“Esok Tolong Hubungi Romlah.”

“Sudah panjang rambutmu, Bujang.”

“Hmmm…”

“Sudah banyak pula umurmu.”

“Iya, Mak.”

“Esok Amak hubungi Romlah, ya? Biar kau terdaftar di upacara nanti.”

“Alahai…” bisikku nyaris tak terdengar.

“Tak kasihankah kau… pada Amak?”

Dibahasnya lagi. Alamak…

Kuangkat kepalaku yang tadi kurebahkan di kedua pahanya, berusaha mencuri-curi kenangan masa kecil yang kini lucut dikunyah waktu. Wanita enam-satu tahun ini entah bagaimana bisa begitu pandai membuatku sayang sesayang-sayangnya sekaligus kesal yang sesekali meletup.

“Aku sayang Amak.”

“Namun kau tak kasihan padaku, Bujang.”

Aku mendengus sebal sebelum menjawabnya dengan ketus. “Amak tak payah dikasihani.”

Kulihat punggungnya yang tak jua bungkuk kini membeku. Bersalah hatiku dibuatnya. Namun semuanya benar. Segala pahit yang ia hidangkan untukku adalah kesalahannya. Dan aku, sebagai putra satu-satunya yang tidak meninggalkannya, hanya mampu berpatuh dan menelan segalanya bulat-pulat.

“Telah berkerakkah hatimu sebab benci?”suaranya mengandung geletar yang sarat sakit hati dan rasa kecewa.

“Tidak, Mak,” jawabku pelan seraya menundukkan kepalaku, malu. Tiba-tiba tangan Amak yang kasar meraupku ke dalam erat peluknya. Hangat.

“Maafkan Amak, Bujang. Bapakmu itu… tak pantas menjadi bapakmu. Tak pernah pantas.”

Entah karena kapasitas otak atau kapasitas umur yang membuatku sampai sekarang tak pernah mengerti alasan yang diungkapkan keduanya, baik Amak dan Bapak. Hakikat yang pernah keduanya jabarkan, dan yang mereka gunakan sebagai senjata untuk saling menghakimi juga legitimasi untuk saling meninggalkan, masih berupa bayang-bayang irasional dalam memoriku. Tak masuk akal.

“Sudah panjang rambutmu, Bujang,” bisiknya tepat di telinga. Jemarinya yang penuh keriput mengelus rambutku lembut.

“Hmmm…”

Kupejamkan mataku, sekali lagi berkesempatan menikmati pengalaman masa kecil yang lamat-lamat lucut dikunyah waktu. Namun entah dosa apa yang telah kuperbuat di kehidupanku yang lalu, agak-agaknya aku dilarang berbahagia. Karena belum lima detik merasai sensasi yang aduhai jarang kucecap itu, seseorang di luar sana gaduh memanggil nama Amak.

“Pak Sutedjo kah, Mak?” tandasku pada Amak yang tengah merapikan kerudung lusuhnya. “Mau apa lagi dia?”

“Tak tahu,” selorohnya tak acuh dan bersegera menghampiri sumber suara.

Lama mereka berada di luar, begitu ribut. Lamat-lamat kudengar Amak yang berkeras hati pada Pak Sutedjo, “Bujang harus secepatnya tahu, Pak.”

Tahu apa?

Lama aku dibiarkan menerka-nerka dengan kepalaku sendiri, dan selama itu pula Amak dan Pak Sutedjo berdebat kecil di luar rumah. Beberapa saat kemudian, kulihat Amak masuk diikuti dengan Pak Sutedjo yang teramatlah dipandang di kampung ini.

“Salimlah kau, Bujang,” tegas Amak lembut kepadaku. Aku menyaliminya, Pak Sutedjo mengelus kepalaku.

“Sudah besar anakmu ini, Surti. Namun kenapa belum juga diruwat?”

“Belum mau dia, Pak.”

“Mengapa?” tanya gaek yang masih gagah itu keheranan.

“Entahlah, Pak. Mungkin dia belum tahu apa yang seharusnya menjadi permintaannya.”

“Oh, begitu? Baiklah. Nah, Bujang, sebenarnya ada sesuatu yang harus kakuketahui tentang kami berdua,” jelas Pak Sutedjo kepadaku seraya sesekali melirik Amak yang kini tengah gelisah sembari memilin-milin ujung dasternya. Wajah keduanya bersemu. “Tentunya kami membutuhkan restu darimu. Sesegera mungkin per—“

“Esok tolong hubungi Romlah, Mak. Aku mau diruwat,” potongku seraya menatap tajam kedua mata Amak. Yang disebut terakhir ini begitu terkejut, namun tetap mengiyakan walau kebingungan.

“Untuk permintaan yang harus Amak kabulkan,” lanjutku, “aku ingin Amak menjanda seumur hidup.”

***

Advertisements

26 thoughts on ““Esok Tolong Hubungi Romlah.””

  1. Bila memang setiap orang ingin bahagia dengan caranya sendiri, maka setiap orang pun tak berhak menuntut orang lain berbahagia dengan cara tertentu.

      1. Itu hukum pertamanya. Hukum keduanya adalah: kemuliaan tertinggi ada pada manusia yang mengalah, mendahulukan kebahagiaan selain dirinya 😃

  2. Kalau ruwatan Jawa cuma nanggap wayang dan bila urutan anak itu unik yaitu: semata wayang atau ontang-anting, kedhana kedhini, kembar lanang, pancuran kaapit sendhang, sendhang kaapit pancuran, dan pandhawa lima.
    Pertanyaan Mas Firas valid, ini ruwatan versi mana?

    Karena yang Jawa tidak mensyaratkan permintaan tertentu setahu saya. Apa ini Sumatra?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s