Hujan Pertama di Februari

“Hujan.”

Aku tak sadar telah menggumam seraya menengadahkan tangan kananku ke udara. Segera saja titik-titik dingin membasahi telapak tangan serta sekujur tubuhku. Belum deras, hanya gerimis.  Gerimis kecil yang meninggalkan noda-noda gelap di jaket biru serta rok abu-abuku. Kembali aku merapatkan jaket untuk menghalau dingin yang telah kurasa sejak meninggalkan rumah pagi ini. Aku bergegas mempercepat langkahku, siapa yang tahu kapan gerimis ini akan menjadi hujan yang deras?

Dengan agak terengah akhirnya aku sampai pada halte tempatku biasa menunggu bus yang akan mengantarkanku ke sekolah. Tak lama setelah aku menenangkan debar jantungku, bus yang kumaksud datang, lengkap dengan lengkingan parau sang kondektur.

“Jambu, Neng! Ayo!”

Dengan sedikit melompat, aku berhasil masuk ke dalam bus. Otakku tak perlu berpikir dua kali untuk menduduki kursi yang berada di dekat jendela, kursi kedua dari belakang, berseberangan dengan pintu belakang bus. Kursi favoritku.

Aku beruntung, tak lama setelah aku menghempaskan bokongku ke kursi jelek yang busanya sudah banyak tercungkil, hujan turun dengan deras menerpa jendela disampingku. Suara air dingin yang membentur jendela meredam suara-suara lain di luar bus. Hening di dalam bus hanya sesekali dipecahkan oleh suara kondektur yang tengah memanggil-manggil penumpang.

Entahlah, hujan pagi ini terasa berbeda dengan hujan biasanya. Bau tanah basah yang dibawa hujan kali ini mengorek terlalu banyak memori tentangnya. Desau angin yang datang bersama hujan kali ini membisikkan terlalu banyak detail dirinya. Hujan pagi ini terasa menghujamkan ketakutan akan perpisahan.

Firasat.

***

Lama aku berpikir, memilah-milah tentang apa yang kini kurasa, ketika tiba-tiba seseorang menghempaskan tubuhnya tepat di kursi disampingku. Aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya karena bahu kita saling bersentuhan. Samar-samar kudengar ia menggumamkan “maaf” karena telah mengejutkanku.

Fokusku kini ada padanya. Kuperhatikan jaketnya agak kuyup terkena hujan, begitu juga tudung kepala yang segera ia buka hingga terlihat rambut hitamnya yang agak basah. Pandanganku terus turun hingga berhenti pada celana abu-abunya yang juga sama kuyupnya. Ia bisa kedinginan dan masuk angin jika tidak segera berganti pakaian.

Oh. Apa peduliku.

Dan setelah berpikir seperti itu, aku mendengar dengkur halus dari dirinya, yang entah mengapa membawa damai dalam hatiku selama sisa perjalanan.

***

“Jadi pulang bareng?”

Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, namun aku baru melangkahkan kakiku ke gerbang sekolah setelah habis kesabaranku karena menunggunya.

“Pulang bar—? Astaga, Am, aku lupa! Maaafff banget…”

Aku menghela napas pelan, masih kudengar segala permintaan maaf yang masih saja ia selorohkan dari seberang sana. Kupindahkan handphone dari telinga kananku ke telinga kiriku seraya berkacak pinggang, sebal.

“Tapi kamu sudah janji,” ujarku pelan, lelah.

“Iya, Am. Maaf. Maaf banget nih. Aku ada tugas yang harus segera diselesaikan, kalau nggak nanti aku bisa tinggal kelas. Kalau nanti aku tinggal kelas berarti kita nggak bisa ke prom bareng dong. Kamu mau dansa-dansi sendiri seperti orang gila? Hehehe…”

Kalau sudah digoda seperti itu aku bisa apa? Akhirnya setelah basa-basi selama beberapa menit, ia memutuskan hubungan. Aku menatap handphone-ku dengan lelah seraya sekali lagi menghela napas pelan.

“Biar lo tau aja, kelas kami sama sekali nggak diberi tugas apapun oleh guru manapun,” ucap Anggun yang tiba-tiba sudah ada disampingku. Ia memandangiku dengan sorot mata yang membuatku risih. Kasihankah?

Kuduga ia telah mendengar seluruh percakapan kami. Aku yang tidak tahu harus memberikan respon apa terhadap ucapannya hanya memberikannya senyum singkat.

“Dia berubah, Am,” ucapnya lagi. Kata-katanya mampu memercikan perih di hati.

Sekali lagi aku menghela napas pelan. Ya, dia berubah.

***

Mendung.

Akhir Januari memang menjadi puncaknya musim hujan di kotaku. Aku menghela napas, membuat jendela bus yang kini tengah membawaku berembun. Gemuruh serta kilatan-kilatan petir seakan mengancam akan membasahi bumi pagi ini, beruntung aku dapat menaiki bus sebelum hujan turun.

