiap dari mereka memiliki kekayaan dan kesahajaan yang berlainan.

Yang aduhai berseri-seri itu contohnya, begitu sederhana. Dia duduk sama rendah dengan Mamak, menolak untuk mencicipi makan malamku yang Mamak korbankan. Sesekali mereka tertawa, pelan dan menenangkan. Tetapi bahagia tak kulihat menyentuh mata Mamak. Keduanya masih pengap oleh rasa kehilangan.

Lalu, Tuhan berbaju terusan putih itu pergi.

Kemudian datang Tuhan yang lain. Kali ini dia bermahkota. Bajunya pun teramat mentereng. Ia duduk di kursi bambu yang telah Mamak sediakan. Demi sopan santun, ia mencomot makan malamku sedikit.

Kampret.

Ia mengobrol dengan Mamak, lama. Lalu, setelah Mamak dibuatnya menangis tersedu-sedu, ia pergi.

Kemudian datang Tuhan berkepala botak, Tuhan bermata hanya segaris, bahkan Tuhan yang merasa dirinya bukan Tuhan. Namun semuanya serupa. Semuanya pergi.

Lalu datang Tuhan yang paling kuingat. Tuhan yang masih begitu berwarna. Tuhan yang masih begitu kerepotan dengan ponsel dan barang-barang bawaannya.

“Ah, Tuhan! Silakan… Silakan…”

Mamak gelagapan, tak tahu harus menyuguhkan apa—kampret. “Oh, Tu-Tuhan! Bi-bisakah kau mengembalikan ss-suamiku dan harta-hartanya?”

“Suamimu… masih lebih memilihku daripada kamu… Maaf…”

Lalu ia pergi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s