Sebegitu Malunya

“Bagaimana ini, Pak?”

“Aku pun tak tahu, Bu.”

“Tapi beras sudah habis, ikan yang biasa kau tangkap pun kini tiada, mau makan apa kita?”

“Aku mengerti, Bu. Nanti malam akan kujala ikan-ikan itu. Kali ini pasti dapat, aku janji takkan pulang dengan tangan hampa.”

“Ikan-ikan itu belum pasti bisa kau tangkap, Pak. Kalau tidak, mau dikasih makan apa si Wulan?”

“Akan kuusahakan, Bu. Sudahlah, aku lelah.”

*

Malam itu seperti malam-malam seminggu terakhir, tak seekorpun ikan dapat kujala. Nihil. Dengan frustasi kubanting capingku ke atas pasir sesaat setelah perahuku berlabuh.

“Bagaimana ini?” bisikku lirih. Aku jatuh terduduk di bawah pohon cemara di bibir pantai, kalut menguasaiku.

Sudah beberapa hari ini kami sekeluarga makan tak kenyang, tak nikmat. Makin hari makanan yang bisa kami makan jumlahnya makin sedikit hingga akhirnya habis. Alam pun seakan tak berbelas kasih. Tumbuh-tumbuhan tiba-tiba mandul, tak berbuah. Laut membisu, seperti ditinggal para penghuninya.

“Bagaimana ini?” bisikku penuh nestapa.

Tak mungkin lagi aku berhutang, sudah terlalu menumpuk. Bukittinggi pun kalah jangkung. Bisa habis aku disemprot oleh Uni Ida kalau berani menadah tangan sekali lagi. Bahkan lepau Ajo Chandra pun kini tak mau lagi berurusan denganku.

“Macam berurusan dengan koreng, tak ada habisnya!” serunya keras waktu itu seraya menghantamkan tangannya yang penuh koreng ke meja.

“Bagaimana ini?” bisikku putus asa.

Terik matahari saat itu menjadi saksi betapa lemahnya aku ketika berhadapan dengan air mata.

*

Bapak pulang dengan tangan kosong siang itu, terlambat empat jam dari biasanya ia selesai melaut. Lagi-lagi tak satupun ikan yang berhasil ia tangkap. Bibirnya bergetar saat menggumamkan maaf. Kulihat matanya memerah, sembab.

Aku tak mendesaknya seperti kemarin-kemarin, cukup sudah. Aku tahu ia sudah berjuang sekuat tenaga. Entah sebanyak apa keringat yang telah mengucur di wajahnya yang hitam terbakar matahari, bukti kerja kerasnya.

Bagaimana ini?bisikku dalam hati. Perutku masih sanggup walau hanya dicekoki air tanpa nasi. Tapi bagaimana dengan Wulan? Wajahnya semakin hari semakin tirus. Tulang-tulangnya mulai menonjol walau tak sampai merobek kulit. Semalam pun perutnya lah yang merobek kesunyian dalam gulita.

Aku hanya bisa menangis dalam diam mendengarnya.

Bagaimana ini? Bisikku lagi. Aku tak lagi punya sanak saudara, pun suamiku yang lama sebatang kara. Tetangga-tetangga kami sudah susah dimintai tolong karena sedang sama sulitnya. Kami benar-benar tak tahu lagi harus meminta ke mana? Ke siapa?

Tuhan seolah membisu, gagu. Doaku tiap malam seperti dianggap angin lalu.

Bagaimana ini?

*

Aku lelah, lapar. Sekolah hanya membuat perutku yang melilit makin sakit. Setengah porsi ketupat sisa temanku tadi pun tak mampu mengganjal perutku lebih lama. Kuharap, siang ini Bapak mendapatkan hasil dari melaut. Tak melimpah pun tak apa, yang penting cukup untuk mengisi perut kami bertiga.

Aku lelah, lapar. Panas matahari membakar tengkukku sepanjang perjalanan pulang. Pepohonan yang biasa menaungiku di bawah rindangnya pun kini meranggas, hampir mati. Entah apa yang diinginkan alam beberapa bulan terakhir. Kami manusia dibuat menderita. Mungkinkah kemarau sulit ini adalah sebuah pembalasan dendam oleh alam?

“Wulan!”

