Jilbab Untuk Emak

Kami ini keluarga miskin. Aku dan Emak, maksudku. Bapak sudah mati. Matinya menyusahkan. Hampir seluruh harta Emak ludes dirampok olehnya. Sudah kubilang pada Emak agar tak usahlah dia dioperasi. Buang-buang duit. Benar saja, operasinya gagal, dia mati. Yang tersisa darinya hanyalah lebih banyak utang.

Emak tak terlihat menyesal. Tak pernah terlihat menyesal. Walaupun menikahi pria bangsat penyakitan macam Bapak adalah salah satu hal yang patut disesali. Begitu juga dengan beratus keputusan lain yang bersangkutan dengan Bapak.

Kini kami susah. Untuk makan tiga kali sehari saja hampir mustahil. Lebih sering sehari sekali, itu juga dengan porsi minim. Kami makan enak hanya jika tetangga kami sedang hajatan.  Tapi kami akan makan lebih enak selama seminggu hanya jika tetangga kami ada yang mati. Oleh karena itu, aku selalu berdoa kepada entah siapa saja yang berkepentingan agar setiap minggunya ada yang mati.

Tuhan terdengar asing. Walaupun nama itu diucapkan oleh Emak sesering ia jungkir balik.

Rumah petak kami mulai terasa lapang. Barang-barang Emak sudah banyak terjual. Termasuk perabotan beserta baju-bajunya. Hasil penjualannya hanya dipakai untuk kami makan, tak seperak pun dijadikannya modal usaha. Aku tak kuasa menggoblok-goblokkan Emak. Aku sayang Emak. Aku tahu kalau Emak sedang dalam masa-masa sulit. Terpuruk. Aku mencoba mengerti kalau Emak masih terpukul atas matinya Bapak.

Hingga suatu hari aku frustasi. Rumah sudah benar-benar melompong. Hanya ada sebuah lemari kecil usang, tikar tempat biasa kami tidur, alat-alat masak serta makan yang bisa dihitung jari. Tak ada lagi televisi tua disudut ruangan, kasur kapuk maupun kursi kayu tua kesayangan Emak.

Lemari kusam itu pun isinya hanya baju-bajuku dan baju sekolahku. Di sudut lemari kulihat dua helai daster kucel Emak serta sebuah jilbab dekil. Hanya itu kini miliknya. Hilang sudah gamis-gamis Emak yang dulu beraneka warna, yang biasa dipakai untuk mengaji.

Tak tahan melihat rumah yang hampir kosong, aku pergi ke arah dapur, mencari sesuatu untuk dimakan. Di sana sudah tersedia sepiring nasi dan tiga butir tempe. Kumakan perlahan, benar-benar perlahan. Aku tahu Emak tak makan. Sedari kemarin kudengar perutnya berbunyi. Mengingatnya membuat nasi dan tempe kini terasa lebih asin, padahal kutahu kalau kami sudah kehabisan garam.

Setelah makan, aku menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Setiap langkah yang kuambil menciptakan gema, menunjukan betapa sunyi rumah ini. Kini Emak pasti di pusara Bapak. Menatap nisan dengan mata berair. Air matanya selalu menggenang, tak pernah dibiarkannya jatuh. Layaknya semua kesedihannya yang tak pernah diperlihatkannya kepadaku.

Kepalaku terasa berat, inginku segera tidur. Kugelungkan badanku di atas tikar, mencoba mengundang lelap. Mataku lama tertumbuk pada tas sekolahku, yang hanya berisi sebuah buku tulis dan beberapa buku pelajaran yang dipinjamkan oleh sekolah.

Entah apa yang kucari, kuambil tasku dan kukeluarkan isinya. Buku bahasa Inggris terjatuh ke pangkuanku. Aku merabanya takzim, teringat ketika Bu Guru menanyai kami satu persatu tentang cita-cita kami. Hingga pada giliranku ditanya, dengan percaya diri aku berseru ingin menjadi bintang film dan bermain di Hollywood. Seperti Leonardo Dicaprio.

