Xie Xu

“Yuk, kita lanjut!”

Ia menyudahi waktu istirahatnya seraya menyeka tetes-tetes keringat yang membasahi pelipisnya. Uap pasi pucat yang sewarna wajahnya lahir di tiap-tiap hela nafas, saru dengan butiran salju yang turun dari mega.

“Masih kuat?”

“Masih,” dustanya enteng atas pertanyaanku yang meragu.

Xie Xu yang keras kepala, emosional dan pemalas ini adalah satu-satunya yang tak pernah memandangku sebelah mata. Satu-satunya manusia yang rela kurepoti. Satu-satunya yang menurutku masih memiliki rasa peduli di antara 1.367.485.388 manusia di negeri ini.

“Bukankah lebih baik agar kau beristirahat lebih lama lagi?” tanyaku sungguh-sungguh meski dalam hati bingung setengah mati.

“Bawel! Bisa-bisa kita tak diperbolehkan ikut ujian Biologi nanti. Ayo!” hardiknya seraya berjongkok demi memudahkanku meraih punggungnya. Sedetik kemudian, kedua lenganku telah mengunci lehernya, jua kedua tangannya kuat menyokong kakiku.

Zhang Chi yang lumpuh kedua kakinya dan  bercita-cita menjadi dokter tulang ini adalah satu-satunya yang begitu tulus mengagumi sosok Xie Xu. Satu-satunya manusia yang paling merepotkan hidup Xie Xu selama tiga tahun terakhir. Satu-satunya yang teramat bersyukur memiliki sahabat seperti Xie Xu.

“Adikku juga dulu lumpuh,” ucapnya dulu sekali, ketika kami sempat sama-sama tak saling mengenal.

“Aku ingin menjadi dokter agar dapat menyembuhkan kakiku dan kaki adikmu,” jawabku polos, tak menghiraukan kejanggalan dalam kalimatnya saat itu.

Dan di sinilah kami, ada untuk mimpi masing-masing.

“Badanmu hangat… Demam?”

Rakitis yang baru kusadari kuderita beberapa saat lalu ternyata telah lama menggerogotiku, menyisakan hanya keputusasaan dan kulit lengan dengan satu-dua bekas luka sayatan. Jika saja Tuhan yang lama kulupakan tak jua mempertemukanku dengan Xie, maka aku takkan pernah tahu betapa hangat dan nyaman kala berada punggungnya.

Bruk!

Xie Xu entah mengapa melepaskan sokongannya, membuat kami jatuh bertindih di atas jalanan basah.

Butuh semenit baginya untuk meluruskan punggung dan duduk tegak. Namun horor yang ada pada matanya membuatku tahu bahwa ada yang salah dengannya.

“Kakiku… mati rasa?” bisiknya lirih.

***

Seorang remaja berusia 19 tahun, Xie Xu, asal Tiongkok melakukan hal mulia kepada sahabatnya, Zhang Chi (18). Xie Xu, selama tiga tahun terakhir menggendong temannya untuk berangkat ke sekolah. Xie Xu sendiri mengaku bahwa dirinya tak ingin sahabatnya itu ketinggalan pelajaran di sekolah. Zhang Chi mengidap penyakit pada otot dan tulang yang membuatnya tak bisa berjalan. Tindakan Xie Xu sudah bukan rahasia lagi di sekolahnya, bahkan wakil kepala sekolah mereka pun mengakui keduanya sangat dekat dan tindakan Xie Xu adalah hal mulia. (Sumber)

Advertisements

2 thoughts on “Xie Xu”

    1. Di part yang mana ya Bang? Saya sudah mengantisipasi segala kemungkinan inkosistensi kok. Mungkin di bagian Zhang Chi yang menggambarkan dirinya sendiri dengan pronomina orang ketiga ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s