His Song

Kafe saat itu terasa senyap. Semua obrolan terhenti ketika petikan pertama gitar akustik mengumandang. Sunyi yang diciptakan membawa syahdu ke udara. Kini semua mata tertuju ke arah panggung yang dikuasai oleh seorang pria yang sedang memangku gitarnya.

Hening kafe saat itu tiba-tiba dipecahkan oleh petikan gitar yang mengalun merdu. Menghipnotis para pendengarnya. Kini semua pasang mata terlihat semakin fokus, punggung diluruskan, telinga dipasang baik-baik karena musisi paling terkenal se-Ibukota sedang berusaha menyuguhkan sekecap rasa.

Pemilik kafe juga berusaha tak kalah keras, ia memberikan kode kepada salah seorang anak buahnya. Setelah itu samar-samar penerangan kafe tersebut meredup hingga hanya meninggalkan sebuah lampu sorot yang sedang menyoroti panggung dimana sebuah pertunjukan sedang disuguhkan. Lighting yang begitu indah mengundang desah kagum dari hampir semua pengunjung kafe. Di tempatnya berdiri, pemilik kafe tersenyum sama cerahnya dengan lampu sorot yang ia rencanakan.

Sebuah suara mengalun merdu di udara, diiringi dengan musik yang tak kalah indahnya. Dia menyanyi dengan penuh rasa, membuai semua telinga yang sedang mendengarnya, mencoba berbicara dalam nada, berbincang di antara jiwa.

Lagunya seperti menuturkan kisah. Mendongeng tentang perih dalam kasih. Bercerita tentang pedihnya rasa yang terhenti di mulut, yang menggumpal di kerongkongan. Bersenandung tentang harapan yang hanya sekedar delusi namun terlanjur digenggam erat. Berbisik tentang lahir dan matinya sebuah romansa.

Ia menyanyikan cinta.

*

I don’t have much to give but i don’t care for gold

Why use is money when you need someone to hold

Don’t have direction I’m just rolling down this road

Waiting for you to bring me in from out the cold

Kubungkukkan badanku, bersusah payah melawan angin yang disertai hujan lebat. Jaket tebal yang kulapisi lagi dengan jas hujan masih belum mampu menghalau rasa dingin yang terasa menggigit. Kaca helm yang tengah kupakai tidak sepenuhnya mencegah air menusuk-nusuk kulit wajahku, yang mengalir membasahi leher dan terus turun ke dada.

Sedikit lagi, pikirku hampir putus asa, hanya sejauh satu blok lagi dan aku akan berhenti berurusan dengan hujan sialan ini.

Dan ketika aku hampir membeku, terlihatlah siluet rumah bertingkat yang sejak satu jam lalu telah menyita fokusku. Setelah sampai tepat di depan rumah tersebut, kumatikan mesin motor tuaku. Aku turun dari motor dengan badan kaku kemudian kugedor-gedor pagar tinggi yang membatasiku dengan kehangatan yang dijanjikan rumah tersebut.

“A-a-ayolah…” gumamku, setengah mati berusaha agar gigiku yang bergemeletuk tidak sampai menggigit lidahku.

Tak lama setelah suara keras gedoran yang kutimbulkan, aku mendengar decit kunci pagar yang sedang dibuka. Kemudian kulihat pintu pagar mengayun ke arah dalam, dan di hadapanku kini berdiri seorang wanita yang sedang mengenakan payung dengan senyum lebar serta gigi kelincinya tengah menyambutku. Lalu seakan aku tidak sedang diguyur badai, hatiku merasa hangat dengan hanya melihat senyumnya.

“Ya Tuhan! Kamu basah banget! Ayo, masuk!” serunya tiba-tiba, menyentakkanku kembali ke realita. Aku hanya tertawa kecil setelah mendengar seruannya kemudian menggiring motor tuaku masuk ke halaman rumahnya yang luas langsung menuju tempat parkir kendaraan di dalam.

Setelah aku memarkir motor tuaku, ia datang dengan sebuah handuk ditangannya. Ia menungguku melepaskan jas hujan kemudian menyeka bulir-bulir air di dahi serta leherku. Sikapnya yang tak pernah dapat membuatku terbiasa itu kini membuat pipiku memanas. Aku hanya bisa terdiam diperlakukan layaknya kekasih olehnya.

