Sang Legenda

Ayam tetangga masih terkantuk-kantuk untuk berkokok kala wanita yang telah berkeriput itu memarkirkan sepeda tuanya. Matahari masih sibuk menguap, sibuk mengumpulkan nyawa ketika wanita itu berdiri di depan pintu ruangan, sesekali berbincang dan menyalami rekan sejawatnya. Udara pagi masih menyemai gigil, namun wanita itu telah sigap menasehati kami-kami yang abai terhadap peraturan.

Namanya Suprapti, Ibu Suprapti. Legenda yang dimiliki SD Negeri Bedahan 1. Kisahnya tak henti-henti dibicarakan dari mulut ke mulut, diceritakan dari generasi ke generasi.

Empat belas tahun yang lalu, ketika ‘Saras 008’ menjadi epidemi yang tak terelakkan, untuk pertama kalinya, aku dengan hati semringah memakai baju seragam sekolah putih-putih. Untuk pertama kalinya jua aku merasakan euforia yang meledak-ledak dalam perut, persis orang jatuh cinta.

Euforia yang membingungkan itu entah bagaimana mampu membuatku tersesat di lingkungan sekolah yang hanya mempunyai tiga gedung itu. Ketika gugup dan takut berkecamuk dalam kepala, kudengar suara lantang di belakangku.

“Kenapa kamu belum masuk kelas?”

Wanita itu begitu mungil dibanding guru-guru yang lain yang tinggi menjulang. Wajahnya penuh keriput, pun kulit tangannya. Kacamata membingkai manis manik cokelat indah miliknya. Namun sorot matanya menatap tajam, persis garuda.

“Aku lupa di mana kelasku, Bu,” jawabku pelan, takut.

Tatap tajam matanya seketika mencair, dan kemudian kutemukan hanya hangat di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu menggamit jemariku kemudian menuntunku ke arah sebuah kelas di ujung gedung.

Sesampainya di depan kelas, ia hanya menasihatiku sedikit agar selalu ingat di mana kelasku berada. Namun lebih dari itu, nasihatnya membekas lama, mungkin selamanya, beserta aroma eukaliptus yang menguar dari tangan keriputnya.

Berkesan selamanya, bukankah itu ciri-ciri seorang legenda?

Namanya Suprapti, Ibu Suprapti. Yang melegenda karena kebiasannya hadir bahkan sebelum penjaga sekolah tiba. Yang melegenda karena ketegasannya, kejujurannya, kedekatannya dengan para orang tua siswa. Yang melegenda karena kelembutan hati dibalik tegas lakunya.

Sampai sekarang, kala cuit burung gereja yang dijual seribu tiga digantikan cuit sosial media, Emak masih menyanjung sang legenda. Emak masih memuji dedikasinya, kedisiplinannya, kebersihannya selama menjalani profesinya. Emak masih sangat… mencintainya.

Namanya Suprapti, Ibu Suprapti. Legenda yang dimiliki SD Negeri Bedahan 1. Kisahnya tak akan hilang ditelan masa. Akan kupastikan anak-cucuku tahu jikalau pernah ada seorang legenda seperti dirinya.

Oh, iya, Bu Prapti, apakah wangi kesturi di sana mampu menyamarkan aroma eukaliptus yang menguar dari jemarimu?

***

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku” (http://lagaligo.org/lomba-menulis)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s