Seandainya

Pengap. Masjid ini penuh sesak dengan manusia. Empat kipas yang berputar di atas kami seperti mandul, sama sekali tak melahirkan sejuk. Itu atau karena jas hitam mahal yang kini membalut tubuhku sehingga membuat udara seakan tersedot entah kemana.

Tarik napas… Hembuskan… Tarik napas… Hembuskan…

Setengah mati aku berusaha menggapai udara demi mengumpani kedua paru-paruku. Oleh karena itu kurasa Bunda takkan heran kalau aku mati disini karena keracunan gas karbon monoksida, yang disebut juga peristiwa karboksihemoglobin. Kenapa aku bisa tahu? Karena penjelasan panjang lebarmu ketika aku terlalu sibuk memperbaiki sepeda motorku.

Ah, lagi-lagi terulang. Bukankah aku harusnya melupakanmu? Membunuh sosokmu dalam kalbu?

Bapak tua di depanku ini sedari tadi hanya komat-kamit tak keruan. Ludahnya muncrat kesana-kemari, jijik aku dibuatnya. Bau sangit yang menguar dari badannya pun tak meringankan mualku. Mungkin Bapak tua ini harus dikenalkan dengan parfum Allure Pour Homme milik Chanel agar bau badannya tak membuat muntah orang-orang di sekitar.

Ah, lagi-lagi teringat. Parfum yang sama yang setahun lalu kuhadiahi untukmu, kau kirim balik dengan jasa pengiriman barang. Tak lupa sehelai kertas berisi catatan yang menyatakan kau tidak bisa menerima barang semewah itu. Kau begitu lucu saat itu.

Tak tahukah kau hal paling mewah bagiku adalah melihat senyum di bibirmu?

Sosokmu begitu sederhana, mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta.

Tarik napas… Hembuskan…

Kudapati mataku melirik wanita cantik yang dibalut kebaya putih disampingku. Sungguh parasnya begitu indah, lekuk tubuhnya begitu aduhai, membuat lelaki normal manapun pasti belingsatan tak keruan. Aku tak mengerti mengapa aku bisa seberuntung ini. Sekaligus sesial ini.

Manik matanya begitu hitam, serupa milikmu. Warnanya persis seperti obsidian, batu favoritmu. Bibirnya penuh, merah muda, pun serupa bibirmu. Bibir yang dulu pernah menjadi milikku. Yang pernah kulumat dengan penuh cinta di atas segala.

Ah, lagi-lagi. Bisa gila aku kalau seperti ini.

Aku tersentak kaget ketika semua orang berucap ‘amin’ serta mengusap wajahnya masing-masing. Bapak tua di hadapanku kini telah selesai komat-kamit dan lalu menggamit tanganku lantas menggenggamnya erat.

Kini tiba saatnya. Yang harus kulakukan hanyalah mengulangi kata-kata sang penghulu dan ketika saksi-saksi berucap sah, maka aku telah resmi menjadi seorang suami dari wanita cantik di sisiku. Aku telah resmi mengabulkan permintaan kedua orang tuaku. Dan yang paling penting aku telah resmi menghancukan hati seseorang yang sangat kucintai.

Dan dalam momen yang segenting ini, masih saja hanya sosokmu yang memenuhi pikiranku.

*

Seminggu lalu.

“Maaf.”

Hening.

“Aku minta maaf,” ucapku sekali lagi.

Ia tetap bisu.

Ah, seandainya ia tahu betapa aku tak ingin semua ini terjadi. Seandainya ia tahu betapa remuk redam hatiku melihatnya tertunduk dan menetaskan air mata. Seandainya ia tahu betapa inginnya diriku memeluknya hanya untuk membuatnya tak terlihat sehancur ini. Seandainya ia tahu hanya dialah yang kucinta walaupun semesta menolaknya. Seandainya ia tahu betapa inginnya diriku untuk selalu bersamanya selamanya. Seandainya.

Seandainya.

Terlalu banyak ‘seandainya’ dalam hubungan ini.

Dua tahun yang sangat indah bersamamu, seperti mimpi. Dan layaknya mimpi pada umumnya, ia harus terhenti. Mungkin inilah saatnya aku harus berhenti dan keluar dari mimpi. Inilah waktunya untukku bangun dari tidur lelap dan menghadapi realita.

Salahkulah yang tak pernah memperjuangkanmu walau sedikit.

Maka sejak saat itu aku harus pergi dari kehidupanmu, agar kau tak harus lagi merasakan sakit yang sesakit-sakitnya. Maka sejak saat itu aku harus menghilang dari duniamu, agar kau tak perlu merasa sehancur ini. Maka sejak saat itu aku harus mati bagimu, sirna selamanya.

Pada hari itu kau kutinggalkan bersama sebuah undangan pernikahan untuk menemanimu dalam tangis.

*

Tangan Bapak tua itu menyentakku dan aku kembali pada realita. Aku tak memperhatikan kata-kata Bapak tua itu sebelumnya. Akhirnya aku hanya minta maaf dan garuk-garuk kepala.

Bapak tua si penghulu hanya tersenyum dan menyelipkan lelucon tentangku yang terlalu gugup dan sudah melindur memikirkan malam pertama. Yang menurutku sama sekali tidak lucu. Akhirnya setelah gelak tawa sudah mereda, Bapak tua itu mengucapkan sekali lagi Ijabnya.

Di tengah-tengah ucapan Bapak tua, aku melihatnya bersandar di pintu Masjid.

Riki.

Matanya sembab, bukti semalaman menangis. Wajahnya terlihat pucat. Jas hitam yang ia kenakan terlihat berantakan. Ia kacau. Dan hatiku seakan tertusuk serpihan kaca ketika berpikir bahwa akulah yang menyebabkannya terlihat hancur seperti itu. Akulah penyebab patah hatinya.

Ijab yang kedua kalinya terpaksa kuacuhkan. Aku masih terlalu kaget karena melihatnya.

Tarik napas… Hembuskan…

Aku menatap matanya dalam-dalam, berharap mengerti jalan pikirnya. Ia membalasku, mengebor mataku sama dalamnya. Satu detik… dua detik… kemudian ia mengangguk. Lalu berbalik pergi.

Ia jauh meninggalkanku, ke suatu tempat yang tak bisa kukejar. Semua mimpi dan harapan yang dulu pernah kami buat seketika lenyap, pupus seketika. Kram yang kurasa sejak tadi kini sirna, aku bersimpuh di tengah-tengah manusia dengan hati lumpuh, tak merasakan apa-apa.

Hanya ada aku dan segenggam harapan yang kau tinggalkan ketika kau menjauh. Kau yang berharap semoga aku berbahagia, sama besarnya seperti aku berharap semoga kau berbahagia. Karena itulah tak ada lagi ragu di hatiku, aku telah memilih bahteraku, kini giliranmu mencari milikmu.

“Saya terima nikah dan kawinnya…”

Semoga kau berbahagia, sang belahan jiwa.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s