Selas

“Siap?” tanya Christ semringah. Aku hanya mengangguk, gugup. Sudah berminggu-minggu aku berlatih hingga kebas rasanya jemari kaki, seharusnya tak ada lagi yang patut kukhawatirkan. Tarianku sempurna.

“Kau yakin tidak akan ada wartawan yang memotretku kala tampil nanti?” tanyaku masih gugup.

Wajah Christ  menegang sebelum tegas menjawab. “Aku yakin. Petugas keamanan telah memeriksa semua penonton sebelum memasuki ruang pertunjukkan.”

“Syukurlah,” bisikku lirih. Christ tersenyum menenangkan dan menyuruhku untuk bersiap-siap sebab hampir tiba giliranku untuk menari di atas panggung.

Rasa gugupku seketika sirna ketika berada di atas lantai kayu berpelitur ini. Yang ada hanya bahagia. Aku menari begitu luwes, arabesque-ku sempurna, dan lamat-lamat terdengar oleh telingaku desah kagum dari para penonton ketika aku melakukan grand jete.

Namun ketika aku tengah berbahagia di surga pribadiku, ujung mataku menangkap sebuah kilasan cahaya dari sudut ruangan.

Sekali… dua kali… tiga kali…

Kurasakan darah surut dari wajahku, tubuhku limbung, dan yang kulihat untuk terakhir kali adalah seseorang yang tengah membidikku dengan kamera di tangannya.

Empat kali…

Lalu gelap.

*

Tangisnya telah usai, namun ketika teringat amarah kekasihnya karena ia telah mengacaukan pertunjukkan, dadanya memerih. Hanya Christ lah yang ia punya sejak kematian kedua orang tuanya. Dan ia tahu kalau ia harus meminta maaf pada Christ. Secepatnya.

Kemudian dengan tekad yang sudah bulat, ia putar arah mobilnya menuju kota yang ingin ia tinggalkan barusan. Semua tekanan batin yang ia rasakan hari ini membuatnya melupakan satu hal penting; ia tak boleh berkendara di malam hari.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Dari arah yang berlawanan, terlihat kilasan cahaya lampu milik sebuah mobil. Dan seketika ingatan tentang kedua orang tuanya yang mati tertabrak mobil membayang di pelupuk mata. Dengan panik ia menginjak pedal gas dalam-dalam, lalu membanting setirnya ke arah kiri. Menghantamkan mobilnya ke mobil di depannya.

Namun tak sama seperti dulu, kali ini ia tak selamat.

***

Selaphobia (from Greek selas, “light”) is the fear of flashing lights, a branch of photophobia. This phobia is often came about due to negative experiences involving flashing lights, like in urban legend flashing car lights leading to a deadly chase. Another cause is seeing flashing lights too often.

People with epilepsy are more prone to suffering this phobia, while sufferers with migraine are more prone to panic attacks.

Selaphobes would not drive at night and would not go to dance clubs. When in common place like at home, they would keep their eyes closed while in lighted room, or they would keep the lights off.

Advertisements

2 thoughts on “Selas”

  1. semoga selalu ada janji yang ditepati di setiap tulisan.
    satu kabar saja sangat berarti buat orang yang sedang gusar, takut kehilangan. aku tunggu kau menyalakan lilin di tempat lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s