Lelaki Di Dalam Dompet

“Jangan menangis, Nikita! Kumohon, hentikan air matamu itu!”

Joko hampir menangis, hatinya terasa perih setelah melihat air mata yang lahir dari manik hitam kekasihnya. Tak ada angin, tak ada badai, Nikita tiba-tiba saja menghindarinya. Dan sekalinya dapat bertatap muka, ia mengucurkan air mata.

“Jelaskan padaku, Sayang!”

Nikita tergagap. Jika hati Joko memerih perih, maka lipat gandakan lah sejuta kali untuk mengetahui sesakit apa yang kini Nikita rasa. Dunianya runtuh, hancur berantakan. Mimpi-mimpinya laksana menulis di atas air, pelik ‘tuk diwujudkan.

“Semua sia-sia,” jawabnya dengan suara berat, nyaris histeris.

“Apanya yang sia-sia, Sayang? Coba jelaskan! Jangan buat aku bingung seperti ini!” Lalu melelehlah air mata Joko, susul menyusul, berlomba-lomba sebanyak apa ia mampu menderas melawan air mata Nikita.

“Dulu… dompetmu sempat jatuh. La-lalu aku mengambilnya dan melihat isinya t-tanpa sepengetahuanmu,” jelasnya terbata-bata. Joko menunggu perkataan Nikita selanjutnya, lama. Hingga akhirnya Nikita bertanya kepadanya.

“Lelaki di dompetmu itu… siapa?” tanya Nikita tiba-tiba.

“A-ayahku, me-mangnya kenapa, Sayang?”

Namun bukannya menjawab, Nikita malah menangis meraung-raung. Air mata makin menderas, merenyai tak henti-henti.

“Padahal… padahal sudah kuubah alat kelaminku, na-namun… kita ternyata mempunyai ayah yang sama! Mas Joko, apa yang sebenarnya kita jalani ini?!”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s