Tentang Partai

Aku belum pernah merasa begitu dekat dengan diriku sendiri seperti saat ini. Demikian, di pekuburan yang kini lengang dan sepi, aku mampu melihat sesuatu dalam diriku dengan jujur dan telanjang. Aku mampu melihat kilasan-kilasan balik dari hidupku; setiap dosa dan cinta yang kucipta.

Segalanya berawal dari rumah. Rumah yang dibanjiri cinta. Rumah yang tenggelam dalam canda serta suka tanpa duka. Rumah yang kami bilang bahagia.

Masa itu adalah masa yang sulit. Kami diharuskan puasa nasi karena beras aduhai mahalnya. Si bungsu yang giginya belumlah tumbuh pun harus ikut berpuasa. Emaknya merebuskannya singkong hingga lembek, hingga benyek. Walau hidup kian susah, namun kami tidaklah resah. Masih ada satu-dua canda yang terdengar dari bilik-bilik bambu itu. Kami masih bahagia, masih mencinta.

Namun nasib tak kunjung membaik. Kala itu yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kecemburuan sosial merajalela. Dan partai bergambar arit dan palu itu mulai melancarkan propagandanya.

“Agama adalah candu untuk meninabobokan kaum tertindas!” seru kader partai kala itu. Mulut mereka manis-manis, terbuai aku dibuatnya. Hingga kutanggalkan agama, kutinggalkan Sang Pencipta.

Sejak saat itu banyak bantuan dari kader dan anggota partai. Hidupku membaik. Nasi pun bisa kusantap tiap hari.

Namun kini rumahku terasa berbeda. Tak ada lagi puja-puja kepada Yang Maha Kuasa. Kularang Emak dan anak-anaknya, semua. Hati yang gelisah kuredam, tangan yang basah kugenggam.

“Apakah kau tahu jikalau kebahagiaanku terletak ketika kau berbicara kepada-Nya? Bukan pada nasi yang kelak menjadi tahi.”

Kulihat muka Emak memerah, marah. Kemudian kutampar ia satu-dua. Dan itulah kali terakhir perkara agama diucapkan di bawah atap rumah yang dulu bahagia.

Mungkin semuanya terlihat baik-baik saja. Aku kini mempunyai nama, hidup sejahtera dan segalanya sempurna. Namun di hatiku, di sudut-sudut paling terpencil, aku merasa kecil, kerdil. Setiap malam aku bangun dengan jiwa yang lelah atas rasa bersalah.

Berkali-kali keinginan untuk kembali berbicara atau sekedar menyapa-Nya dibunuh rasa setia kepada partai dan para anggotanya.

Lalu kemarin lusa, di awal Oktober enam-lima, desaku gempar. Istriku gelisah bukan kepalang ketika mendengar orang-orang kini dicari, termasuk aku. Mereka yang tertangkap langsung ditembak mati di tepi sungai Kali Baru, memerahkan alirannya.

Aku berhasil lari. Sudah dua hari aku di pekuburan ini. Berbaring di sela-sela nisan bertorehkan nama entah siapa. Memandang semesta, memikirkan setiap dosa dan cinta yang pernah kucipta.

Aku belum pernah merasa begitu dekat dengan diriku sendiri seperti saat ini. Demikian, di pekuburan yang kini lengang dan sepi, aku mampu melihat sesuatu dalam diriku dengan jujur dan telanjang. Mengutuki kekufuranku, mencaci ketamakanku.

Bukankah dulu aku biasa menikmati syukur dan mensyukuri nikmat?

Lalu aku menangis. Tersedu-sedu entah karena apa. Kemudian setelah sesak di dada reda, kuputuskan untuk kembali kepada-Nya.

Aku berdiri lalu berjalan ke sungai Kali Baru yang berada tak jauh dari pekuburan itu. Sesampainya di tepi, kuambil wudu. Air yang membasuh kulit terasa seperti mengopeki koreng-koreng dosa yang melekat di tubuh ini. Usai berwudu, kuhadapkan tubuh ini ke arah kiblat. Namun, sedetik sebelum takbiratulihram kulafalkan, terdengar suara derap kaki dari belakangku.

Ternyata mereka masih mencari orang-orang bekas anggota partai. Dan yang kutahu setelahnya, Kali Baru kembali memerah. Persis kemarin lusa.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s