Aku berhenti melangkahkan kaki, seseorang telah memanggil namaku. Kemudian suara yang sama meneriakkan namaku untuk kedua kalinya. Kutengok sekeliling, pandanganku jatuh pada wanitayang cantik menawan. Ternyata ia Ibuku yang tengah memakai pakaian terbaiknya. Kulihat beliau sedang duduk berhadapan dengan seorang pria.

“Wulan! Kemari, Nak!” serunya seraya melambai ke arahku, menyuruhku untuk segera menghampirinya.

“Assalamualaikum, Bu,” salamku setelah tiba dihadapannya, kemudian aku menggamit tangannya dan menciumnya.

“Waalaikumsalam. Nak, kenalkan, ini Datuk Rangkayo Tangah. Datuk, ini Wulan, anak tunggalku,” ucap Ibu seraya memperkenalkanku pada pria tersebut. Sosok Datuk Rangkayo Tangah di mataku sama seperti orang-orang tua biasanya. Kulitnya keriput, hingga pipinya terlihat menggayut. Matanya sayu. Bibirnya ungu hampir hitam.

Kemudian aku menggamit tangannya lalu menciumnya, sebagai tanda hormat kepada seseorang yang lebih tua. Kurasakan tangannya kasar dan berkeriput, juga terendusaroma tembakau yang sangat kuat. Baunya memuakkan

“Sudah makan?” tanyanya lembut seraya tersenyum. Aku tak suka senyumnya, pun bau napasnya yang menerpa wajahku.

“Belum, Datuk,” jawabku pelan.

Lalu ia memanggil salah satu pelayannya yang kemudian menggiringku masuk ke dalam rumah, ke arah ruang makan. Di atas meja makan telah terhidang sebakul besar nasi dan berbagai macam lauk pauk. Mual yang baru saja kurasa sirna, air liurku terbit seiring aroma lezat makanan yang menerpa hidungku.

Pembantu sang Datuk yang menyeramkan tadi mempersilakanku untuk makan. Tanpa berpikir dua kali, aku segera menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke atas piringku.Makanan yang dihidangkan terasa sangat lezat bagi perutku yang dibiarkan kosong selama beberapa hari terakhir.

Selama aku makan, sayup-sayup aku mendengar suara Ibu yang sedang bercakap-cakap. Terdengar suara Ibu yang memohon, terkejut, memohon lagi, memelas, serta suara datuk yang datar dari awal hingga akhir, entah apa yang mereka perbincangkan.

Beberapa saat setelah aku selesai makan dan kekenyangan, Ibu memanggilku. Aku bersegera ke arahnya dengan langkah lambat. Ketika aku sampai, kulihat mereka berdua telah berdiri, Ibu sedang akan pamit, namun ditahan oleh sang Datuk.

“Tunggulah sebentar, akan kusuruh pembantuku menyiapkan nasi dan lauk untuk kalian bawa pulang,” ucapnya seraya tersenyum ke Ibu. Matanya terlihat picik, lapar. Dan ketika kami beradu pandang, aku menunduk takut. Tak ada satu kebaikan pun yang terpancar dari matanya. Tetapi aku tak mengambil pusing, yang kupikirkan kini hanyalah perut Bapak yang akhirnya akan terisi dengan makanan, bukan hanya air.

*

Sungguh cantik sekali rupa Lestari siang tadi. Berdesir hatiku dibuatnya. Wajahnya mulus, putih tanpa bedak, pun bibirnya yang telanjang dari gincu. Ingin kuterkam saja sosoknya saat itu, berapapun harganya akan kubayar. Elok parasnya hampir membuatku tak berpikir jernih, pun lekuk tubuhnya yang membangunkan napsu binatangku.

Sudah lima tahun lebih aku mendamba sosoknya. Lima tahun ia berada dalam fantasi terliarku. Sayang sekali ia telah menikah dengan bujang rendah si nelayan miskin. Hatiku patah ketika tahu statusnya telahbersuami. Wanita goblok, disia-siakan wajahnya yang berparas indah. Lebih baik ceraikan saja pria itu dan jadilah istri ketigaku.

Dari kisahnya yang ia ceritakan siang tadi, aku kini tahu kalau ia teramat miskin. Untuk makan pun susah. Suaminya yang nelayan sudah beberapa hari tak mendapatkan apa-apa walaupun melaut hampir seharian. Memang kemarau kali ini terasa sangat sulit.

