Kutukan

“Woi! Lihat-lihat kalau jalan!” makinya usai menabrakku, “Mau jadi jagoan kau di sini?!”

“Kan Om yang menabrak Ayah duluan! Om yang harusnya meminta maaf!”

“Diam kau anak ingusan!” bentaknya lagi seraya menunjuk-nunjuk wajah anakku. Geram, gegas kuraih jemarinya yang tak tahu sopan santun itu, kemudian meremasnya keras.

“Aku sudah memaafkanmu. Sekarang pergi!” ujarku kalem.

Ia memandangku benci untuk terakhir kalinya seraya mendumal sebal. Aku tak bisa melakukan apa-apa, kecuali beristighfar karena telah membiarkan emosi meraja atas nurani. Bahkan di tanah suci, masih saja ada orang yang merasa jago padahal tubuhnya terbalut ihram.

“Ayah? Kenapa Ayah tak pukul saja dia tadi?”

Deg.

Hatiku serasa dihantam godam. Bahkan darah dagingku sendiri berpikir kalau kekerasan dapat menyelesaikan segala perkara. Apakah aku, yang seharusnya menjelma panutan baginya, tak mampu memberikan contoh yang baik kepadanya?

Bagai diremas-remas jantung ini. Sakit.

“Sayang, dengar! Ada banyak cara yang disukai oleh Tuhan untuk menyelesaikan setiap perkara. Dan ada banyak pula cara yang tidak disukai Tuhan. Semua kembali ke hati kita masing-masing. Pertanyaannya, kalau kamu berbuat salah kepada Ayah, apa mau langsung dipukul? Tidak, ‘kan? Nah, seperti itu. Apalagi kita sekarang di tanah suci. ‘Tanah Keramat’ kata orang-orang zaman dahulu. Apakah kau tahu kalau dulu ada seseorang yang dikutuk menjadi babi karena berbuat dosa ketika beribadah haji?”

Mata anakku membulat, terkejut atas apa yang ia dengar.

“Jangan takut, Sayang,” ucapku pelan, menenangkan. “Kita bersama Tuhan.”

Aku kembali menggandeng tangannya, menuntunnya untuk tawaf. Namun, baru beberapa langkah, pandanganku jatuh pada dompet yang tergeletak di  jalanan. Buru-buru kuambil dompet tersebut, takut terinjak. Dan ketika dompet itu sudah dalam genggaman, kudengar seseorang berteriak.

“COPE—“

Kulihat lelaki yang tadi menabrakku menjerit tertahan dan sedikit demi sedikit tubuhnya mengerut di sana-sini. Lalu dengan suara pop pelan, seekor babi telah menggantikan tempat lelaki tersebut.

Terima kasih Tuhan, kau telah menjauhkanku dari fitnah yang keji.

 

Advertisements

One thought on “Kutukan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s