Mata Yang Mereka

Kukira kata-kata ‘aku ingin ke Monas’ kemarin akan sepenuhnya terlupakan hari ini, seperti biasa.

“Kamu ingat?”

“Ingatlah, Kang. Ayo kita ke sana!” ucapnya manja seraya menarik-narik lenganku.

“O-oke.”

Segera kusiapkan semuanya. Mulai dari bekal, makanan ringan, minuman, beberapa rupiah untuk akomodasi, dan lain sebagainya. Tak sampai sepuluh menit, aku pun usai menyiapkan segalanya. Kemudian dengan wajah semringah, ia segera menggamit jemariku erat.

“Kami pergi dulu. Assalamu’alaikum,” pamitku pada seorang nenek tua yang wajahnya penuh keriput. Manik matanya digenangi rasa khawatir, dibanjiri cemas.

Kami sudah jauh dari rumah tua yang seumur hidup menaungi kami ketika ia tiba-tiba bertanya dengan acuh tak acuh.

“Siapa dia, Kang?”

*

“Yang tadi kita naiki… apa ya namanya… hmm…” keningnya berkerut dalam, mereka-reka.

“Kereta?” ucapku berusaha menjawab pertanyaan dalam kepalanya.

“Nah! Itu dia! Kereta!” serunya riang lalu tertawa, membuatku ikut-ikutan geli tertular tawanya. Saat itu ia begitu semangat setelah menjejakkan kaki di stasiun Juanda, yang berarti jua menapaki kota Jakarta.

Jakarta kini semakin menarik. Sungainya dipenuhi sampah-sampah cantik. Orang-orangnya begitu rupawan namun hatinya burik. Mungkin sudah hilang tutur kata baik, atau sekadar beramah-tamah menjadi perkara pelik.

Sesampainya di pintu masuk Monumen Nasional, Monas, kuajak ia berfoto bersama ondel-ondel yang berdiri mengapit pagar besi.

“Matanya seram,” ujarnya gugup sehabis berfoto dengan satu yang berwarna merah yang menurutku memang menakutkan. Aku hanya tertawa sebagai respon atas ucapannya, malu terlihat takut.

“Kang, kamu ingin kuantar menemui orang-orang yang matanya enak dipandang bukan?”

Aku mengiyakan tanpa mengerti makna dari kata-katanya. Setelah itu ia menarik lenganku kuat-kuat kemudian menggiringku ke rombongan turis dari negara lain.

Mata mereka enak dipandang, benar. Namun biru serta hijau itu terlihat begitu asing, terlihat bukan seperti mata manusia. Dan setahuku hanya ada sepasang mata yang mampu membuatku begitu jatuh cinta.

Matanya.

“Yuk,” ajakku pelan menuju tugu Monas.

“Mau ke mana kita, Kang?”

“Ke Monas, bukan? Seperti pintamu kemarin?”

“Oh.”

Keningnya berkerut dalam, lagi, mereka-reka untuk kesekian kalinya.

*

Satu per satu enyah, hilang ke mana entah. Kereta yang membawa kami pergi, kolam ikan, aspal hitam, gerobak mi ayam, Ciliwung yang membentang dari kampungku hingga Jakarta, polisi, kuda yang menarik delman, serta beberapa lagi yang tak mampu kuingat.

“Wajahmu begitu pasi. Sudahi saja, nanti kita ke sini lagi. Bersama Ibu pasti lebih menyenangkan,” bujukku pelan.

Ketakutan serta mimpi burukku makin besar seiring dengan banyaknya kata-kata yang hilang maknanya dalam kepala. Kepalanya. Kepala gadis yang paling kucinta.

Gadisku menggeleng pelan sebelum ia limbung dan jatuh menghantam lantai beton, membuat geger seluruh antrian untuk menaiki lift ke puncak Monas.

Perlu waktu sepuluh menit dan wangi tajam eukaliptus untuk membuatnya siuman. Mata cokelat hangatnya sesaat menatap langit-langit ruangan, mengerjap-ngerjap bingung. Dalam keadaan paling mengkhawatirkan seperti ini pun, sudut kecil di pikiranku menganggap bahwa matanyalah yang paling paling enak dipandang, paling nikmat ditatap lekat.

Kemudian matanya yang terbuka menatap nyalang milikku, membuatku mendesah lega dalam hati.

“Siapa kamu?”

Dan mimpi terburukku baru saja dimulai.

***

Advertisements

5 thoughts on “Mata Yang Mereka”

  1. Aku suka idenya. Cuma plotnya masih sedikit membingungkan. Salah satu kelebihanmu adalah cakap dlm pemilihan diksi yang berima, tpi di sini sedikit dipaksakan, kurasa akan lebih baik jika memperdalam alasan si Akang benar2 sayang (aside from matanya ya), krn itu menurutku bs membantu kita ngerasain kehilangannya si Akang. 🙂

    1. Terima kasih bang sudah diapresiasi, hehe. Segitu sudah 450 lebih kata, susah dipadatkan sepadat-padatnya, tp masih ada yg miss ya ternyata. Kedepannya lebih baik lagi. Sekali lagi maaciw binggow sudah diapresiasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s