Teman-teman tertawa, aku juga. Bu guru pun ikut tersenyum menanggapi impian terliarku. Ia berkelakar terlebih dahulu sebelum menjelaskan tentang pentingnya pendidikan untuk meraih cita-cita.

Sekarang aku berada di realita. Sebuah pencerahan berhasil menembus kabut dalam otakku. Tak ada jalan lain. Emak bahkan hampir tak bisa diharapkan. Aku kini sendiri. Kubanting tasku beserta buku-bukuku. Kantukku lenyap, sakit kepalaku hilang. Aku merasa bugar, juga marah.

Aku pulang menjelang malam, menghadiahi Emak duit segenggam. Dan menghadiahi diriku sendiri mata yang lebam.

*

Memang butuh disabung dulu untuk mendapat keleluasaan dan rasa aman, untunglah aku yang menang, oleh karenanya preman senior di sini memperbolehkanku mengamen dengan upeti yang masih bisa kutolerir. Lebam di mataku berangsur sembuh, membaik. Serupa dengan kehidupanku kini.

Namun, kadang tak lepas jua dari pandangku air mata Emak. Ia menangis seakan kehidupannya semakin memburuk, bukan sebaliknya. Padahal kami berdua tahu kalau kini kami tak perlu lagi tidur dengan keadaan lapar. Tumis kangkung dan ikan bandeng semalam buktinya.

Perabotan satu per satu bisa kembali terbeli. Memang membutuhkan waktu yang tak sebentar, tapi itu bukan masalah untukku. Sungguh, hidup kami semakin membaik. Memang hasil ngamenku tak seberapa, namun nominalnya cukup untukku lepas dari jerat utang dan kemiskinan.

Emak tak pernah menangis sebelumnya. Tak pernah. Bahkan ketika Bapak mati dan dimasukkan ke liang lahat. Emak begitu tegar. Namun kini ia seperti anak kecil yang dimarahi oleh orangtuanya, acap kali menangis diam-diam.

Kuduga semalam ia menangis. Pagi tadi kulihat matanya sembab, namun aku tak bertanya. Kami hampir tak saling berbicara sejak aku pulang dengan lebam di wajahku malam itu. Kami tiba-tiba saling membisu, menuduh dalam hening. Bencikah Emak kepadaku? Bencikah Emak padaku yang membuang sekolahku demi menyambung hidupku?

Menyambung hidup kita?

Malam itu aku pulang lebih cepat, membawa salah satu temanku sesama pengamen unuk membenarkan senar gitar milikku. Gitar bekas yang kubeli dari seorang pensiunan pengamen itu kini menjadi salah satu teman pelipur lara, yang selalu ada di saat Emak menjauh sedikit demi sedikit dari hidupku.

Emak terkejut ketika aku pulang membawa seseorang, namun ia dengan luwes menyamarkan keterkejutannya. Aku masih diam, membiarkan temanku mengatasi basa-basi Emak sendirian. Setelah menaruh gitarku di atas tikar milikku sendiri, aku melengos ke arah dapur, mencari sesuatu untuk diminum.

Emak dengan tergesa-gesa masuk ke dapur, menyiapkan nasi juga lauk untuk nanti kami makan. Aku mengawasinya dalam diam. Kantung mata Emak semakin menghitam, wajahnya semakin kuyu, namun tubuhnya kini tak sekurus dahulu, tak ada tulang yang terlalu menonjol.

Masih dengan diam, ia pegi kelur dari dapur dan memaksa temanku untuk makan malam bersama, yang tanpa dipaksa pun dia akan senang hati memakan apa yang terhidang. Sedari siang kami belum makan.

Sementara kami makan, ia melakukan entah apa di dapur. Lama, tak keluar-keluar. Hingga akhirnya ketika aku membawa semua piring kotor ke kamar mandi untuk kucuci, aku melihatnya di pojok dapur, terduduk dengan bahu merosot dan bibir gemetar.

