Tujuh Dari Papa

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam.

Dan itu yang terakhir. Tujuh.

Tujuh kali di pipi yang sama, tinju Papa mendarat. Lalu ketika Mama jatuh terkapar, ia menendangnya. Tujuh kali. Setelah itu ia menjambak rambut Mama kemudian menamparnya. Juga sebanyak tujuh kali.

Dan ketika nanti amarahnya reda, Papa akan memeluk Mama dengan pipi basah kemudian menciumnya lembut. Tepat tujuh kali. Disitulah aku tahu Papaku telah berhenti menjadi monster.

Telah kugunakan seumur hidupku untuk memahami seluruh keanehannya. Kini aku sampai pada kesimpulan kalau Papa sangat menyukai angka tujuh dan kebiasaannya setiap malam adalah ia harus meminum obat-obatannya. Sebanyak tujuh butir.

Pernah suatu malam kepalaku dihantamkan ke meja makan olehnya sebanyak tujuh kali hanya karena ia lupa meminum obat-obatannya.

Aku tak tahu mengapa harus tujuh. Papa memang aneh, tapi aku sangat mencintainya. Dia yang menyuruhku mencuci tangan sebelum dan setelah makan sebanyak tujuh kali. Aku tahu tujuannya baik. Ia ingin aku terhindar dari kuman penyakit.

Dan karena ia begitu baik, aku pun selalu ingin memberikan yang terbaik padanya.

Delapan.

Satu angka lebih banyak daripada tujuh. Oleh karenanya aku selalu mencuci tanganku sebelum dan setelah makan sebanyak delapan kali. Menggosok gigiku sebanyak delapan kali. Dan entah sejak kapan hal ini menjadi suatu kebiasaan bagiku.

Pernah suatu hari aku membanting tasku dan aku merasa harus membanting tas itu sebanyak tujuh kali lagi. Namun aku salah hitung menjadi sembilan. Ini membuatku semakin gelisah, lalu kuputuskan untuk membanting tasku lagi sebanyak enam belas kali. Dua kali lipat dari delapan.

Malam itu ternyata Papa lupa meminum obatnya, yang pada akhirnya membuat wajah Mama babak belur.

Aku benci Mama. Cengeng. Kerjanya hanya menyusahkan Papa saja. Kalau terus seperti ini Papa bisa ketularan lemah olehnya. Aku sangat benci orang yang lemah.

Oleh karena itu ketika ia tertidur, kutusukkan pisau daging yang kuambil dari dapur ke dadanya.

Tepat delapan kali.

***

Advertisements

8 thoughts on “Tujuh Dari Papa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s