Rumah Di Ujung Jalan

Namanya Omen. Wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki itu adalah tetangga baruku. Rumahnya terletak persis di samping rumahku, tepat di ujung jalan. Bentuk rumahnya pun—menurut istriku yang sudah kuanggap setengah waras—sama femininnya dengan kelakuannya.

“Jangan! Rumah ini terlalu dekat dengan rumah yang terlihat feminin itu! Bisa-bisa suamimu main gila nanti sama penghuninya!” bisik mertuaku galak saat itu.

Beruntunglah aku, Omen muncul tepat pada waktunya, menyelamatkanku dan kedua kakiku yang mulai linu-linu karena tak kunjung jua kutemukan rumah yang cocok bagi kami.

Ralat. Bagi mertuaku.

“Kalau sama yang kayak begitu, aku yakin Mas Boy nggak akan doyan kok, Ma.”

Walau masih saja kurang cocok di mata mertua, istriku tetap bisa membuatnya mengerti. Syukurlah! Bisa gila aku lama-lama mendengar ocehan tentang rumah yang memiliki kelamin.

*

Namanya Omen. Wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki itu kini telah menjadi affair-ku. Berawal karena dipaksa istriku untuk beramah tamah ke tetangga, sedangkan dirinya asyik beli ini-itu ditemani mertua.

Klise. Tuan rumah—atau nyonya?—yang tersandung. Kopi yang tumpah di baju tamu. Mata yang bertemu pandang. Ah… kau pasti mengerti bagaimana akhirnya.

Bagiku: itu adalah oral seks terhebat yang pernah kuterima.

*

Namanya Omen. Wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki itu kini telah menjelma mata badai dalam bahtera rumah tanggaku.

Aku tak tahu apakah istriku tahu tentang kisah terlarang antara aku dan Omen. Namun, sikapnya akhir-akhir ini mampu menjelaskan segala. Kerap menangis, mencari-cari kesalahanku, bahkan sampai meminta cerai.

Aku tak mengerti. Jika saja ia memintaku berhenti, maka aku akan berhenti. Sesederhana itu.

*

Namanya Omen. Wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki itu kini mewujud kuda Sumbawa berbanjir peluh. Di bawahnya, dengan wajah seakan telah mereguk nikmat dunia, istri dan mertuaku telanjang bulat dalam posisi yang teramat tidak pantas.

Namanya Omen. Wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki itu ternyata lesbian.

***

Advertisements

14 thoughts on “Rumah Di Ujung Jalan”

  1. Sepertinya FF buatanmu nggak pernah jauh dari tema sex ya? I don’t know, cuma tebakan setelah beberapa kali menemukan FF yang bertema agak ‘liar’ dari sini wkwk.
    Ini bagus kok, tapi nggak bikin aku surprise. But it was my fault. Tadi sebelum baca keseluruhan, aku sempat scroll dulu ke bawah dan nggak sengaja malah kebaca ending-nya duluan. XD XD XD

    1. So, you spoiler yourself lol.
      Iya ya? Ah nggak ah… Tapi… hahaha… Mungkin memang seks adalah salah satu hal yang tidak habis-habisnya digali… jadi ya begitu deh. Walau belum sebagus eka kurniawan atau christian simamora, saya tetap melakukan progres kok hehe… terima kasih sudah diapresiasi. xxx
      But trust me, me no take any aliran in my writing. ehe

      1. Wah, karena saya hanya membuat flashfiction, maka saya pasti juga akan merasa seperti itu, Bang Ical. Cerpen lebih kompleks, dan pasti butuh effort lebih dan lebih lagi. Saya selalu tunggu karya-karya Bang Ical selanjutnya ya!

      2. Maaf sebelumnya Kak, cerpen Kakak kemarin saya copy dan dibedah di acara “Malam Cerita” hari Sabtu kemarin, sama KCB-Mataram, di pinggir pantai 😃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s