Yang Terbaik Untuk Yang Tersayang

Kupacu motorku bak memacu kuda hitam. Kutarik pedal gas sedalam-dalamnya demi sampai di tempat itu tepat waktu. Tempat yang selalu kutakuti sejak kecil. Tempat yang telah merenggut segalanya dariku kecuali sepi dan sendiri. Tempat terakhir aku melihat mayat Ayah dan Ibu.

Aku berlomba-lomba bersama jarum jam yang dengan lancang terus berputar, tak berbelas kasih. Seandainya mampu kupecundangi waktu, maka segalanya takkan seperti ini, takkan semengerikan ini. Hatiku serasa dilumat hingga menyerpih perih ketika kutahu kau mencoba pergi.

“Tuhan, kumohon…” bisikku lirih kepada pekat malam, berharap Tuhan mendengar doa-doaku dan lantas mengabulkannya.

Udara malam seakan menggigit tiap-tiap yang berkulit, tetapi untunglah aku memakai jaket tebal sehingga tak perlu kurasa dinginnya angin malam yang menderu menamparku. Helm yang kauberikan pun mampu menjaga agar pipiku tetap hangat. Entah helmmu atau air mata, aku tak tahu.

Kemudian bisa kulihat dari jauh rumah sakit yang menjadi tujuanku.

“Nona, bertahanlah! Kumohon!”

*

“Tante?! Bagaimana keadaan Nona, Tan?” tanyaku gegas kepada wanita yang rambutnya sudah memutih dimakan usia. Wajahnya pucat, letih. Ia hanya mengenakan baju tidur sederhana serta jaket untuk menghalau dingin.

“Alhamdulillah. Masa kritisnya sudah lewat. Tetapi sampai sekarang Nona masih belum siuman,” ucapnya dengan suara bergetar. Kulihat manik hitamnya mengembun, bibirnya tremor.

Alhamdulillah, ya Allah. Mendengarnya membuatku lega tak terkira. Kupeluk Tante Noura lalu kuelus-elus punggungnya, seraya membisikan kata-kata penghiburan untuknya. Dalam pelukku, bisa kurasakan tubuh Tante Noura berguncang-guncang pelan karena terisak.

“Kenapa Nona bisa sampai celaka, Dit?” tanya Tante Noura di tengah sedu-sedannya.

Aku terdiam lama, berpikir, sebelum menceritakan segala yang kutahu.

*

“Dia nggak sesayang itu sama lo, Non!” teriakku padamu yang berjalan dengan langkah cepat di depanku.

“Dia sayang sama gue, Dit! Dan lo nggak boleh berprasangka buruk sama dia!” balasmu dengan nada sama tinggi. Kini kita sudah hampir tiba di gerbang kampus. Di seberang jalan, bisa kulihat sosok pemuda slengean dengan motor gede yang ditungganginya. Lalu kusadari tak ada satupun helm yang ia bawa.

“Lo nggak boleh jalan sama dia, Non!”

“Gue bisa jalan sama siapa saja yang gue suka, Dit! Lo bukan siapa-siapa gue! Lo nggak punya hak ngelarang gue berbuat sesuatu yang gue inginkan!”

Bukan siapa-siapa?

“Gue kira lo sahabat gue, Non!”

“Memang! Sampai lo ngerusak hubungan kita gara-gara sifat lo yang suka ngatur-ngatur itu.”

“Lo itu nggak pernah tahu kalau gue cuma ingin yang terbaik untuk lo! Lo nggak pernah tau!”

Kalimatku akhirnya mampu menghentikan langkahmu, tepat di depan gerbang. Selama beberapa detik kau hanya berdiri diam dan tak bersuara. Aku menunggu. Kemudian dengan pipi basah, kau berbalik menghadapku.

“Itu dia masalahnya, Dit. Gue nggak pernah tahu. Nggak pernah benar-benar tahu,” ucapmu lirih namun masih dapat kudengar di tengah bisingnya kendaraan yang berlalu-lalang.

Aku terdiam melihat lakumu yang tiba-tiba berubah. Kau kini terlihat begitu sendu, begitu sedih.

Begitu… terluka.

“Gue nunggu, Dit. Nunggu. Dan akhirnya gue sadar.”

Lalu kau pun memalingkan wajah dan bergegas pergi. Pergi meninggalkanku yang bingung setengah mati. Meninggalkanku dengan perasaan yang harusnya kuungkapkan sejak dulu. Perasaan yang tadi sudah berada di ujung lidah.

Perasaan bahwa aku mencintaimu. Sangat.

Tetapi sayang, cintaku harus berlabuh pada kamu, sahabatku sendiri. Dilema yang kurasa tak pernah begini berat, begini pelik.

Malam itu, di tengah sesatnya labirin pikiranku sendiri, telepon genggamku berbunyi nyaring. Kabar dari salah seorang teman sukses membuat hatiku mencelos ke lantai. Hancur. Berserakan.