“Ya ampun! Kamu kuyup banget! Badan kamu basah semua tuh! Kenapa nggak nunggu hujan reda aja sih?! Kalau kamu masuk angin, gimana? Yuk ke dalam, kamu mandi dulu sana, nanti beneran masuk angin,” cerocosnya tak berhenti, sama sekali tidak memberikanku kesempatan untuk berkata-kata.

Aku tertawa geli melihat kelakuannya, lalu aku tba-tiba teringat sesuatu. Kurogoh-rogoh isi tasku yang agak basah, berharap isinya tak sampai kenapa-kenapa. Setelah menggapai sebuah bungkusan yang terasa cukup kering, kukeluarkan bungkusan tersebut. Aku mengangkatnya hingga sejajar dengan kedua manik mata indahnya.

“Oleh-oleh,” ucapku singkat seraya tersenyum kepadanya yang dibalasnya dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Senyum yang setiap malam menjadi hal yang terahir kubayangkan sebelum tidur.

“Terima kasih! Harusnya kamu nggak usah repot-repot,” ujarnya gembira kemudian mengambil bungkusan tersebut dari tanganku lalu mengecup kedua pipiku.

Kemudian tanpa menghiraukan aku yang membeku karena kecupannya yang kini terasa membakar kulitku, ia menarikku ke arah kamar mandi lalu mendorongku masuk.

“Mandi dulu sana! Nanti aku bawakan baju ganti punya kakakku. Kamu bisa ganti baju di kamar tamu,” ucapnya lalu pergi ke arah dapur meninggalkanku tersenyum-senyum sendiri.

*

“Hmmm, enaaakk!! Kamu tahu banget makanan kesukaan aku!” ucapnya hampir tak bisa kumengerti karena ia berbicara dengan mulut yang penuh martabak keju. Pipinya yang tembam kini semakin membulat ketika sibuk mengunyah. Matanya terpejam menikmati enaknya martabak yang sengaja kubeli dengan harga tidak seberapa.

Ketika akhirnya ia berhasil menelan segumpal besar makanan di mulutnya, ia membuka matanya lalu tersenyum ke arahku. Senyumnya layaknya mentari yang menghangatkan segalanya, kini dingin yang tadi hampir membunuhku sekejap sirna karena melihat senyumnya. Senyumnya menular, membuatku dengan mudah ikut menyunggingkan sebuah senyum di wajahku.

Kami berpandang-pandangan cukup lama, lalu tiba-tiba tawa kami meledak. Kami tertawa seperti orang bodoh hingga perut kami sakit dan air mata meleleh. Menertawakan kekonyolan kami sendiri, menyombong pada semesta bahwa kami adalah orang paling bahagia di muka bumi.

Namun seperti yang kalian tahu, selalu ada bayangan dalam cahaya. Takkan selamanya aku berbahagia seperti itu dengannya.

Hal yang sempat kutakutkan pun terjadi. Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, setelah berusaha mengontrol tawanya, ia menjawab panggilan masuk dengan sesekali tertawa kecil.

“Oh, Alex! Ya, aku dirumah… Apa?! Kau sudah di depan pagar? Mau apa kau kemari? Hahaha… Bercanda! Aku senang kau mau mampir… Iya… Sebentar, aku akan membukakan pagar.”

Hanya mendengar kau menyebut namanya saja rasanya seperti ada jutaan belati panas yang berulang kali menghujam jantung, merobeknya hingga teronggok nista. Kenapa kau pintar sekali mengukir tawa namun setelah itu menorehkan luka?

*

You’ll never know the endless night

The rhyming of the rain

Or how it feels to fall behind

And watch you call his name

“Kau sungguh tak perlu repot-repot, Alex!” serunya sumringah. Kedua bola matanya berbinar-binar gembira ketika melihat sekeliling lapangan ice skating yang ada di salah satu mall di Ibukota. Sekali lagi ia menatap Alex penuh damba, membuat nyeri di hatiku tak berkurang pedihnya.

“Ayo, Ray!” ucapnya girang ke arahku seraya menggelayut mesra di tangan Alex. Membuatku harus menahan perih yang semakin menjadi.

Aku hanya tersenyum dengan tetap menjaga langkahku sepelan mungkin. Mungkin jika aku berjalan dengan sangat lambat, mereka akan jauh berada di depanku lalu hilang dari pandangan. Dan mereka takkan mampu lagi menemukanku, lalu aku bisa pergi dari sana. Pergi jauh hingga rasa sakit itu berkurang, atau bahkan hilang.