Untunglah kekayaanku berlimpah, dan kemarau ini hanya menguranginya sedikit. Kemarau kali ini tak ada apa-apanya bagiku, hanya membuat orang-orang mengantre untuk meminjam uang kepadaku. Tak terkecuali Lestari, sang primadona hati. Untuknya tak kuberikan bunga yang biasanya sanggup mencekik orang-orang yang meminjam uang kepadaku.

Rencanaku untuk merebut Lestari kini dimulai.

*

Empat bulan.

Itu waktu yang cukup lama untuk mengembalikan pinjaman yang tak seberapa beserta bunga yang juga tak terlalu besar. Suamiku pasti sanggup mengembalikannya. Semoga saja alam melunak dan rezeki melimpah bisa kami dapatkan setiap harinya

Semoga saja.

*

Aku makan banyak siang tadi, namun tak terasa nikmat. Bayang-bayang hutang kepada Datuklintah darat itu menghantuiku, membuat hambar segala yang kumakan.Rasa takut timbul. Entah apa yang akan dilakukan Datuk bengis itu jikalau kami sekeluarga tak mampu mengembalikan uang yang kami pinjam.

Istriku mencoba menenangiku dengan mengatakan kalau bunganya tak setinggi biasanya, membuatku semakin takut serta curiga terhadap apa yang sedang Datuk culas itu rencanakan. Aku melaut sore ini dengan kalut yang berbeda.

Nasi sudah menjadi bubur, yang terjadi biarlah terjadi. Kini aku harus berusaha semakin keras untuk dapat membayar semua utang-utangku juga menghidupi keluarga kecilku.

*

Sudah sebulan dan keadaan tak semakin membaik. Suamiku masih tak menghasilkan apa-apa walaupun hampir seharian berada di laut. Kulitnya makin hitam, tubuhnya makin kurus. Hanya beberapa kali dalam sebulan ketika jalanya mampu menjerat ikan hingga kami punya sesuatu untuk dimakan.

Tetapi uang yang dipinjamkan Datuk tamak itu pun kini kian menipis, hampir habis terpakai untuk menyambung hidup kami sekeluarga.Sungguh terasa besar pasak daripada tiang.

*

Dua bulan berlalu dan masih sama mandulnya. Uang yang dipinjamkan Datuk telah habis dan aku terpaksa meminjam lagi kepadanya.

*

Tiga bulan dan alam semakin lama terasa semakin memusuhiku. Entah dosa apa yang telah kuperbuat di masa lalu hingga aku harus mengalami masa-masa sulit seperti ini. Penderitaanku kini seperti tak berujung.

Siang tadi Wulan memberitahuku sudah beberapa hari ini istriku didatangi pria-pria yang tak dikenal. Pria-pria asing itu sama sekali tak ramah. Bengis. Membuat Wulan gemetar ketika menceritakannya padaku. Kuduga mereka adalah suruhan Datuk Rangkayo Tangah.

Semoga Tuhan yang entah kini di mana selalu menjaga istri dan buah hatiku.

*

Hari ini sudah empat bulan berlalu sejak Lestari meminjam uang kepadaku. Hari ini juga harusnya ia melunasi utang dan bunga yang kubebankan kepadanya. Namun sejak pagi tak kelihatan iktikad baiknya untuk melunasi seluruh utangnya.

Kini kurasa sudah waktunya untukku menagih uangku. Jika tidak, akan kupaksa Lestari bercerai dan menikahiku sebagai syarat pelunasan seluruh utang-utangnya.

*

“Kumohon Datuk! Janganlah kau rebut istriku! Kau dapat menjadikanku budakmu seumur hidup, tapi tolong jangan kau apa-apakan keluargaku!”

Lelaki menyedihkan, untuk menafkahi keluargamu saja kau tak sanggup. Sekarang kau seperti perempuan saja, memohon kepadaku dengan air mata bercucuran.Kau juga sudi menciumi kakiku agar keluargamu terlepas dari jerat hutang. Dasar mahkluk rendah.

Aku yang muak melihatnya menendangnya cukup keras hingga ia jatuh tersungkur. Centeng-centengku menahannya agar ia tak bisa menyentuhku walaupun seujung jari. Kulihat wajahnya penuh amarah, matanya diliputi benci. Aku sungguh suka pemandangan ini.