Kau mengalami kecelakaan, ucapnya dari seberang sana.

*

“Kita mau ke mana?”

Aku tak langsung menjawab, hanya tersenyum kecil penuh rahasia.

“Dit, kita mau ke mana?”

“Ssttt! Bawel! Duduk saja yang tenang.”

Lalu kau memukul pelan, membuatku tertawa. Seperti telah bertahun-tahun lamanya sejak aku tertawa lepas seperti ini. Musibah yang menimpamu seakan merenggut semua kebahagiaan dalam hidupku. Namun semua yang telah terjadi biarlah terjadi, yang terpenting saat ini adalah kau bersamaku. Dan akan kubuat itu menjadi selamanya.

“Sudah sampai,” ucapku pelan seraya menghentikan motor Karisma 125-ku yang telah menjadi sahabatku selama sepuluh tahun. Benar-benar motor yang tahan banting. Motor paling tangguh menurutku.

Aku melihatmu begitu kesusahan melepas helm dengan hanya satu tangan, oleh karenanya kubantu kau melepas helmmu. Sedetik setelah helm itu tak lagi menutupi wajahmu, mata kita bertemu.

Dan baru kusadari kalau matamu berwarna cokelat, bukan hitam. Seketika suasana berubah canggung dan dapat kurasakan wajahku memanas hingga ke pangkal rambut. Lalu aku berdeham demi mencairkan suasana.

“Taman kanak-kanak?” tanyamu heran, samar-samar kulihat pipimu masih menyisakan semburat merah.

“Iya. Yuk!”

Kuberanikan diriku menggamit tanganmu yang tidak terbalut gips. Seketika itu juga kurasakan aliran listrik yang terasa menyenangkan merayapi telapak tanganku yang kini menggenggam jemarimu.

Sesampainya di dalam gerbang kita disambut oleh para guru TK yang sangat ramah. Mereka memperbolehkan kau dan aku bermain bersama murid-muridnya. Awalnya terasa sangat canggung, namun para guru yang baik hati itu membantu kita untuk dapat membaur dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan.

Tak lama setelah perkenalan kau dan aku, banyak anak-anak yang sudah lengket denganmu. Lalu ketika kita dikumpulkan di lapangan, beberapa anak saling berebut demi bisa duduk di sampingmu. Kericuhan yang kau buat membuat bapak-bapak dari pihak Kepolisian yang baru saja datang serta ibu-ibu guru terkekeh geli.

Akhirnya suasana telah memungkinkan diadakannya penyuluhan tentang ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’. Bapak-bapak dari Kepolisian memberikan kita informasi yang menyenangkan dan mudah dicerna. Beberapa kali kulihat kau tertawa gembira dengan salah satu anak-anak yang duduk di pangkuanmu.

“Nah, adik-adik bisa lihat. Kakak Nona itu kecelakaan karena dia tak tertib pada saat mengendarai sepeda motor. Kepalanya luka karena tak memakai helm. Tangannya lecet  dan patah karena tak memakai jaket serta pelindung siku. Lihat kakinya, ada luka bakar karena terkena knalpot motor sebab Kakak Nona tidak memakai celana panjang.”

Bisa kulihat wajahmu bersemu kembali, kali ini karena malu. Kulihat anak-anak di sekelilingmu menatap takjub sosokmu. Bahkan ada seorang anak yang memberanikan diri menyentuh gips pada tanganmu.

“Adik-adik, kita harus selalu tertib dalam berkendara agar diri kita dan orang-orang yang kita sayangi merasa aman dan selamat sampai tujuan. Mengerti?”

“Mengerti, Pak!” seru semua anak dengan serempak.

Setelah itu penyuluhan berakhir dan kita terpaksa pergi. Hampir semua anak merasa sedih melepas kepergian kau dan aku. Bahkan beberapa anak menangis ketika engkau berjalan menjauh.

“Menyenangkan sekali,” ucapmu sumringah.

Aku tak membalas ucapanmu dan memilih menyodorkan helm kepadamu. Kau memberengut sebal ketika aku tak menjawab. Namun bisa kulihat raut mukamu segera berubah menjadi terkejut ketika sebuah benda jatuh dari dalam helm yang akan kau kenakan.

Kau mengambil kotak kecil berlapis beludru itu lalu membukanya.

“Karena seseorang yang sayang sama lo, bakal selalu melakukan yang terbaik buat lo.”

Aku berujar pelan seraya mengambil cincin emas dalam kotak kecil tersebut lalu memasukkannya ke jari manismu.

“Will you marry me?”

Matamu berkaca-kaca. Suaramu bergetar ketika menjawab

“I do.”

Dengan penuh rasa syukur, kukecup keningmu dan kupakaikan helm ke kepalamu.

Karena seseorang yang sayang padamu akan selalu melakukan yang terbaik untukmu.

***

Personal Note :

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’

#SafetyFirst diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s