Tarsah

“Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.”

Kalimat itu terukir di atas kayu yang sekelam malam, sewarna obsidian. Kayu berumur ratusan tahun itu membingkai sebuah cermin yang berukuran setinggi orang dewasa. Permukaannya kotor, penuh debu.

“Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.”

Kalimat itu kini terngiang-ngiang di telingaku. Menciptakan gaung tak berkesudahan. Rasa penasaran ini tak dapat  kutahan lagi. Peringatan Kakek Al tentang barang-barang aneh miliknya di gudang tak kuhiraukan.

“Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.”

Kalimat itu seakan berbisik lirih ketika aku membersihkan setiap inci permukaannya. Suaranya dalam, penuh kebijaksanaan. Membuatku membayangkan seorang kakek tua berjenggot putih keperakan, dengan iris sebiru langit serta jubah panjang bermotif lucu.

“Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.”

Cahaya dalam gudang tak begitu terang, membuatku harus meraba-raba sepanjang dinding untuk menemukan sakelar lampu. Setelah menekan sakelar tersebut, lampu gudang mampu memberikan penerangan walaupun tak terlalu benderang.

“Apa yang kau lihat, Nak?” tanya Kakek Al tiba-tiba.

Aku tersentak, kaget. Sesuatu di dalam cermin juga tak kalah mengagetkanku.

Aku berdiri, sedangkan Kakek Al terkapar di lantai dengan wajah bersimbah darah. Kemudian kusadari, iris hijaunya ada dalam genggamanku. Iris yang kudamba. Iris yang hanya dimiliki cucu-cucu kandungnya.

Advertisements

3 thoughts on “Tarsah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s