Mati Pun Tak Apa

The-Old-Guitarist

Mulutnya menganga penuh tahi anjing. Kini dia setengah gila setelah lama digunjing. Ia hanya mampu meminum biru, dari kanvas kelabu. Pernahkah kau merasa hidup enggan mati tak mau? Dia telah merasakan lebih dari itu.

Pernah kurasa sejuta kupu-kupu di lambung, gelembung-gelembung cinta pecah mengapung.

Dulu hanya ada bahagia ketika aku bersamanya. Tanpa istri pertama atau anak haramnya. Hanya aku dan lumpuhku, dia dan suara sumbangnya. Namun kini istrinya hidup lagi, dengan gigi lebih bergerigi. Hampir robek jantungku dikoyak, namun ia lebih menyukai tempayak.

Lama aku bersama. Terbang melayang, jatuh mengaduh. Pergi seperti takkan pernah kembali, lalu kembali dan berjanji takkan pernah pergi lagi.

Ia pandai bersilat lidah, lebih pandai ketika meludah. Ia ringan tangan, sampai hati aku dijadikan tiban. Mahkotaku yang hanya untuknya, digadaikan demi mencari lupa.

Kini melihatpun ia tak bisa, buta. Suaranya hilang di tengah kelu, bisu. Sudah pantas ia kubuang, bersama dengan binatang jalang.

Di masa depan ia kan jadi babu, mati tertutup debu. Suaranya sumbang, takkan pernah menang. Namun ia tak bisa mati, abadi. Layaknya waktu yang terus berlalu, terlalu pengecut untuk berhenti, terlalu tolol untuk mengasihi.

Seperti Dajjal yang dibelah tiga, hidupnya hanya membawa sengsara. Bersama gitar biru yang membawa pilu, ia memohon kepada batu serta alu. Menuhankan alam yang semakin kelam.

Kupatahkan lehernya juga kakinya. Tak lupa tangan serta jemarinya. Kudengar ibu muda tertawa gembira. Pun kambing menggonggong dengan sukacita. Aku belum lelah, lemah. Kupukulkan gitar yang tak lagi biru ke kepalanya.

Ia mengikik berisik kala senja berubah warna. Meninggalkan hanya biru dan biru, juga hening dan hening. Dalam diam seperti ini aku setengah mati merindu, jemarinya yang lentik melahirkan denting.

“Aku tak pernah mencintaimu,” campaknya dengan lidah yang kini berduri.

Ah, aku hanya bisa tertawa, menikmati penisnya dalam vagina. Rasanya bagai berenang dalam harta. Mati pun tak apa, asal kumisku tak menggesek kumisnya.

Advertisements

4 thoughts on “Mati Pun Tak Apa”

  1. Poin plusnya : 1. Diksi yang berima. 2. Banyak perumpamaan : gigi bergerigi, lidah berduri, kambing menggonggong, dll.
    Poin minusnya : Ini cerita tentang apa sih? :p

    Awal baca, aku langsung berdecak, “Bakal asik, nih!” Tapi di pertengahan hingga cerita usai, aku masih bingung. Ini cerita tentang istri muda yang dicampakkan? Katanya ia lumpuh, kok bisa mematahkan kaki dan lehernya? Leher siapa yang dipatahkan? Kenapa ibu muda malah tertawa? Lho, tadi kan yang ada cuma istri pertama? Lho? Sekali lagi, lho?

    Cerita ini seperti terlalu fokus pada rima dan diksi, tapi lupa menyampaikan kisah. 🙂

    1. Pertama-tama, thanks bang udah dikomen hahaha. Udah diapresiasi juga. Duh terharu saya.

      Terus karena saya kira kurang dapet referensi di grup, maka saya carilah, nah ketemu tuh, intintya nambah 2 poin lagi, alur lompat-lompat, sama makna yang sebenernya terkandung itu biar jadi rahasia saya sama Tuhan haha.
      Sebenernya cuma ada tiga tokoh, istri tua, muda sama lelaki tua. Perkara ibu muda, wanita tua sama kambing itu adalah fakta yg saya temukan di wikipedia. Ada penjelasan setelah lukisan tersebut di x ray, ada gambar dalam gambar. Entah apa maksud picasso ya, saya gak tau haha. Jadi saya masukkan saja. Biar seru.

      Terakhir bang, ini surealis, emang esensinya buat ngebingungin orang. Kita ternyata dikerjain selama ini hahaha.

      Terus, kalau boleh, komen dong bang maksud cerita yg abang tangkep, terlepas bingung atau tidaknya, pleaseee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s