Penis Merah Jambu

Lagi-lagi mereka berasyik-masyuk di pojok museum. Tubuh mereka menyatu dalam satu geliat, namun sayang, aku tak bisa mencegahnya. Tak takutkah mereka pada azab?

Mari kuceritakan.

Pada zaman dahulu, di kaki gunung Vesuvius, terdapat kota paling bejat se-Roma. Kota tempat para lelaki berlomba-lomba dalam bentuk dan ukuran penisnya sendiri. Semakin merah jambu dan besar, semakin dipuja.

Kompetisi penis merah jambu ini berlangsung bertahun-tahun, bahkan Kaisar Roma pernah berpartisipasi namun kalah. Penisnya terlalu kecil, kata juri yang langsung dieksekusi saat itu juga.

Lucius Cluentis menjadi walikota hanya karena memenangi kompetisi selama lima tahun berturut-turut. Dibawah kepemimpinannya, kebejatan semakin merajalela. Rumah bordil semakin marak dan sodomi di mana-mana.

Ironisnya, setahun setelah Lucius menjabat, gunung Vesuvius meletus dan membumihanguskan kota tersebut. Banyak yang mati membatu ketika sedang bersenggama. Azab Tuhan kilah ilmuan masa kini.

Tuhan Maha Tidak Asyik, ya? Karena-Nya aku hanya bisa membatu di museum dengan penis merah jambu yang masih ereksi. Pegal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s