AS-784

Aku tak pernah memikirkan bagaimana aku akan mati—meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini—tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah membayangkan akan seperti ini.

*

Tahun AS-784

Planet Mosfire yang berada di galaksi EGS-258-1 ini telah menjadi ladang konflik. Osmodium Rennin yang telah lama diburu manusia Bumi akhirnya ditemukan di planet yang jaraknya berjuta tahun cahaya dari galaksi Bimasakti. Sayangnya unsur tak ternilai itu dikuasai makhluk luar angkasa yang tak lagi kami sebut ‘Alien’, tetapi ‘Jiwa’.

Aku adalah bagian dari pasukan elit yang dikirimkan pemimpin tertinggi di Bumi untuk merebut Osmodium Rennin dari tangan ‘Jiwa-jiwa’ itu. Namun naas, pasukan kami disapu bersih oleh para penduduk asli. Dan hanya butuh waktu lima menit untuk mengalahkan kami semua.

Selama waktu lima menit itu aku tak mengerti apa yang tengah terjadi. Debu dan asap berputar-putar di udara, membutakan pandangan. Layaknya iblis Kamaitachi yang dulu sempat menggemparkan masyarakat Bumi, mereka menghabisi kami, tanpa sisa.

Aku terkapar, tersayat-sayat. Anyir darah membaui udara. Mayat-mayat bergelimpangan di kiri-kananku. Aku selamat, namun kematian terus mendekat. Kematian yang kumaksud adalah para ‘Jiwa’ yang memenangi pertempuran ini.

Mata mereka yang bulat dan hanya satu menghujam milikku. Hilang satu-dua detak jantung karenanya. Gentar aku, gemetar. Aku takut. Kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?

Tuhan?

Cih! Tuhan telah lama mati! Kami bunuh ia dengan logika!

Teringatku masa di mana nenek moyangku dinyatakan selamat setelah ‘Hari Seleksi’. Pada hari terakhir bulan Desember tahun 2099 itu, pemimpin tertinggi Bumi mengumpulkan semua manusia lalu menanyai mereka satu per satu.

“Apakah kau percaya Tuhan?”

Lalu mereka yang menjawab ‘Tidak’ dibiarkan hidup dimanapun mereka mau. Sedangkan yang menjawab ‘Ya’ harus rela mati dipenggal, direndam minyak panas, atau dipasangi bom di dadanya hingga meledak menjadi gumpalan kecil daging.

Kakek moyangku menjawab ‘Ya’ dan kini ia hanya berupa daging usus yang telah kami awetkan. Nenek moyangku menjawab ‘Tidak’ dan berhasil selamat. Setelah itu tidak ada tahun 2100, yang ada hanyalah AS-1. Dan sejak saat itu Tuhan resmi mati.

Tangan salah satu jiwa yang hitam legam dan serupa capit kepiting itu menjepit leherku keras, kemudian mengangkatku. Sepuluh senti kakiku melayang di atas tanah. Iris mataku jatuh pada wajah ‘Jiwa’ itu. Wajah yang melulu mata dan hanya ada dua helai kumis serupa belut yang menghiasi keburukrupaannya. Aku takut.

“Apakah kau percaya Tuhan?”

Ia bertanya keras. Suaranya sengau. Entah dengan apa dia berbicara karena tak kutemukan celah sempit serupa mulut di wajahnya.

Adrenalin yang menderas membuatku berpikir lebih cepat. Deja vu atau bukan aku tak tahu. Teringatku kepada kekasihku. Dia yang mati-matian menghidupi Tuhan sendirian namun tak kupedulikan.

“Ya.”

Mulutku berucap secepat otakku berpikir. Kalau benar Tuhan telah dihidupkan kembali oleh kekasihku, maka aku berdoa kepadanya agar memberikanku kesempatan lagi. Kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Kemudian terdengar gemuruh, lalu suara berdesing yang sangat keras. Satu meteor jatuh ke planet ini. Diikuti berpuluh-puluh meteor lainnya yang berukuran sebesar Bulan milik Bumi.

Inikah pertolongan Tuhan yang baru saja kupinta?

Kemudian hujan meteor yang seakan tak mengenaliku itu, menghantamku keras.

Lalu aku mati.

Sia-sia kuberdoa, ternyata Tuhan telah lama mati.

***

Advertisements

10 thoughts on “AS-784”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s