Qi Xi (Malam Ketujuh)

Altair dan Vega bersinar teramat benderang di atas hamparan langit yang serupa permadani hitam. Kerlipnya manja terasa bagi merata yang menikmatinya, seakan-akan mereka tengah berasyik-masyuk setelah hampir setahun menahan berahi.

Gadis-gadis, tua dan muda, berharap-harap cemas ketika melihat keduanya, sembari dalam kepala kembali memutarkan sebuah dongeng tragis nan romantis tentang lelaki penggembala dan dewi penenun yang saling mencinta. Namun bahagia tak cukup dirasa, petaka tiba. Angkara kaisar langit tak dapat ditunda, tak mungkin reda. Dewi penenun dipaksa kembali ke langit, meninggalkan lelaki penggembala beserta anak-anaknya. Namun namanya juga cinta, lelaki penggembala tak terima, dikejarlah dewi penenun hingga ke langit. Namun tetap saja, tiada yang mampu menghentikan kuasa kaisar, maka dibuatkannya sungai seluas langit sebagai pemisah keduanya.

Mereka berdua menangis dan terus menangis hingga iba hati sang permaisuri. Lalu keputusan dibuat, mereka diperbolehkan untuk bertemu setahun sekali, tepat di hari ketujuh di bulan ketujuh.

“Sedang apa lu orang?”

Aku hapal suara itu, pun bau ciu yang menguar dari badannya, namun tak urung jua aku tersentak, kaget. “Tidak, Bah,” lirihku seraya menarik-narik ujung cheongsam yang kukenakan.

“Balik kerja! Lu orang memang pemalas, ha! Oe capek-capek ngasih makan lu dari kecil, malah mau kawin lari sama itu laki! Amsiong!”

Babah Tan kelewat mabuk, membuatku bergegas pergi sebelum botol ciu itu melayang ke kepalaku. Di ruang depan, kutemui beberapa lelaki yang menunggu dengan mata lapar. Aku tersenyum, dalam hati meringis. Harus kutunggu berapa tahun lagi hingga datang seorang lelaki seberani kamu untuk menyelamatkanku dari lubang dosa ini?

“Kerja! Kerja! Kerja!” seru Babah Tan makin lama makin jelas, membuatku segera bergelendot di pangkuan salah satu lelaki yang terlihat berduit.

Nantinya, kami berdua akan berakhir di ranjang, dengan aroma busuk Kalijodo yang mengawang.

*

“Kerja lu orang lumayan malam ini,” puji Babah Tan gembira seraya menghitung lembaran-lembaran rupiah di hadapannya. “Bonus lu orang bakal oe tambah.”

Kamsia, Bah,” jawabku pelan seraya menunduk. Namun, tak dinyana-nyana, sosoknya telah berdiri di hadapanku, memandangku buas.

“Kenapa lu orang, ha?” tanyanya lembut, namun kelembutannya itu tak sampai mata.

“Nggak, Ba. Ka-kalau boleh saya mau istirahat saja. Ca-capek.”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, tubuhnya sudah menekan tubuhku ke dinding. Babah Tan memang beberapa kali pernah memakaiku.  Test drive, guraunya tak lucu. Namun semenjak kejadian itu, aku lebih memilih menjauh darinya.

Cheongsam lu cakep. Tapi lebih cakep kalau dibuka,” desahnya tepat di telinga.

Aku panik. Mataku jelalatan mencari sesuatu untuk membela diri. Dan ketika pandanganku tertumbuk pada pisau buah di atas nakas, segera kumengambilnya lalu kuhunjamkan pisau itu tepat ke perutnya.

Namun gagal, ia mengelak tepat pada waktunya. Dan dengan ilmu bela diri yang ia punya, ia belokkan arah mata pisau tersebut hingga menembus jantungku.

Dalam kesadaran yang lambat laun makin memudar, aku mengerti. Babah Tan persis kaisar langit dalam dongeng yang telah begitu kejam memisahkan kami berdua. Dan serupa jua dalam cerita, permaisuri menjelma pisau yang kini membuatku dapat segera bertemu dengan kekasihku. Tidak untuk setahun sekali, namun untuk selama-lamanya.

Kemudian sempat-sempatnya aku mendengar diriku sendiri berkelakar; jadi ini yang dirasakan kekasihku dulu ketika dibunuh lalu dibuang ke Kali Angke. Bau.

*

Catatan

Ciu : Minuman keras khas Tionghoa

Cheongsam : Pakaian khas Tionghoa

Oe : Saya

Amsiong : Sialan

Kamsia : Terima kasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s