Ia melihatku dan tersentak. Bergegas ia merebut semua piring dariku dan berjalan ke arah kamar mandi, masih tanpa suara.

*

Hening di rumah ini makin menghimpit, yang hanya dipecahkan ketika Emak membaca kitab yang katanya kitab Tuhan. Kitab itu adalah salah satu dari sedikit barang yang tak dijualnya. Sama nasibnya dengan jilbab, mukena dan sajadah yang setahuku adalah mas kawin dari Bapak. Suaranya ketika membaca buku berwarna kekuningan dan berbau agak tengik  itu sangatlah merdu.

Hanya di saat-saat seperti itulah aku merasakan khidmat, merasakan tenangnya jiwa, tenteramnya sukma. Saat ia melantunkan bahasa asing itulah aku menemukan sosok Emak yang kurindukan setengah mati. Merindukan Emak yang tersenyum walau pahit, bukan Emak yang kini tanpa ekspresi. Emak yang menuduhku. Emak yang jijik, membenci.

Temanku sedikit banyak terpesona, beringsut mendekati Emak yang disambut dengan senyum yang dulu selalu menyambutku. Disuruhnya temanku itu membasahi bagian-bagian badan tertentu . Setelah kembali dengan keadaan agak basah, temanku duduk disamping Emak, tak lama kemudian mereka bercengkerama. Melihatnya membuatku cemburu setengah mati. Kubanting tubuhku ke kasur tipis yang menjadi alas tidurku. Memaksakan mata untuk terlelap walaupun bayangan Emak yang begitu dekat dengan seseorang yang bukan aku membakar kelopak mata.

*

Semalam Emak menangis lagi. Matanya sembab, bagian putihnya kini berwarna merah, persis orang sakit mata. Aku masih diam, melengos tak acuh ke arah kamar mandi, siap-siap untuk mengamen lagi.

Sorenya aku pulang, kini bersama dengan tiga orang temanku yang lain, yang mengakunya ingin belajar mengaji kepada Emak. Aku tak peduli, mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan selama tak mengusikku.

Emak semakin terkejut, namun kulihat ia bahagia. Sangat bahagia. Ia tak pernah sebahagia itu ketika menerima uang hasil jerih payah mengamen dariku. Aku tidur terlalu cepat malam itu, seusai adzan maghrib, takut terpaksa melihat Emak yang direbut oleh teman-temanku sendiri.

Esoknya yang belajar mengaji kepada Emak semakin bertambah. Esoknya lagi bertambah lagi. Kini muridnya banyak dan campur-campur. Ada anak-anak pengamen, pemulung, anak-anak di kampungku, juga beberapa anak komplek di dekat kampungku.

Totalnya dua puluh orang. Dan ketika malam menjelang seperti ini, rumahku yang masih minim perabotan dipenuhi sesak oleh anak-anak yang memakai pakaian yang beragam. Ada yang hanya kaus lusuh dengan sarung serta peci yang sama lusuhnya, ada juga yang memakai koko mahal. Jilbab orang-orang miskin dan orang-orang berkecukupan terlihat mencolok perbedannya.

Emak yang duduk di tengah-tengah ruangan terlihat berseri-seri. Gamis putihnya yang kini sudah berubah kuning serta jilbab lusuhnya yang sudah ditisik disana-sini tak mampu meredupkan senyumnya yang setara lampu berjuta watt.

Emak direbut lagi, kini semakin sulit tergapai.

*

Hening di rumah kami terasa semakin mencekik. Aku masih memusuhi entah siapa. Aku juga dimusuhi oleh entah apa, atau siapa, atau kenapa. Perasaan ini terlalu kompleks untuk dideskripsikan oleh anak umur dua belas tahun.

Kantung mata Emak makin hari makin menghitam. Mukanya semakin kuyu, semakin terlihat kelelahan. Aku masih saja tak acuh. Hingga akhirnya ia memergokiku yang memergoki ia sedang menangis. Emak menangis seraya memeluk seragamku. Seragam yang sudah bertahun tak kusentuh.

