Bukan Salah Ombak

“Aku pergi beli minuman dulu, ya!” seru suamiku seraya berdiri kemudian mengibas-ngibaskan pasir di celananya.

Pantai memang juara sebagai tempat berlibur paling mengasyikkan. Debur ombaknya menentramkan hati yang lama dibiarkan panas karena aktivitas. Pantai memang pantas untuk dijadikan pelarian dari pengapnya hiruk-pikuk kota.

“Bunda! Aku pergi main ombak, ya!” seru anak perempuanku satu-satunya dengan muka sumringah. Ini adalah kunjungan pertamanya ke pantai wisata. Liburan-liburan kemarin aku banyak mengajaknya ke mall yang ada di kota. Aku takut ia menjadi sosok yang hedonis. Aku takut ia tak lagi mencintai alam.

Kulihat anak perempuanku bermain-main dengan ombak di ujung sana. Ditemani lelaki yang pastinya adalah papanya. Mereka berdua begitu gembira. Lagi-lagi aku tak salah dalam memilih tempat berlibur.

“Hati-hati dengan ombaknya, Sayang!” seruku padanya. Kuharap suamiku benar-benar mengawasi anak kami ketika bermain ombak.

Namun kali ini aku salah, bukan ombak yang harusnya kukhawatirkan.

***

KOMPAS

SETELAH DIPERKOSA, BOCAH TUJUH TAHUN TEWAS DIMULTILASI

Advertisements

12 thoughts on “Bukan Salah Ombak”

      1. Terima kasih 🙂
        Buku yang khusus kayaknya nggak ada ya, Zen. Bacaan awal dulu ya seputar Lupus, cerpen-cerpen Anita Cemerlang (if you know this mag :p ), Hai, atau Aneka (edisi-edisi awal, sebelum ceritanya melulu hedon). Ya mereka-mereka itu, para pengarang yang berperan membentuk gaya tulisanku kayak sekarang. 🙂

      2. Lupus? hahaha saya juga suka. aduh gak pernah langganan majalah atau apa saya mah.
        Kenapa emg sama hedon? Hedon hedonnya christian simamora itu beyond great bang. Udah pernah baca?

      3. Pendapat pribadi, sih, cerpen di Aneka edisi awal itu lebih berbobot ketimbang yang belakangan. Dangkal. Cuma cerita suka-cinta-putus-nyambung-hura-hura saja.
        Buku Christian itu belum baca. 🙂

    1. Saya juga baru belajar bikin flash fiction, jadi selow ae. Ehe.
      Jadi flashfiction itu terkenal oleh puntirannya (twisted ending). Bisa kamu liat twistednya ada di akhir. Sedangkan flashfiction lebih baik tidak menipu reader, jadi diharuskan memberikan clue clue untuk ending yang tak terduga. Nah saya cuma kasih clue yang saya buat sesamar mungkin, yaitu “pasti papanya” yg dideskripsikan oleh si Mama.
      Selamat membaca ulang dan menemukan pemahaman baru.
      xxx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s