Kemarau

Pukul dua siang, saat terik tengah memanggang.

Kemarau kali ini terasa kejam. Terasa lebih menikam. Menggurat luka juga lebam.

Aku tergeletak di sana, rasai bibir sekering sumur tetangga.

Beralaskan dipan aku telentang. Tangisku berangsur hilang. Kerongkongan tersangat kerontang.

Ah, dia kembali, menenteng bungkusan yang diberi tali.

Tubuhnya kurus. Berminggu tak terurus. Terlalu sibuk dengan haus.

Kulihat ia tersenyum, kubalas dengan bibir dikulum.

Perlahan ia menggendongku. Lalu bergegas ke arah tungku. Menghiraukan segala rengekku.

“Onde, buyung! Sabarlah kau saketek!”, sentaknya serak, sibuk menyalakan terak.

Aku diam, takut menambah lebam.

Liurnya berhamburan. Dengan cangkir di tangan, ia menciduk ke dalam bungkusan.

Air gelap yang ia dapat, juga amis yang teramat pekat.

Ia menunggingkan bungkusan ke kuali, hingga jatuhlah kepala hingga kaki.

Ah, bukankah itu Andeh Siti?

“Oi, buyung! Malam iko denai masak lamak mah!” ucapnya dilanjuti histeria, persis orang gila.

Advertisements

2 thoughts on “Kemarau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s