Perempuan Yang Melayang Di Atas Sumur

Perempuan itu melayang-layang di atas sumur kami, laksana bulu paling ringan yang mengawang dibuai angin. Wajah tirusnya yang pasi membuat para calon pendaki berhenti barang dua-tiga menit, menatap takjub, kadang berselimut takut.

“Apa yang sedang dilakukannya?”

Tanya itu kerap terlontar dari mulut-mulut pendaki pemula. Pendaki yang hanya bertujuan haha-hihi sembari selfie di puncak nanti.

“Baru?” tanya pendaki lain yang tak sengaja mendengarnya, memastikan. Setelah mendapatkan anggukan sebagai tanda konfirmasi, ia menggamit pendaki pemula itu lalu pergi, sembari berusaha menjelaskan di bawah rindang pepohonan dan gempita suara hutan.

Tak ada yang benar-benar tahu siapa dia dan mengapa dirinya berada di sana, mengawang-awang di atas sumur tua. Termasuk kami yang telah lama berjaga di sini.

‘Ia adalah ruh hutan,’ sesumbar satu.

‘Tolol benar kau! Ia adalah malaikat yang akan menolong para pendaki ketika mereka mengalami kesulitan!’

‘Bukan! Ia arwah penasaran yang jasadnya dibuang ke dalam sumur,’ sahut bibir lancang yang lain.

Uedan! Makin lama makin gila saja teori-teori yang berpinak dari mulut-mulut kotor mereka. Sebab setahu kami tak pernah ada mayat yang ditemukan di dalam sumur itu.

Yang paling kami mengerti dari dirinya hanya satu:

Ia akan terjatuh pada hela napas kami yang ketiga ratus dua puluh tujuh, lewat pukul sepuluh.

“Ibuk! Sebentar lagi dia jatuh, Buk!”

Dan benar saja, ketka jarum jam tua menunjukkan hampir pukul sepuluh lewat sepuluh, perempuan yang melayang-layang di atas sumur itu terjatuh.

Ia yang mengawang seperti dalam keadaan ekstase itu membumi seakan dipukul gada tepat di kepala, membuatnya terhempas lunglai dan jatuh terdiam ke dalam lubang yang berdiameter sekitar satu depa itu.

“Ibuk! Dia sudah jatuh, Buk!”

Dan para pendaki yang tadi sempat menyemut kini satu-satu membubarkan diri. Meninggalkan bagi diri mereka sendiri satu tujuan: segera pulang, atau segera mendaki.

Namun, tidak dengan kami. Jatuhnya perempuan itu bagaikan sebuah hiburan di kaki gunung yang sepi ini. Salah satu hal paling ditunggu selain shalat dan idul fitri.

Entah mengapa bergetar hati ini setiap kali melihat sosoknya yang lunglai merosot ke dasar sumur. Seperti nostalgia yang dihantarkan debu-debu mikroskopis di udara, mengundang dera.

“Ibuk?!”

Dasar budheg!

Dengan tertatih, aku memasuki rumah bambu yang telah lama kami tinggali bahkan sebelum hadirnya perempuan yang melayang-layang di atas sumur itu.

Umur sudah menunjukkan taringnya dengan menggerogoti kami. Apa-apa yang kami lakukan serba lamban, pun kikuk. Tersendat-sendat jika ingin apa-apa.

“Ibuk?”

Sesampainya di kamar kami, tak kutemukan batang hidungnya. Yang ada di sana hanya gundukan tanah dengan sebuah pacul bebercak-bercak kecokelatan tergeletak lemas di sisinya.

Ah, memang dasar umur. Baru sekarang kusadari kalau gundukan itu lahir berbarengan dengan perempuan yang melayang-layang pagi tadi.

***

Advertisements

5 thoughts on “Perempuan Yang Melayang Di Atas Sumur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s