Salamander

Bola matanya yang menyembul keluar kini memerah, kuduga ada pembuluh darah yang pecah di baliknya. Wajahnya membiru. Giginya bergemeletuk. Dadanya naik-turun ketika ia setengah mati menggapai udara.

Kemudian ia berbisik meminta tolong, namun tak seorang pun dari kami yang mampu berbuat sesuatu. Sudah habis daya, sia-sia berupaya. Bisikannya semakin lama semakin lirih hingga lenyap seiring dengan gemeletuk giginya.

Lalu ia mati.

*

Mati karena keracunan oksigen adalah lumrah bagi Salamander—Peri Api. Kami memang ditugaskan untuk memelihara atmosfer, menjaga agar semua makhluk di Bumi bisa hidup normal walau Matahari kini menua.

Salamander mampu mengatur jumlah oksigen dan iklim, menyaring radiasi, serta menjaga suhu di Bumi. Namun di balik semua perbuatan mulia yang kami lakukan, hanya ada siksa yang kami terima sebagai balasan.

Kami terpaksa hidup di bawah atmosfer yang lebih tipis dibanding atmosfer di Bumi. Atmosfer kami terdiri dari 70% oksigen dan 29% nitrogen. Dengan jumlah oksigen yang sebegitu banyak, mengakibatkan sel-sel kami menjadi rusak dan paru-paru mengalami pendarahan. Oleh sebab itu tak heran jika hampir setiap minggunya ada saja yang mati.

Di kota ini kami diharuskan minum dari sisa-sisa air yang disuling oleh Undine—Peri Air. Serta makan makanan basi yang harus dijatah sedemikian rupa agar tetap cukup sampai persediaan makanan dikirim lagi oleh Norm—Peri Tanah.

Dan para penguasa masih mengira ini Utopia?

Tahi anjing!

Aku memaki kesal sehabis pemakaman kakakku. Kakak satu-satunya. Kakak yang amat kucinta. Dia lah alasan mengapa aku masih bertahan walau hidup kian sulit, semesta kian menghimpit.

Berjuta kali aku berharap kiamat yang dulu terjadi akan merenggut tiap-tiap yang bernyawa, menyisakan hanya tiada. Namun aku salah. Apa yang dulu disebut Tuhan ternyata tak berbelas kasih. Ia sisakan sebagian orang-orang paling tamak, kejam, dan picik untuk mempimpin kembali Bumi ini.

Sedangkan kami, warga kelas dua, harus bekerja mati-matian demi memuaskan kebutuhan para diktaktor busuk itu.

Hidup memang tak pernah adil.

*

“Kami akan melenyapkan seluruh atmosfer,” ucapnya dingin.

“Ap-Apa?! Untuk apa?”

“Melenyapkan Bumi.”

“Me-mengapa?”

“Sudah lebih dari seribu Salamander telah mati hanya untuk menjamin kelangsungan hidup para diktaktor itu. Masihkah kau mempertanyakan alasannya?”

“Lalu bagaimana dengan kita? Ini akan menjadi tindakan bunuh diri! Rencanamu yang bodoh ini akan merenggut nyawa-nyawa tak berdosa!”

“Para pemimpin Peri telah setuju. Sebenarnya aku pun tak membutuhkan persetujuanmu. Kau hanya perlu tahu.”

“Bagaimana dengan Ibu?” tanyaku histeris. Tak mungkin ia melenyapkan seluruh manusia. Tak mungkin ia melenyapkan Ibu. Takkan pernah mungkin.

“Aku tak peduli,” ucapnya dingin. Kata-katanya terasa setajam es hingga menyayat-nyayat hatiku, membuatku dihantam kelu. “Ia telah lama mati.”

Ia telah lama mati.

Ia telah lama mati.

Kata-kata itu berdengung tiada henti di kepalaku. Hilir-mudik tak sudah-sudah. Kurapalkan dalam bisu layaknya mantra.

Ia telah lama mati.

Banyak yang aku tak mengerti di akhir hidupku ini. Tentang sakit hati Ayah. Tentang kakakku yang mati ketika berusaha menjemput Ibu. Tentang Ibu yang memilih hangat peluk para diktaktor busuk itu daripada dekap penuh kasih milik Ayah.

Dan aku tak pernah mengerti tentang cinta. Namun ia kini enyah, lenyap sudah. Tak lagi bercokol di hati Ayah. Hilang dibawa kakakku ke mana entah.

*

Advertisements

One thought on “Salamander”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s