Tentang Rindu

“Dari neraka ke surga,” lirihnya atas tanya yang tak berpinak, kemudian pergi—terbang, maksudku.

Entah sejak kapan mata ini jadi kerap memerhatikan perempuan bersenyum tebu itu. Perempuan yang hanya muncul ketika kisah-kisah silih berjatuhan dari langit, menghasilkan kubangan-kubangan kenangan yang orang-orang hindari setengah mati. Sebab, siapakah yang sanggup menahan rindu yang tak kunjung kadaluarsa?

Dan setiap sembilan ribu tujuh ratus dua puluh tiga detik setelah kepergiannya, perempuan itu selalu kembali, dengan sayap putih yang meluruh hitam. Dengan wajah sendu, dan sulaman benang perak laba-laba surga di sudut mata. Dengan sesak yang asing, serta tanya dijantung bibir.

“Kau suka melihatku pulang dan kembali.”

“Tentu.”

“Kau juga suka puisi.”

“Benar.”

“Adakah kaubuat satu untukku?”

Akan lebih mudah bagiku jika ia meneriakiku penguntit dan kemudian orang-orang menghajarku sampai nyaris mati, daripada memandangku dengan mata sewarna kopi yang gulanya terasa di senyumnya.

“Jika kau mau, tentu.”

“Akan kutunggu,” lirihnya sebelum pergi—terbang, maksudku. Meninggalkanku dengan riuh kepak sayap hitam yang meuluruh putih di punggungnya.

*

“Sebegitu rindunyakah?”

“Mungkin.”

Di kota yang jelas hitam-putihnya, tentu saja keabu-abuan dilarang. Dan aku mengerti kalau kau tentu takkan mengerti betapa terkejutnya aku kala mendengar jawabannya.

“Pssst! Apa kau gila?! Bisa-bisa kita dipenjara!”

“Uh-oh… Ma-Maaf… Aku sudah mati, jadi aku tak terlalu perlu berhati-hati.”

Kemudian senyap. Lama. Dan pada akhirnya, bertambah satu tanya lagi yang tak terjawab.

“Sampai kapan kau akan menolak menjawab pertanyaan-pertanyaanku?” tuduhku frustasi, memecahkan hening yang menyesakkan.

“Sampai kau mengerti bahwa, terkadang, ada sekian tanya yang tak membutuhkan jawab.”

“Lantas bagaimana aku bisa mengerti?”

“Bagaimana puisiku? Sudah selesai?”

“Se-sedikit lagi.”

“Baiklah. Aku pergi dulu.”

*

“Tak kesepiankah kau?”

“Seharusnya aku dapat membalasmu dengan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi tidak. Aku tidak akan berlaku sepertimu. Dan ya, aku kesepian. Sangat.”

“Apa yang terjadi?”

“Mereka pergi, dan aku tak pernah tahu alasannya.”

“Menyakitkankah?”

“Tentu. Awalnya aku nyaris gila. Namun, kini aku di sini. Hidup.”

“Seandainya aku bisa sekuat engkau.”

Entah mengapa, sesaknya kini menjelma sesakku. Sulaman benang perak laba-laba surga yang seharusnya makin hari makin tebal itu, kini tak mampu membendung apa-apa dibaliknya. Pedih rindu dan sakit hati yang bergulung jadi satu, akhirnya menemukan jalan keluarnya. Merinai. Menganak sungai.

“Sudah… sudah… Jangan menangis. Lihat, puisimu sudah kuselesaikan!”

Walau tak benar-benar menghapus air matanya, aku bersyukur puisiku setidaknya dapat menghiburnya.

“‘Kerinduanku bertumbuh subur’,” bacanya pelan seraya tersenyum.

“‘Pada siapa entah’.”

“‘Sampai kapan entah’.”

Lalu hening yang berbeda, yang terasa menyenangkan, menyeruak di udara. Di antara empat bola mata yang saling tatap, saling reguk obat rindu. Di antara jantung-jantung, yang mana satu berhenti berdebar. Di antara kisah-kisah yang kembali berjatuhan dari langit, menempias.

“Kau harus pergi,” gumamku kecewa. “Dan aku akan menunggumu selama sembilan ribu tujuh ratus dua puluh tiga detik hingga kau kembali.”

“Kalau begitu aku takkan pergi.”

“Me-mengapa? Tak rindukah kau?”

“Mungkin… Dan kau? Tak kesepiankah kau?”

“Mungkin…”

Lalu tawa kami berdua membingar di atas kota yang jelas hitam-putihnya. Dan entah bagaimana caranya, perempuan itu mampu membuatku mengerti bahwa, terkadang, ada sekian tanya yang tak membutuhkan jawab.

***

P.S.

Puisi yang dibuat lelaki di bawah tempias bisa dilihat di sini

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s