Namun Mia tak mau melepaskanku begitu saja. Ia belum ingin berhenti menyiksaku. Ia belum cukup puas menorehkan berjuta luka di jiwa, mengucurkan darah hingga ku tiada berdaya. Ia menikmati membakar hatiku dalam api cemburu, hingga membusuk dan tergolek dalam pilu. Ia takkan berhenti hingga raga ini mati, takkan berhenti hingga ku dicekik sunyi.

Mia menjemputku, memeluk lenganku erat, melambungkan harapanku yang kupasung kuat-kuat di bumi. Ia melemparkan senyum yang membuatku melupakan sejenak luka-lukaku, yang beberapa saat lagi akan menikamku, membunuhku dalam bisu.

“Ayo, Ray! Kau lambat sekali seperti siput! Hahaha…”

Dan tak pernah kubayangkan hatiku kembali jatuh oleh tawanya.

Setelah menggiringku tepat ke pinggir arena ice skating, ia bergegas berganti sepatu lalu meluncur dengan mudahnya di atas bongkahan es. Ia tak hentinya tertawa-tawa bahagia. Tawa yang sedikit demi sedikit menjadi obat atas luka-luka. Namun tak kuduga tawanya juga bisa menjadi asam yang sedikit demi sedikit mengikis raga. Tawa yang dilantunkan ketika Alex bergabung dengannya dan mengajaknya menarikan waltz di atas lapisan es.

Ah, nyeri.

*

Pack up and leave everything

Don’t you see what i can bring

Can’t keep this beating heart at bay

Set midnight sorrow free

I will give you all of me           

Just leave your lover, leave him for me

Leave your lover, leave him for me

Sedu-sedannya menggetarkan tubuhku, air matanya membasahi bahuku, dan suara tangisnya otomatis merobek-robek hatiku. Malaikat dalam pelukku kini bergetar dalam himpitan pilu. Siapa yang tega membuat seorang malaikat menangis seperti itu?

Alex.

Ah, dia. Bajingan itu.

Mia bercerita dengan suara sengau dan tersendat-sendat. Menangis tersedu-sedu seperti itu membuat matanya sembab dan rambutnya berantakan, namun dalam keadaan seperti itu ia masih terlihat cantik. Ia masih mampu membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.

Alex-nya. Alex-nya yang sangat ia cintai tepergok sedang bercumbu dengan wanita lain. Mia menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, Alex-nya sedang asyik-masyuk bermesraan di salah satu hotel ternama di Ibukota. Mia mendapatkan kabar itu dari salah seorang temannya yang sedang bekerja di hotel tersebut, dan tanpa ba-bi-bu lagi Mia menyusulnya.

Apa yang menyambutnya saat itu praktis menghancurkan hatinya hingga menjadi serpih-serpih kecil. Jiwanya terguncang hebat hingga ia pergi meninggalkan muda-mudi yang sedang berbugil ria itu dalam keadaan membisu.

Yang kutahu, ia melesat cepat mendatangiku. Di bawah hujan yang membasahi tubuhnya, kulihat ia berdiri goyah di depan pintu kosku. Aku bertanya apa yang sedang dilakukannya hingga ia basah kuyup seperti itu, namun dia hanya membisu.

Tiga kali aku bertanya hal yang sama kepadanya, namun dia hanya menatapku hampa. Dan ketika aku memegang tangannya yang sedingin es, ia akhirnya bergumam.

“Alex?”

Aku tak mengerti apa yang dia maksud, namun kedua bola matanya yang sejenak penuh oleh kekosongan, kini menyuguhkan pemandangan pilu tentang hati yang tak hanya berdarah-darah namun juga bernanah.

Kemudian tangisnya memecahkan malam, merobek rinai hujan kala itu.

*

“Ia meminta maaf,” ucapnya pelan dalam pelukku.

Aku tahu.

“Ia berjanji tak akan mengulangi kebodohannya lagi.”

Aku juga tahu.

“Apa yang harus kulakukan, Ray?” tanyanya dengan nada sedih. Nada yang yang tak pernah kukira akan dilantunkan seperti itu olehnya. Dengan pandangan penuh luka serta jiwa yang terlihat rapuh. Kurasakan bahuku basah, air matanya kini mengalir lagi.

“A-apa yang harus ku-kulakukan, Ray?” tanyanya lagi, kali ini dengan tersedu-sedu.

Tak ada.

Tak ada yang perlu kau lakukan. Kau boleh berdiam diri selamanya disini, di pelukku. Aku yang akan membahagiakanmu. Aku yang akan menghapus segala lukamu. Aku yang akan mengukir kembali senyum yang lebih indah dan lebih bersinar dari yang kau punya dulu. Aku yang tak akan melukaimu seperti dia pernah melukaimu. Aku yang akan menyayangimu dengan seluruh hela napas dan denyut jantungku. Aku akan mencintaimu. Sekarang, selama-lamanya.

