Kuda Dan Manusianya

“Berapa harganya? Yang kulitnya putih?”

“Itu barang langka, Tuan. Kujual lima ratus carmen.”

“Kau bermaksud merampokku, hah? Tungkai-tungkainya bahkan sekurus kambing. Menarik kereta pun sepertinya ia tak sanggup. Namun kau berani mematok harga setinggi itu? Demi dewa!”

“Ta-tapi ia berbeda! Dari warna kulit saja kau bisa langsung mengetahuinya. Ia bukan dari sini, dari Ithsamet!”

“Aku tak peduli. 200 carmen. Jual padaku atau kupinta Raja Ithsamet untuk menutup usaha kotormu ini.”

“Ta-tapi—“

“Jawabanmu akan menentukan nasibmu, Kuda.”

“Ba-baiklah… Hei, Manusia! Tuan Kuda dari istana ini sudah membelimu, dan kau telah resmi menjadi manusianya.”

*

“A-apa yang bisa ku-kulakukan untukmu, T-tuan?” tanyanya ketakutan.

“Tenanglah, aku ini berbeda dengan binatang-binatang bodoh yang bisa berbicara di pasar gelap tadi. Dan kini kita sudah berada jauh dari Ithsamet yang berisi orang-orang keji itu. Kau aman bersamaku.”

“Sebenarnya kau ini ap—euh… siapa, Tuan?” tanyanya ragu-ragu

“Aku adalah pengawal pribadi Raja Sieglande. Namaku Hashtar, Putra Sishtar. Pewaris kedelapan darah Ishtar, Bapak Para Kuda,” jawabku bangga. “Kami membutuhkanmu, Pangeran. Usai perang dengan Ithsamet berbelas tahun lalu, kau tiba-tiba menghilang. Seluruh penduduk Sieglande telah berusaha mencari, namun tak ada yang mampu menemukanmu. Dan sudah sepuluh tahun sejak aku memulai perjalananku bersama dengan puluhan Pelindung lain demi mencarimu ke seluruh penjuru Manhome.”

“Pangeran? Aku? Tu-tunggu! Kalau kau bersama puluhan Pelindung, maka di mana mereka?”

Tanpa kusadari tubuhku menegang, dan suara yang keluar dari mulutku tak lebih dari sekadar bisik.

“Mereka mati. Para Pelepas membunuh mereka.”

“Oh… Maafkan aku.”

“Tak apa-apa,” bisikku pelan, menatap langsung ke iris birunya yang begitu mirip dengan iris ayahnya, Sang Raja. Iris yang menghantarkan rindu bagiku.

Lalu tiba-tiba telingaku mendengar suaranya. Hidungku mencium baunya. Dan tiap tetes darah di tubuhku merasakan kehadirannya.

“Pelepas!”

“A-apa?!” tanyanya kaget, namun tak kujawab pertanyaannya. Kupinta ia untuk menaiki punggungku, lalu kami bergegas pergi ke utara.

“Pelepas! Mereka mengejar kita! Mengejarmu!”

“Orang-orang yang membunuh para Pelindung itu mengejarku? Untuk apa?”

Kupacu kakiku untuk berlari lebih cepat, melintasi padang rumput, menuju hutan di depan sana.

“Kau setengah dewa. Dan mereka ingin memerdekakanmu dari tubuh fanamu ini,” jelasku terengah-engah. Lamat-lamat terdengar suara aliran sungai dari muka, deras. “Mereka menyebutmu Pengemban! Mereka ingin mengembalikan takhtamu di semesta yang lain! Namun… namun seluruh Sieglande membutuhkanmu! Dan jika kau sampai jatuh ke tangan mereka, maka reinkarnasimu akan terputus, dan Manhome akan menerima murka para dewa! Manhome akan hancur!”

Sungai itu semakin dekat, namun derap kaki para Pelepas jua semakin nyata. Dan ketika sungai itu terlihat jelas, jauh di bawah sana, kuturunkan sang Pangeran dari punggungku tepat di bibir jurang.

“Ba-bagaimana kita akan menyeberang?” tanyanya.

Kudorong tubuhnya dengan cepat, hingga terjatuhlah ia. Kulihat kepalanya hancur menghantam batu-batu besar di bawah sana. Lalu tubuhnya yang lunglai itu hanyut, jauh ke hilir.

“Aku tak bisa membiarkanmu jatuh ke tangan Pelepas. Namun dengan begini, kau akan kembali bereinkarnasi di keluarga kerajaan, untuk memimpin Manhome di masa depan.”

Kudengar belasan Pelepas di belakangku menjerit kecewa. Lalu kurasakan anak panah melesat menembus leherku. Kemudian gelap.

Hingga akhir hayatku, aku tak pernah mengetahui siapa sebenarnya pihak yang jahat. Pelindung atau Pelepas?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s