Lapar

Kukira aku sudah akrab dengan lapar, mengenalnya luar dalam. Sudah dua tahun aku bergumul tiada henti dengannya, sejak Ibu dan aku pergi dari rumah laknat itu. Rumah yang mendatangi mimpi buruk dibalut pedih. Rumah tempat bajingan paling brengsek hidup dikelilingi botol-botol bekas minuman keras.

Kali ini aku didatangi lapar yang berbeda, yang sukar untuk dikendalikan. Lebih buas, ganas.

Sekuat tenaga aku menahannya. Hanya tersisa beberapa jam hingga mentari terbit di langit timur, kemudian aku bisa mengais-ngais tempat sampah warga.

Kukira aku sudah akrab dengan lapar, namun kali ini berbeda, lebih buas, ganas. Tanpa membangunkan Ibu, kugigit keras-keras hidungnya sampai lepas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s