“Seharusnya Tak Kubiarkan Hatiku Jatuh Pada Lelaki Berlidah Melayu.”

“Maninjau kini beku, Bang. Airnya memadat sekeras batu. Dan kalaulah tak sempat kurasakan sepi tanpa hadirmu, pasti telah meraja gigil di tubuh ini.”

Kubaca lagi surat itu, untuk yang keberapa entah.

“Seandainya kupercaya pada ucap ninik-mamakku, Bang, sakit yang teramat ini pastilah jauh dari siapa-siapa… Jauh darimu… Jauh dariku… Jauh pula dari air mata tiap-tiap yang berhati di antara kita.”

Kabut putih lahir di setiap embus napas yang kuhela. Kurapatkan jaketku sedikit lagi demi menghalau dingin yang menjilat-jilat. Kemudian, dengan satu tanganku yang masih bebas, kuatur lagi suhu tubuhku. Sedikit terlalu hangat, hingga dapat kurasakan kedua mataku memanas.

“Seharusnya tak kubiarkan hatiku jatuh pada lelaki berlidah melayu, Bang. Racun di bibirnya ia sulap menjadi madu. Manisnya menipu.”

Dan setiap kali kubaca surat yang kaukirim setahun lalu ini, entah mengapa ada yang patah.

Hatikah?

“Seharusnya tak kubiarkan hatiku jatuh pada lelaki berlidah melayu, Bang.”

Kautuliskan itu dua kali, Dik. Dua. Sebuah penegasan bahwa kau alahai menyesal telah jatuh hati pada lelaki itu. Bahwa kau telah begitu kecewa telah dikhianati sesakit-sakitnya. Bahwa kau telah begitu memerih luka, memerah duka.

Dan lubang yang menjelma titik di akhir kalimat itu… Sesesak apa dadamu kala itu, Dik?!

“Entah siapa yang harus kusalahkan, Bang; diamnya engkau atau mulut amakmu?”

Kunyalakan hover tuaku, dan butuh tersendat-sendat pada awalnya. Kemudian, setelah ia selesai membatuk-batukkan asap penuh CO6, ia kubawa ke tempat itu. Tempatmu.

Bulan sabit serupa biskuit menemani sepiku di sepanjang perjalanan. Tak lagi pucat seperti di dongeng-dongeng yang kaudamba dulu. Ia kini cokelat. Sebab hujan tak lagi hanya air namun jua lebur logam, jelasmu.

‘Logam mulia atau logam hina?’ kelakarku, dan kau hanya tersenyum.

Aku merindukan hal-hal menyenangkan di antara kita, Dik. Hal-hal yang kerap menjadi dalang atas tetasnya senyummu dan lahirnya tawaku. Namun bahagia kini mandul, lantaran munculnya pertanyaan yang tiada berjawab itu.

“Tak bisakah kau, Bujang, mencari kekasih yang tak lebih tua dari umurmu?” tanya amak tepat di hadapanku, di hadapan kita.

Kuingat-ingat lagi langsung pucat wajahmu, Dik, kala itu. Susut darah tiba-tiba di sana. Keringat berbentol-bentol mewujud di kening dan pelipismu. Namun aku hanya diam, meski kuku-kuku itu kutahu menancap dalam di telapak tanganmu.

Bungalo-bungalo kini makin banyak dan rapat-rapat. Terdengar darinya alunan musik jua suara statis penyiar warta dari holotivi.

Dan samar-samar Maninjau yang benar beku itu kini terlihat oleh netraku.

“Namun apa daya, Bang, aku terlanjur jatuh teramat payah.”

Kuparkirkan hover tuaku di pinggir danau dan kubaca lagi surat darimu, Dik, yang kini lusuh dan selalu basah. Terbaur sudah bekas air matamu dan air mataku yang jatuh di atasnya. Larut sudah kenangan-kenangan luka.

Aku berjalan di atas danau yang menjelma kubangan besar es. Ke tempatmu, Dik.

“Temui aku tiga tahun lagi, Bang. Di Maninjau yang membeku.”

Kulipat dengan santun surat darimu. Kuatur lagi suhu tubuhku sebab kurasa terlalu panas, hingga mendidih kedua mataku. Kuembuskan napasku dalam-dalam, mengusir gumpalan liur yang bercokol di kerongkongan, menghalau sesak.

“Niscaya takkan lebih tua umurku saat itu, Bang.”

Dan engkau berbaring di sana, Dik. Di bawahku. Di balik dingin menusuk Maninjau yang beku.

Mati-matian menangguhkan bertambahnya usiamu.

Advertisements

21 thoughts on ““Seharusnya Tak Kubiarkan Hatiku Jatuh Pada Lelaki Berlidah Melayu.””

    1. Ah, terima kasih atas ulasannya.
      Dan tidak. Tidak tahu. Tulisan ini dibuat untuk writing prompt mondayflashfiction.com
      Semoga saja pria berlidah melayu ini memiliki akhir yang bahagia.
      Terima kasih sekali lagi untuk ulasannya.

      1. waduh… 😀 “akhirnya dikomenin sama mbaknya”? lah memangnya saya siapa. hehe. ahli tulisan juga bukan.
        terimakasih kembali sudah menyuguhkan tulisan apik ini. 🙂 saya baca 3 tulisan terakhir dan suka! keren banget. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s