“Aku masih mencintainya,” ucapnya lirih.

Begitu sakit, namun aku tahu.

“Apa yang harus kulakukan, Ray?” tanyanya untuk kesekian kalinya.

Aku menghela napas pelan lalu menegakkan tubuhnya. Kemudian kutatap kedua bola matanya dalam-dalam. Mencari apa yang tersembunyi. Mencari apa yang tidak ada. Mencari sebuah harapan dalam kemustahilan. Mencari namaku di dalam relung hatinya.

Nihil.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucapku lamat-lamat, berharap dengan hanya sedikit kata yang kupunya, ia mampu mengerti.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucapku sekali lagi. Lebih pelan.

Dan ketika pemahaman hinggap di kepalanya, ia menangis sejadi-jadinya.

Ia menghambur ke pelukku. Menyurukkan kepalanya ke tulang belikatku dan mulai membasahi bajuku. Tubuhnya bergetar dengan hebat karena sedu-sedannya. Aku mengelus rambutnya, punggungnya, berusaha menenangkan dirinya.

“Ma-maaf,” ucapnya pelan di sela tangisnya.

“Hmm…” gumamku sebagai jawabannya. Ah, kini ia tahu.

“Maaf…” ucapnya lagi, sama pelannya.

“Tak apa. Ssst…. Sudah, jangan menangis…” ucapku seraya membenamkan wajahku ke dalam rimbun rambutnya. Tak dapat kucegah, air mataku meleleh.

“Maaf…”

Peluknya terasa bagaikan pelukan perpisahan. Terasa bagai yang terakhir untuk selama-lamanya. Kini di dalam hatiku yang pengap sudah tak ada lagi malaikatku. Ia terbang… pada saat yang sudah lama kuduga.

Ia terbang… dan tak akan pernah kembali.

*

We sit in bars and raise our drinks to growing old

Oh, I’m in love with you, but you will never know

But if i can’t have you, I’ll walk this life alone

Spare you the rising storms and let the rivers flow

Malaikatku terlihat begitu cantik. Ia kini menjelma menjadi dewi. Memar dan lebam di pipinya tak mampu disamarkan oleh perias yang mereka sewa. Cadar yang di pakai pun terlihat tiada guna. Malaikatku tetap terlihat cantik dengan senyum gigi kelincinya.

Ia menatap Alex penuh damba, sesekali meringis ketika lebam di tangannya berdenyut nyeri. Namun ringisannya juga tak menodai keindahan serta rasa bahagia di wajahnya. Dan tak jauh dari tempatnya berdiri, aku ada. Memasang wajah tanpa ekspresi. Setengah mati bersandiwara kalau aku telah merelakannya. Setengah mati berpura-pura aku tak lagi mencintainya. Setengah mati berusaha menipu hatiku yang terlalu pintar untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.

Kenyataan bahwa aku tak pernah berhenti mencinta.

Walaupun janji suci telah berkumandang di langit-langit ruangan, aku tak pernah berhenti mencinta.

*

You’ll never know the endless night

The rhyming of the rain

Or how it feels to fall behind

And watch you call his name

                    

Pack up and leave everything

Don’t you see what i can bring

Can’t keep this beating heart at bay

Set midnight sorrow free

I will give you all of me           

Just leave your lover, leave him for me

Leave your lover, leave him for me

Petikan terakhir gitarnya mengumandang penuh luka. Melelehkan air mata pada setiap pendengarnya. Malam yang sejenak sunyi kini penuh gempita. Setiap orang berlomba-lomba bertepuk tangan paling keras, memberikan apresiasi penuh kepada sang penyanyi, tak sedikit yang memberikan standing ovation.

Air mata meleleh tak hanya pada para pendengar, tetesan bening itu juga mengalir turun dari kedua manik mata sang penyanyi. Dilihat dari bahunya yang berguncang, para pendengar tahu betapa kencangnya sedu-sedan yang ada pada penyanyi tersebut.

Kini sang penyanyi telah selesai menyanyikan kisahnya.

Dan dalam tangisnya yang tiada berujung, ia berdoa untuk malaikatnya.

“Semoga bahagia selalu bersamamu,” ucapnya pelan.

Sepelan suara remuk serpihan hati terakhir.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s