Negosiasi Sebelum Mati

Sudah berapa banyak yang kautenggak?

Ini gelas keempat.

Masih sama pekat?

Masih sama pekat.

Sepahit malam?

Sepahit kehidupan.

Jangan apatis begitu.

Cukup! Urusi saja sana wanita-wanita ular lain! Kukira kau bersedia menemaniku barang segelas-dua gelas. Ternyata tujuanmu hanya untuk berkhutbah.

Jangan begitu, kau tahu niatku selalu baik.

Aku lebih suka bernegosiasi dengan partnermu.

Pun aku. Kaupikir aku menyembah-nyembahNya hanya untuk membujuk pelacur sepertimu?

Bukankah kau memang menyembah-nyembahNya?

Itu kiasan, tolol.

Partnermu selalu sopan kepadaku.

Maka sembah-sembahlah Dia agar Dia mengutus partnerku yang lebih kausukai.

Aku tak menyembah siapa-siapa.

Itulah salah satu dari begitu banyak ketololanmu yang pernah kucatat.

Untuk apa menyembah Dia?

Tidakkah kau ingin ke surga?

Tak terlalu. Di sana tak ada musik pop.

Tolol.

Serius.

Aku tahu. Makanya kusebut kau tolol. Atau kau memang terobsesi untuk ke neraka?

Mungkin. Di sana ada Ibu. Dan walaupun aku tak tahu ada bedanya atau tidak, di sana ada Ayah.

Bagaimana dengan suamimu? Tidakkah kau ingin bersamanya?

Tidak terlalu.

Bukankah kau mencintainya?

Pernah mencintainya, maksudmu?

Dia lelaki baik.

Lantas?

Lupakan saja. Dengar, walaupun kau kini hidup nyaman hasil dari kepicikanmu berpolitik, di sana nanti kau benar-benar akan dijadikan ular dan disiksa sepedih-pedihnya siksaan.

Sounds exciting.

Tuhan, hamba menyerah.

Sudahi saja, Tuan Malaikat. Kau tahu ini jalan yang telah kupilih. Kau selalu tahu.

Aku tahu. Karena kita begitu mirip. Jadi negosiasi ini usai?

Bisakah kau menyiapkan pendingin ruangan khusus untukku sendiri?

Mungkin. Akan kuusahakan. Anakmu pasti akan sedih.

Tu-tunggu… Anakku?

Dia telah lama menunggumu, kau tahu?

Ti-tidak mungkin…

Buku apa yang kaubaca sebelum aku datang?

The Old Man And The Sea

Jadi kau ingin renegosiasi?

Ya! Kumohon!

Kalau begitu, besok aku akan kembali lagi.

Terima kasih. Untuk… untuk segalanya. Dan tetap, aku lebih menyukai partnermu.

Sama-sama. Jadi… bolehkah aku tahu apa yang menjadi hidayahmu?

For sales: baby shoes, never worn.

Sudah kuduga.

***

Advertisements

5 thoughts on “Negosiasi Sebelum Mati”

  1. Komentarku kayaknya mirip dengan teman-teman lain (via fb). Dialog panjang tanpa narasi begini berpotensi membingungkan pembaca. Syukurlah kamu udah beri pembeda dialog (italic).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s