Pertemuan

Beberapa menit lagi, mungkin.

Ahh, betapa ombak asmara telah menelanku bulat-pulat, hingga terseok rindu ini menuntut ‘tuk dituntaskan. Tak habis-habis jua senyumnya yang tebu memabukkanku, serupa kopi racikannya yang hanya kusesap setengah, terlampau nafsu ‘tuk melumat kedua bibirnya, lalu turun ke dada.

Dan jangan pernah melupakan kelereng yang teramat biru yang tersemat di bawah alisnya. Yang mampu menguliti, menghunjam sedalam-dalam, sebenar-benarnya. Entah mantra apa yang ia seduhkan dalam tiap-tiap cangkir kopi yang selalu ada di antara kami, hingga aku terpukat, terpikat.

Kuharap sebentar lagi.

Pun rambut panjangnya yang sehalus sutra, yang menebarkan aroma sepadang bunga, melahirkan sesak yang bagiku teramat sedap, cekik yang teramat nikmat. Warna emasnya yang laksana bara Matahari kala mega menjingga adalah warna yang paling kusuka, mengingatkanku pada hari di mana kisah-kisah yang jatuh dari langit kau bakar dengan merdu suaramu.

Dan lancangkah bila kunyatakan pada semesta bahwa kau kini menjelma candu?

Ia seharusnya sudah nyata hadir sedari tadi, tak melulu dalam kepala. Dan nanti, sedetik setelah engahnya berkumandang satu-satu, takkan kubiarkan tubuhnya menganggur begitu saja. Lalu kami akan saling memagut bibir, bertukar liur dalam kesediaan. Namun mengapa begini?

Kekasih, baik-baik sajakah kau?

*

Dalam ketergesaanku membelah belantara hutan demi menemuimu, sepercik-dua gelisah menghantuiku.

Ke mana saja kau? Telah kutunggu kau berjam-jam, namun tak jua pipi merahmu lengkap dengan legok manis di salah satu sisinya sanggup kunetrai. Menyerahkah kau? Atas segala rencana yang kita dedah bermalam-malam sebelumnya?

Atau takut menyelimutimu? Serupa jelaga yang tak kunjung lenyap, sebab ketakutanmu atas air mata ibu tirimu yang membuatmu remuk dipecah pilu.

Kekasih, bisa gila aku kalau begini.

Hanya membutuhkan setangkup kalut dan beberapa genggam rasa takut untuk membuat napasku bagai direnggut satu-satu. Kalut akan kehilanganmu. Takut akan kehilanganmu.

Entah apa yang membuatmu memilih mengacuhkan janji pertemuan kita berdua, yang bermalam-malam kita rencanakan dalam bayang pekat malam yang segulita genangan kopi di antara kita. Dan berimaji tentang rasamu yang akhir-akhir ini kusangsikan itu, tentang kau yang sudah tak cinta lagi…

Ahh, membayangkannya saja aku tak kuasa.

Dan kini, aku berdiri tepat di bawahmu, telah ranap sebab digempuri rindu bersalut sendu lengkap dengan mata yang untuk pertama kalinya basah digenangi kopi bermantra pilu, beruap rindu.

“Rapunzel, Rapunzel! Turunkanlah rambutmu!”

Hanya sepi yang gaduh menjawab, dan cinta ini telah rebah digulung gerimis.

Namun, sebelum kewarasanku dipecah getir, sepucuk surat jatuh di dekat kakiku.

Darinya!

Kubaca lamat-lamat, sedikit berbisik.

“Teruntuk Pangeran,

Maaf. Lagi bad hair day nih.

Penuh cinta,

Rapunzel.”

***

*Berdasarkan fiksimini sixwordstories.net – “Sorry. Bad hair day. Love, Rapunzel.”

Advertisements

7 thoughts on “Pertemuan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s