“Aku menginginkan istrimu, wahai nelayan miskin. Jangan pernah kau berani mengatur-aturku. Istrimu yang dungutelah memilih untuk berhutang kepadakudan kini ia harus menanggung konsekuensinya. Inilah yang kau dapat jikalau berani bermain-main denganku. Inilah balasan untuk kau karena tak sanggup memenuhi perjanjian yang pernah kita buat,” bisikku pelan di hadapannya.

“Serahkan istrimu dan semua utangmu akan kuanggap lunas.”

*

Aku tak sanggup lagi melihat Bapak disiksa seperti itu. Bapak yang selalu menjagaku, yang selalu melindungiku dianggapnya binatang rendah yang mampu ia perlakukan semena-mena. Aku marah, namun tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa menangis di pelukan Ibu. Tubuhku ikut terguncang seiring dengan isakannya.

“Serahkan istrimu dan semua utangmu akan kuanggap lunas,” bisiknya pelan namun masih bisa terdengar olehku.

Kata-katanya menembus jantungku, mendiamkannya sebanyak dua detak.

Tanpa pikir panjang aku berseru.

“Datuk! Janganlah Datuk mengambil Ibu. Tiada seorang pun yang mampu mencintai Ibu lebih daripada Bapak. Bapak begitu mencintainya. Hidup salah satunya takkan berarti jika harus kehilangan yang lainnya. Jika kau mengambil Ibu, maka Bapak yang mati.

“Tolonglah, Datuk, berikanlah kami sedikit lagi waktu untuk melunasi semua utang-utang kami,” seruku kemudian, terisak hebat. Kurasakan pelukan Ibu semakin erat. Air matanya menetes membasahi pundakku.

Datuk Rangkayo Tangah hanya tersenyum. Ia kemudian berjalan perlahan menghampiriku. Ditariknya Ibu dari sisiku oleh centeng-centengnya yang kasar. Kini aku sendirian, tanpa Ibu yang melindungiku. Sendirian menghadapi Datuk yang hatinya seburuk rupanya.

Ia kini di hadapanku, berjongkok hingga matanya sejajar dengan mataku.

“Bagaimana kalau kau saja yang melunasi utang-utang Ibumu?”bisiknya pelan, keji.”Maukah kau menjadi istriku?”

Bau napasnya sekali lagi membuatku mual. Air mataku tak bisa berhenti mengalir, pandanganku kabur. Teringat semua memoriku bersama Bapak dan Ibu. Teringat betapa dulu aku begitu bahagia walau hidup sederhana. Bapak yang selalu membawakanku kulit kerang yang indah setiap pulang melaut. Bapak yang selalu memuji lukisanku. Ibu yang selalu menemaniku untuk melihat rembulan di Pantai Kata.

Aku teringat semua mimpi-mimpiku. Dan kini aku harus merelakan semuanya pupus dilumat oleh takdir.

Aku begitu kecil, hingga takdir mempermainkanku, mengombang-ambingkanku layaknya debu.

“Bawalah aku. Walaupun aku tak seelok Ibu, namun aku sama mampunya untuk menjadi istrimu.”

Sama mampunya menjadi budak napsumu.

Ayah berteriak kencang dan semakin meronta, dipukulnya centeng-centeng itu dengan membabi buta. Karena kelakuannya tersebut ia dihadiahi banyak bogem mentah dari centeng-centeng Datuk Rangkayo Tangah. Ia dipukuli hingga pingsan. Terkapar di atas tanah dengan darah mengalir dari mulut serta hidungnya. Kini yang ada hanya sunyi serta isak tangis Ibu.

“Ah, boleh saja.”

Hanya itu. Hanya tiga kata itu. Tiga kata yang keluar dari mulut manusia paling picik yang pernah kutemui. Wajahnya begitu sumringah dalam kemenangan. Membuatku terbayang-bayang neraka yang harus kuhadapi seorang diri. Neraka yang hanya berhenti jika aku mati.

Esoknya kami menikah.

Dan lusa ditemukan sosok Bapak dan Ibu yang mati karena gantung diri.

Dan dalam bisu aku berpikir, apakah sebegitu malunya bagi orang tua membiarkan anak gadis berumur dua belas dipaksa menikah dengan Datuk culas?

***

Advertisements

One thought on “Sebegitu Malunya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s