Mejikuhibiniu

Pelangi. Tepat pukul tiga usai hujan yang tak tahu apa maunya. Kadang turun, kadang tak sama sekali.

Pelangi pukul tiga yang membawa anganku ke masa yang lama usai. Ketika gigimu tanggal dua, pun ingusku yang tak habis-habis kusesap.

“Pelangi!” serumu bahagia usai bermain hujan. Aku menengadahkan kepala, mencoba mencari apa yang kautemukan. Pelangi yang agak pudar itu hanya seperempat lingkaran lebih sedikit, namun tak surut jua indahnya.

“Tahu, gak? Pelangi itu punya berapa warna?” tanyamu. Aku menggeleng, tak tahu.

“Tujuh. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Disingkat mejikuhibiniu,” jelasmu sok pintar.

“Mejikuhibiniu?”

“Ya. Mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nikah yuk?”

Kemudian petang itu diledakkan oleh tawa membahana kelima kakakku.

*

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, dan faktanya rasaku masih ada dan semakin tumbuh.

“Selamat atas pernikahannya, ya?”

“Iya, terima kasih sudah datang.”

“Mejikuhibiniu.”

“Maksudnya?”

“Merah, jingga, kuning. Hih! Bilangnya nikah yuk! Cowok semuanya gombal!”

***

Advertisements

One thought on “Mejikuhibiniu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s