Melihatnya menangis membuat hatiku teriris. Sedu sedannya terdengar begitu sedih, menusuk nurani. Ingin kutukar apa saja di dunia ini yang mampu membuat ia berhenti menangis sesendu itu. Ingin kubagi rasa sedih Emak kepada diriku sendiri, karena mustahil ada seseorang yang mampu mengatasi rasa semenyakitkan itu.

Tuhan, kalau kau memang benar nyata, kalau kau memang benar ada, mengapa kau tega membuat hambamu, yang menggumamkan asmamu sesering ia napasnya yang terhembus, menangis seperti itu?

Matanya benar-benar merah, pipinya basah. Air mata tak luput membasahi jilbab serta daster lusuhnya. Ia menangis seraya menggenggam erat seragamku hingga urat-uratnya menyembul keluar.

Ia terkejut melihatku, yang berdiri terpaku menatap pemandangan paling pilu dalam hidupku. Tak terasa air mataku ikut jatuh, merayap di pipiku yang menghitam terpapar matahari. Jatuh hingga menyentuh bibir, hingga kurasakan asin yang asing.

Aku berlari, menjauhi sosoknya sejauh kubisa. Berlari, berharap Tuhan atau entah siapa mencabut jantung atau entah apa yang kini hanya penuh dengan sesak.

*

Aku pulang agak malam, butuh waktu lama untuk berdamai dengan diriku sendiri. Bukan main sulitnya. Sesak di dada juga tak kunjung mereda. Kuremas-remas kantung kresek di tanganku, berharap gugupku hilang seketika.

Emak sudah selesai shalat saat itu, hilir mudik di depan pintu rumah masih dengan mukena lusuhnya. Raut wajahnya cemas, padahal yang sepatutnya ia cemaskan itu kantung mata di wajahnya.

Aku berhenti beberapa meter di depan rumah, bingung hendak apa. Ketika akhirnya Emak melihatku, ia menjerit sekencang-kencangnya, lalu berlari ke arahku dan dalam sekejap ia sudah meraupku ke dalam pelukannya.

Aku rindu hangat peluknya.

Ia menangis, meracau tak jelas. Aku juga menangis, menikmati hangat peluknya yang membuatku merindu setengah mati. Air matanya membasahi bahuku seperti air mataku yang membasahi mukenanya.

Aku terlalu lama dibebani, hingga ketika aku memeluknya, dan mendengar napasnya tepat di telinga, aku merasakan lega. Semua beban memang tak menghilang, tapi setidaknya kini aku mempunyai sosok untuk berbagi. Aku menangis seperti anak umur dua belas tahun lainnya, tersedu sedan, meracau betapa aku kangen Emak.

Emak berkali-kali mengelus kepalaku, membuat tangisku makin lama makin kencang. Jadilah kami malam itu saling menangisi satu sama lain. Lama kami menangis, lelah pun tak menjadi alasan kami untuk berhenti. Namun akhirnya kami harus berhenti juga ketika Pak RT datang, melerai kami berdua.

Pak RT berkata sesuatu yang tak kuacuhkan, sesuatu tentang bantuan, biaya dan sekolah. Yang kupedulikan kini adalah Emak dalam pelukku, tetap sesenggukan dan berpenampilan berantakan.

Masih mengacuhkan Pak RT yang buncit karena banyak korupsi itu, aku memberikan Emak keresek yang sedari tadi kuremas-remas. Isinya adalah sesuatu yang lama kudamba untuk Emak. Sesuatu yang butuh berminggu-minggu untuk mendapatkannya. Sesuatu untuk menggantikan kain buluk yang senantiasa dipakai untuk menutupi rambutnya.

Hadiah jilbab dariku untuk Emak, dibalas dengan seragam sekolahku yang baru.

Esok aku bisa sekolah lagi.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s