Tuan, Apa Kabarmu?

Aku ingin menggema

Meski berulang kali luka mendera

Aku ingin menggaung

Meski berulang kali derita kutanggung

Tuan, apa kabarmu? Sehatkah? Aku kini buta sama sekali tentangmu. Setiap akses yang dulu kupunya untuk sekedar mengetahui apa-apa tentangmu telah lama kubuang. Kucampakkan bagai seonggok kotoran yang tak pantas lagi kupandang. Kusingkirkan hingga ia terpaksa terbang, jauh mengawang.

Tuan, apa kabarmu? Bahagiakah? Aku kini terlalu sering menjadi penipu. Berulang kali berucap semua akan baik-baik saja tanpamu. Acap kali menyenandungkan semua tak akan ada bedanya tanpamu. Hingga kini hatiku yang pandai menipu sampai-sampai tertipu.

Tuan, apa kabarmu?

Luka di hati mungkin mengering, namun tak pernah benar-benar pergi

Kenangan dalam ingatan mungkin kan pudar, namun tak pernah benar-benar berhenti

Kamu dalam jiwa mungkin tiada, namun tak pernah benar-benar mati

Tuan, apa kabarmu?

Aku merindu. Setengah mati merindu. Aku rindu pesan singkat darimu, stiker-stiker konyol darimu, candamu, genggam erat tanganmu, suaramu, rambutmu, bahumu, parfummu, kolonyemu, hangat kulitmu, debar jantungmu, manis bibirmu. Dan yang membuatku hampir gila, rasa yang terbit ketika engkau berada dalam pelukku. Karena saat itu semua terasa benar.

Engkau bagaikan seremah surga dengan bayaran segumpal otak.

Tuan, apa kabarmu? Aku disini tak pernah benar-benar sendiri, namun tak jua merasa ditemani. Aku berharap, dan harapku tak pernah kemana-mana. Statis. Karena yang kuharapkan takkan mungkin pernah terjadi, bahkan kepada Tuhan-pun aku sanksi.

Hanya satu harapku, inginku. Yaitu mendekapmu erat, berbagi detak dalam detik.

Tuan, apa kabarmu? Aku disini telah selesai membaca satu novel lagi, bercerita tentang Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Maukah kau mendengar ceritaku sedikit? Tolonglah. Hanya ini yang bisa kulakukan dalam jurang keputusasaanku untuk dapat mengemis sedikit kabar darimu.

Aku jatuh cinta pada Arwin, Tuan. Mengapa? Sederhana saja, kisahnya sama dengan kisahku. Bukan, mungkin kisahku—kisah kita—hanya seujung kuku dibandingkan dengan kisahnya. Sakit hatiku bagaikan bulu-bulu halus pada sakit hatinya. Lukaku bagaikan goresan duri bila disandingkan dengan lukanya, yang berkucur darah, bernanah-nanah.

            “Jangan menangis. Aku mohon.”

            “Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi. Aku nggak akan mempersulit keadaanmu. Keadaan kita. Kita sama-sama sudah terlalu sakit. Bukan begitu?”

            “Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini…”

            “Perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada.”

            “Tidak akan mudah, tetapi aku nggak mau membuatmu tersiksa lebih lama lagi. Hanya saja, tolong, jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu sering mendengar kamu menangis diam-diam, dan itu sangat menyakitkan. Aku mohon.”

            “Lama aku berusaha menyangkal kenyataan ini, tapi sekarang nggak lagi. Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih. Maafkan aku nggak pernah menjadi sosok yang kamu inginkan. Tidak menjadikan pernikahan ini seperti apa yang kamu impikan. Tapi aku teramat mencintaimu, istriku… atau bukan. Kamu tetap yang kupuja. Dan, aku yakin tidak akan ada yang melebihi perasaan ini. Andaikan saja kamu tahu.”

Kini, mengertikah kau, Tuan?

Cinta yang membebaskan.

Itulah yang dimiliki Arwin dan yang tidak kumiliki.

Ahh, Tuan, kini sudah lebih dari 3 bulan 3 hari sejak pertemuan pertama kita. Semuanya terasa segar di kepala, terasa jernih di jiwa. Seandainya waktu dapat kuputar, tak kan pernah lagi kugenggam kau erat, jika dengan begitu kau semakin melesat. Akan kubebaskan engkau, karena Cinta adalah pembebasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s