Berubah

Kucium kemeja putihmu semalam, wangi. Menguar darinya bau minuman keras bercampur parfum mahal milik perempuan. Di kantungmu kutemukan secarik kertas bertuliskan nomor telepon seseorang. Ketika kau kutanya pagi ini, kau hanya mengelak. “Tak tahu,” ucapmu.

Aku resah, gelisah. Tak pernah lakumu penuh dusta seperti ini. Mengapa engkau berubah? Apakah karena anak yang tak kunjung datang dalam keluarga ini? Apakah karena habisnya kesabaran ayah dan ibumu atas kemandulanku? Apakah karena aku sudah tak lagi pantas menjadi istrimu?

Sakit, Tuan. Rasanya perih hati ini. Betapa dulu engkaulah yang tak pernah letih menyemangatiku kala air mata kecewa menderas hingga habis terkuras.

“Aku pergi dulu,” pamitmu tanpa benar-benar memandangku. Kuulurkan lengan kananku, meminta tanganmu. Namun kau tak acuh. Bukankah seharusnya kaugamit jemariku kemudian dapat kucium punggung tanganmu?

Lalu kau pergi begitu saja. Meninggalkanku yang hanya mampu mematung. Ke mana ucap salammu yang selalu menenangkan jiwa ini? Ke mana kecup manismu yang mampu membuat gejolak di dada ini? Ke mana, Tuan? Ke mana?

Aku resah, gelisah.

*

Malam ini kau pulang begitu larut. Rembulan pun seakan bosan menunggumu, namun tak begitu denganku. Berteman dengan secangkir pekat kopi dan dinginnya udara malam, aku menantimu.

Begitu banyak yang kupikirkan selagi mengharapkan kedatanganmu. Untaian janji, kerlip bintang, bunga melati, engkau, tetes darah, burung hantu, gerimis, engkau, tanah basah, dekap erat, kecup hangat, engkau, peluk erat, pelacur, retih lilin, engkau.

Ke mana engkau, Tuan? Apa yang sedang kau lakukan di luar sana? Mengapa kau matikan ponselmu? Bermain api kah kau?

Cepatlah pulang, Tuan, resah ini terbalut rindu.

*

Surya membunuh kelam. Benderangnya menusuk-nusuk kelopak mata hingga membuatku terjaga. Kini pagi tak lagi damai tanpa ada kau yang mendekapku. Sepi ini mencekik, terdera aku dibuatnya.

Dengan kepala pening, aku berjalan ke kamarku, kamar kita. Namun kau tak di sana. Ranjang yang seakan beku itu masih rapih, tak ada jejak-jejak kau telah menidurinya. Kecewa kini merayap, menelusup ke dalam jiwa. Air mata tak lagi bisa kubendung. Dalam keputusasaan, harus ke mana kau kucari?

Cepatlah pulang, Tuan, resah ini terbalut rindu.

*

Dalam ketiadaanmu, Matahari tetap kukuh berputar dan Bumi tetap keras kepala mengelilinginya. Semua tetap sama, namun tidak bagiku. Aku bingung, linglung. Jiwaku bagai hilang separuh, tersisa rapuh.

Kini tak ada lagi segelas kopi pekat penghalau kantuk. Ia tergantikan berbotol-botol minuman keras yang berserakan di mana-mana. Semua adalah bentuk pelarianku dari rasa kecewa. Frustasi kini menguasaiku. Air mata selalu sabar menemani di tiap-tiap malam tanpa dekapmu.

Aku takut kehilanganmu dan rasa takut itu menghantuiku. Muncul di setiap detak jantung, hadir di tiap-tiap hela napas. Semua ini terasa sinting, gila aku dibuatnya. Betapa mencintaimu tak kukira akan sesakit ini, seperih ini.

Aku rindu, Tuan, sangat. Tak rela diri ini jika harus kehilanganmu. Takkan ada artinya lagi semua. Bernapas tak lagi nikmat, bersuara tak lagi merdu. Bahkan surga pun sewarna kelabu jika tanpamu.

Ketika air mata ini hendak tumpah meruah, kudengar langkah kakimu.

Kau datang, tepat di malam ketiga semenjak kepergianmu. Kukumpulkan kesadaranku yang lama dilumpuhkan minuman nista yang kini mulai rajin kutenggak. Dengan langkah gemetar dan kepala pusing tujuh keliling, aku menghampirimu.

Kulihat kau terkapar di teras rumah dengan tampang menyedihkan. Iba aku dibuatnya.

*

Iba yang kurasa semalam menguap ketika kau merengek meminta berbotol-botol minuman keras esok paginya.

“Brengsek!” ucapmu tiba-tiba dengan suara menggelegar ketika aku terlalu keras mengusap lukamu. Kemudian kudengar caci makimu mengawang di telinga. Hilang sudah tutur halusmu, terganti kosakata kotor, sekotor hatimu kini.

Diri ini seketika tegang mendengar amarahmu. Baru kali ini kau berbicara kepadaku seperti itu. Kau mabuk, dan aku tak bisa menyalahkanmu atas tangan yang melayang menghantam pipiku. Perih. Kurasakan darah mengalir dalam mulutku, hangat.

Kemudian kau meracau tentang wanitamu yang lain. Yang kau agung-agungkan. Yang kau sembah serupa Tuhan yang kini kau lupakan. Mulutmu mengoceh tak terkendali, membuat hatiku serasa dirajam oleh setiap kata-katamu.

Air mata ini menderas. Tak lagi jatuh satu-satu tetapi mengalir bak sungai paling deras.

Tuhan, aku tak kuasa. Tak lagi ada daya yang kupunya.

Dengan kepala berkunang-kunang, aku berjalan ke arah dapur. Jemariku gemetar ketika merogoh-rogoh ke dalam laci berisi perkakas memasak. Getaran pada jemari ini membuatku membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan apa yang kucari.

Tiba-tiba kurasakan hangat yang selalu kukenal ketika kau memelukku. Dengan rengkuh eratmu, aku terbuai. Jemariku yang menggenggam pisau kini mengendur. Tuhan, apakah ini mukjizat?

“Linda, maafkan aku,” ucapmu penuh cinta, bahuku basah oleh air mata.

Dengan sakit hati yang tak lagi bisa kutahan, kuhunjamkan pisau itu tepat di dadanya.

Namaku bukan Linda, Tuan.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam hana2ndgiveaway : cerpen romance kehilangan.

Advertisements

One thought on “Berubah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s