Gerimis Mendekap

Betapa konyolnya hati ini, teronggok tak dikenali, terlantar tak ditinggali

Betapa bodohnya rasa ini, meradang menembus masa, membusuk dalam cerita

Kini gerimis seakan mendekap, selagi menunggu badai, pengap penuh harap

Layaknya hujan asam dalam kepala, membunuh bunga dalam asa

Kau pun sama, pelukmu mengikis tangis, meninggalkan nanah dalam darah

Kau pun serupa, kecupmu menggerogoti kalbu, menyenandungkan sendu dalam pilu

Kau pun tak beda, cintamu menggerus kasih, mendulang perih dalam pedih

Kini gerimis seakan mendekap, selagi menunggu badai, pengap penuh harap

Oh, Tuan,

Semesta tak pernah mendukung, tak kan mau menyokong

Hina ku membuat murka, usahamu berakhir nestapa

Dalam gelap ku meratap, dalam sunyi kau berharap

Ku tercekik dalam pekik, kau jera dalam dera

Kini gerimis seakan mendekap, selagi menunggu badai, pengap penuh harap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s