3 Things To Do Before I Die

“Hanya tersisa tujuh senja untukmu.”

*

Lelaki di hadapanku menyeruput kopi hitamnya dengan santai seakan dunia tak akan berakhir sebentar lagi. Dunianya, maksudku.

“Jadi, aku menginginkan koala,” ujarnya seusai mencecapkan lidah, mengakhiri penjelasannya tentang sakit yang diderita, dukun kampung mandraguna dan tiga hal yang ingin dilakukannya sebelum menuju tiada. “Lucu, kan?” lanjutnya seraya mengelus-elus koala di pangkuannya.

Aku memilih mengacuhkan kekonyolannya yang pertama karena masih ada dua sisanya.

“Lalu apa dua hal lagi yang kau inginkan sebelum… sebelum… mati?”

Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku, membuang detik demi detik sisa hidupnya yang seharusnya dapat ia gunakan untuk hal-hal lebih berguna. Apa saja selain mengelus-elus kepala koala.

“Aku ingin senja terakhirku dapat kuhabiskan bersamamu.”

Berdesir hatiku dibuatnya, persis seperti sepuluh tahun lalu.

“Bagaimana dengan yang ketiga?” tanyaku dengan pipi memanas.

“Setelah mengetahui kenyataan bahwa sisa hidupku tinggal tujuh kali senja, aku merenung. Lama sekali. Hingga habis jatah satu senjaku dipakai untuk berpikir. Kemudian senja keduaku kugunakan untuk memesan seekor koala. Kau tahu kalau koala itu begitu mirip denganmu, bukan? Lalu kupikir jika aku memeluknya seperti yang kuidam-idamkan sedari kecil, maka aku akan mampu berandai-andai tengah memelukmu.”

Kusesap secangkir susu milikku demi menghalau kisah-kisah manis yang nantinya berakhir pahit tentangnya.

“Kemudian di senja keempat, koala itu datang dan aku mampu memeluknya. Ia begitu mirip denganmu, hingga ke aroma eukaliptus yang menguar dari tubuhnya. Lihat!”

Ia mengangkat koala itu dan mendudukannya ke pangkuanku. Dengan mulut penuh daun eukaliptus, koala itu menatapku. Lekat. Dan sekonyong-konyong kutemui sejumput aku pada bola matanya, pada lengkung senyumnya, juga pada aromanya. Seperti bercemin pada entah apa.

“Memeluknya hanya menimbulkan keinginan untuk memelukmu lebih dahsyat lagi. Dan pada senja kelima, aku sudah berada satu kota denganmu.”

Kualihkan pandanganku dari koala itu ke matanya yang kini menatapku, persis seperti yang dilakukannya sepuluh tahun lalu.

Berdesir lagi hatiku untuk kedua kalinya.

“Sepuluh tahun dan aku masih bertanya-tanya, sudahkah kau memaafkanku?”

Kumainkan telunjukku di bibir gelas, memutar-mutarnya sebelum menjawab. Berbagai ingatan tentangnya yang kupepatkan ke dalam botol kemudian kubuang ke sudut hati kini berontak lalu hadir. “Jika hal terakhir yang kauinginkan adalah maaf, aku sudah memaafkanmu sejak dulu.”

Ia mendengus geli. “Di mana anakku?”

Tak pernah lima menit sebelum senja berakhir terasa begitu mencengkeram. Dada serasa dibetot. Bulu roma meremang hanya dengan melihat wajahnya. Kelebatan-kelebatan lakunya di masa lalu membuatku menggigil.

Jangan anakku!

“Mama?”

Pemilik suara yang baru saja berumur sembilan tahun itu muncul dari balik pintu. Dan lelaki di hadapanku segera menghampirinya.

Jangan! Jangan anakku!

Dan ingatan tentang setiap tamparannya kemudian kecup hangat sesudahnya mendorongku untuk segera menyusul lelaki itu. Lalu, setelah lima langkah lebar, kuhunjamkan pisau buah yang tadi berada di meja ke punggungnya.

Sekali…

Dua kali…

Tiga kali…

Lalu tiba-tiba tubuhku kini berada dalam dekapnya, di tambah lagi dengan miniatur dirinya saat berumur sembilan tahun.

“Untuk mencabut nyawa, Tuhan tidak perlu bantuan,” bisiknya ditelingaku. Berdesir lagi hatiku karena rindu.

“Dan teruntuk kamu jagoanku, selamat berulang tahun,” lirihnya lembut sesaat sebelum jatungnya meledak.

Ternyata itulah hal terakhir yang diinginkan oleh ayah yang tak dikenal anaknya.

Hanya sebuah ucapan selamat ulang tahun.

***

Advertisements

4 thoughts on “3 Things To Do Before I Die”

  1. Kisah yang sangat menyentuh, cuma aku agak bingung di endingnya. Pas pisau buah itu dihunjamkan, itu cuma bayangan tokoh utamanya atau beneran ditusuk ke punggung (mantan) suaminya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s