Mendamba

Aku mendambamu.

Sepenuh hati, segenap jiwa. Betapa banyak yang kukorbankan demi bersamamu. Teman-temanku, keluargaku, diriku sendiri, bahkan Tuhan.

Aku mendambamu.

Walau memar biru di sekujur tubuh karena amarahmu. Meski sobek di ujung bibir hasil tamparanmu. Bahkan ketika terkucur darah serta pedih perih sebab kau dera, aku akan tetap mendambamu.

Persis Bulan yang selalu menginginkan Bumi. Tulus. Tak bersyarat.

Tak cukupkah, Tuan?

Kini kau berdiri di sana, di atas altar. Tak pernah kulihat senyummu selebar itu, sesumringah itu. Wajahmu merona, memerah ketika menatap ke dalam matanya. Bergetar suaramu ketika berucap janji. Janji yang dulu kukira akan kauucapkan untukku.

Kini kau begitu… bahagia.

Aku tersenyum dalam asin air mata yang tak kuseka. Tak merasa malu karena terlihat saru di antara tangis hadirin lainnya. Kemudian dalam ingar-bingar tepuk tangan, aku berbisik.

“Matahari.”

Kuelus-elus gundukan kecil pada perutku dengan penuh kasih. Percuma menamakannya Bulan seperti namaku. Karena aku tahu, Bumi akan selalu mendamba Matahari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s