Andes

Sirahku mumet. Isinya pasti ruwet. Gara-gara brahmana sinting yang ujug-ujug menghampiriku kemudian berkata, “Pararaton itu sejati kebenarannya! Oleh karenanya, langit mengasihanimu atas darah yang mengalir di nadi. Bumi gonjang-ganjing dalam penyesalan. Dan kamu, tole, akan menyaksikan sejarah yang kembali terulang!”

Lalu ia raib.

Tiga milenium berlalu sejak Singhasari runtuh, namun masih saja ada yang percaya takhayul seperti itu? Bodoh benar! Harusnya brahmana itu terus saja bereksperimen dengan mesin waktu dan obat penangkal maut!

Sampeyan kenapa tho, Ndes? Kusut pisan muka sampeyan,” seru Lembu ketika aku memarkirkan hover kerajaan.

“Mumet aku. Banyak wong edan pas aku nagih upeti tadi.”

Weladalah, Ndes! Tampangmu itu uwis garang, belum ditambah keris di pinggangmu. Tapi masih ada yang pengin macem-macem? Edan!”

Sesuatu dalam kalimat Lembu menarik perhatianku.

Keris? Keris opo?

Kutemukan keris sewarna obsidian dengan lekuk sebanyak sebelas lekukkan bertengger tiba-tiba di pinggangku. Pegangannya berwarna kuning gelap, serupa emas kotor dengan ukiran-ukiran daun di atasnya. Anehnya, keris itu tidak dilengkapi sarung.

“Bagus pisan kerismu, Ndes! Boleh pinjam? Elektrobeam-ku rusak,” pinta Lembu memelas. Sorot matanya seakan melangut pada keris di pinggangku.

“Euh… jangan lama-lama, yo!”

Iyo, Ndes. Kalem. Mending kamu samperi Kanjeng Ratu sana. Makin hari makin bahenol! Aku uwis duwe bojo saja ngiler, apalagi kamu yang perjaka. Hahaha…”

***

“Bagaimana, Ndes? Uwis edan Kanjeng Rajamu, kan?” tanya Chandayasih sebal. Aku tak menghiraukannya, masih terpaku dengan isi kitab yang baru saja kubaca.

Benarkah ucap dukun yang barusan menghadap Kanjeng Raja dan memperingatkannya? Juga brahmana sinting tadi? Apakah kebenaran isi Pararaton di tanganku ini sejati?

Lalu keris terkutuk itu?

“Ndes! Kamu uwis budheg tho?” sindirnya tajam.

Mpu Gandring… Kebo Ijo… Tunggul Ametung… Arok… Ki Pengalasan… Anusapati… Tohjaya… Tujuh nyawa, persis kutukan Mpu Gandring sang pembuat keris! Tetapi Tohjaya mati karena lembing, dan itu berarti keris terkutuk tersebut masih menginginkan satu nyawa.

Nyawanya!

“Aku harus pergi!”

“Ap-Apa?! Sampeyan uwis janji mau ngasih jatah, kan?!”

Tenanglah, Chandayasih! Usai kurebut kembali takhtaku, kita tak perlu lagi bercumbu sembunyi-sembunyi. Kau akan menjadi ratuku, dan aku rajamu.

Sebab… sejarah akan terulang.

***

“Bu! Lembu!” seruku keras, mengacuhkan android-android yang berseliweran di kompleks kerajaan.

Opo?” jawabnya dari depan pintu ruang penyimpanan senjata. Dan tak jauh di belakangnya, kulihat Kanjeng Raja sedang berjalan gusar ditemani beberapa pengawal cyborg-nya.

Kebetulan sekali!

“Kembalikan kerisku!” ucapku seraya merenggut keris yang bertengger di pinggangnya. Gagangnya yang kuning mengilap tak membuatku risih.

Aku berjalan ke arah Kanjeng Raja dengan perlahan, memasang senyum polos agar tak mengundang kecurigaan. Kemudian, ketika kami telah berhadap-hadapan, kuhunjamkan keris itu tepat ke jantungnya.

Dan sebelum para pengawal cyborg itu pulih dari keterkejutannya, kuhunjamkan lagi keris itu ke bodiecore mereka.

“HAHAHAHA! LIHAT, LEMBU! UNI NUSANTARA KINI BERADA DALAM GENGGAMANKU! AKU, KETURUNAN LANGSUNG AROK-DEDES, TELAH MENDAPATKAN KEMBALI TAKHTA—AKH!”

Kurasakan sakit yang teramat sangat mengoyak dadaku, lalu darah merinai tak usai-usai darinya.

Dalam kesadaran yang makin lama makin sirna, kulihat Lembu menggenggam keris berlumuran darah. Keris terkutuk berlekuk sebelas dengan pegangan berwana emas kotor serta berukir daun. Keris yang asli.

“Dendamnya kini terbalaskan, Ndes. Mungkin di neraka sana kau bisa bertemu dengan kakek buyutku, Kebo Ijo.”

Keris

***

Glosarium

  • Android : Robot yang mempunyai tubuh serupa manusia
  • Brahmana : Kaum cendekiawan yang menguasai ilmu pengetahuan suci dan pengetahuan secara umum
  • Bodiecore : Inti tubuh Cyborg, serupa jantung kalau pada tubuh manusia
  • Budheg : Jawa – Tuli
  • Cyborg : Cybernetic Organism, makhluk hidup yang mempunyai bagian-bagian tubuh robot.
  • Duwe bojo : Jawa – Punya istri
  • Elektrobeam : Jenis senjata di masa depan yang mampu menembakkan gelombang elektro
  • Hover : Jenis kendaraan di masa depan yang serupa mobil anti gravitasi/mobil terbang
  • Nagih : Jawa – Tagih, pinta
  • Opo : Jawa – Apa
  • Pararaton : Kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang bercerita tentang sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit. Setengah isi kitab ini berisi tentang perjalanan hidup Ken Arok (1222-1292)
  • Pisan : Jawa – Sangat
  • Sampeyan : Jawa – Kamu
  • Sirah : Jawa – Kepala
  • Tole : Jawa – Anak lelaki
  • Ujug-ujug : Jawa – Tiba-tiba
  • Uwis : Jawa – Sudah
  • Weladalah : Jawa – Ya ampun
  • Wong : Jawa – Orang
Advertisements

8 thoughts on “Andes”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s