Keping 38.5 : Kisah Zeppelin Dan Balon Udara

Tugasku mengakar…

Matahari kelima…

Poros keempat…

Tiga teman…

Asko!

*

“Belon tidur, Bos?” tanya salah satu dari si kembar, Fadil, usai siaran. “Lesu amat!”

Kuusap-usap wajahku dengan telapak tangan demi mengenyahkan kantuk yang menggantung di pelupuk mata. “Iya, lagi banyak pikiran gue. Mumet!”

Dan semua hanya karena satu manusia yang baru saja keluar dari ruang siaran, pikirku.

“Bodhi!” seru si kembar berbarengan kepada seseorang di belakangku. Namun yang disapa hanya tersenyum singkat, balas menyapa, kemudian pergi dengan wajah linglung. Fadil dan Nabil terheran-heran. Tidak biasanya teman kami yang paling baik hatinya bisa seabai itu.

“Kenapa dia, Bong?” kali ini Nabil yang bertanya.

“Ngomonginnya di rumah lo aja, Bil. Yuk!”

Dan setengah jam kemudian semua kecemasanku, kekhawatiranku, rasa takutku telah kubagi sebagian kepada si kembar. Sudah kuceritakan igauan Bodhi setiap malam selama seminggu terakhir, tentang akar dan entah apa. Sudah kuberitahu tentang ekspresi tersiksa yang kadang terbit di wajahnya. Sudah kucurahkan tiap-tiap pedih yang lahir dari perihnya.

“Terus apa yang harus kita lakuin?”

Hening lama sebelum ponsel bututku berbunyi, ada sebuah panggilan masuk. Kutatap sebentar nama yang tertera pada layar. Jawabankah?

“Halo? Mpret? Gue… Gue butuh bantuan lo.”

Dan akan kulakukan segalanya untuk Bodhi. Segalanya agar perihnya sirna.

Sebab… aku cinta.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s