Dan keberuntungan sepertinya juga dialami olehnya. Kali ini ia menaiki bus dengan pakaian kering. Rambut hitamnya tetap basah, kali ini bukan karena hujan. Ia tidak menutup ritsleting jaketnya, membuat kemeja putih dengan bordiran sebuah nama di dadanya terlihat dengan jelas.

Ia kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi di sampingku, bergerak-gerak sedikit, membuat dirinya nyaman. Hingga pada saat kedua manik mata miliknya bertemu dengan milikku, ia tersenyum singkat. Sangat singkat. Hingga sampai sekarang aku tak yakin apakah dia benar-benar tersenyum kepadaku atau senyumnya hanya khayalanku saja.

Aku masih terpaku menatap wajahnya hingga dengkur halusnya dengan lembut menyentakkanku kembali ke dunia nyata.

Oh. Apa peduliku.

Tapi aku tak bisa tak peduli, karena namanya kini bagai melayang-layang dipikiranku.

Indra P.

Dan sekarang aku tersenyum-senyum seperti orang tolol.

***

Aku berdiri di depan kelasnya, celingak-celinguk seraya memegangi kotak bekal yang berisi masakanku yang kubuat khusus untuk hari ini. Hanya seporsi nasi goreng dengan hiasan-hiasan imut. Aku sengaja bangun lebih pagi untuk membuat nasi goreng ini, dan harus menyumpal telinga rapat-rapat dari godaan abang dan ayahku.

“Nyari Hariel?” bisik Anggun tiba-tiba, membuatku hampir menjatuhkan kotak bekal yang kubawa. Melihatku yang melotot karena sebal atas kelakuannya, dia hanya nyengir.

“Hariel dari tadi nggak keliatan, Am. Kayaknya sih dia nggak masuk hari ini. Memangnya lo nggak dikasih kabar?” jelas Anggun. Melihat reaksiku yang agak terkejut atas apa yang disampaikannya mungkin membuat ia mengerti. Tanpa menunggu jawaban dariku ia tersenyum memahami seraya meremas lenganku pelan, menguatkanku.

“Eh, Amani! Ngapain berdiri di pintu? Masuk aja, ayo!” seru Bintar tiba-tiba dari balik punggungku, membuatku terkejut untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

“Uhm, nggak usah, Tar. Trims ya, hehe…” ujarku padanya, setengah mati meredam rasa kecewa dalam hati.

“Yah, kenapa? Eh, itu apa? Makanan ya? Buat siapa?” ceracaunya riang, membuat Anggun yang memahami perasaanku saat itu mendelikkan matanya tajam ke arah Bintar.

“Oh, ini? Ini cuma nasi goreng, kok. Buat Hariel, tapi orangnya nggak masuk ya? Yaudah buat kamu aja nih.”

Aku memberikan kotak bekalku padanya, melihat mukanya yang sumringah hanya karena kotak bekal berisi makanan membuat hatiku sedikit terhibur walaupun tak sampai mengusir gundah dalam hati.

“Waaahh, trims banget Am! Hehehe, tau aja kalo gue lagi laper. Eh, ngomong-ngomong, emangnya si Hariel nggak ngabarin kalo dia nggak masuk hari ini?” ucap Bintar menanyakan hal yang sama dengan Anggun. Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

“Kalian putus atau gimana?”

Aku agak terkejut mendengar pertanyaannya. Apakah orang-orang disekitar kami juga merasakan perubahan yang aku rasakan?

“Uhm, nggak. Memangnya kenapa?”

“Oh, kirain. Sorry ya gue nanya yang macem-macem. Trims by the way buat makanannya, hehehe…”

Aku melihat Bintar yang berjalan kembali ke mejanya dengan ekspresi bahagia seraya sesekali memamerkan apa yang ia dapat ke beberapa temannya. Aku merasakan ada yang janggal padanya. Mungkin hanya firasat, tapi aku harus memastikan sesuatu.

“Kamu tahu sesuatu, Nggun?” tanyaku kepada Anggun. Ia masih berdiri disampingku dengan memicingkan matanya ke arah Bintar. Kuduga ia juga merasakan ada sesuatu yang aneh.

“Enggak, tapi gue bakal cari tau,” jawabnya seraya tersenyum menenangkan.

***

Hujan.

Kurapatkan kembali jaketku, berharap karenanya dapat menghalau dingin yang seolah menggerogoti kulit. Kubiarkan butiran-butiran hujan yang lolos dari celah jendela yang sedikit kubuka membasahi wajahku, membuatku tetap terjaga.

Aku merasa sangat letih pagi ini. Tak heran, aku baru bisa terlelap pada pukul dua pagi dan harus bangun pada pukul empat. Sempat terbersit untuk membolos namun senyum Mama pagi ini mengurungkan niatku tersebut. Aku tak kan sanggup melihat kekecewaan menghapus senyumnya yang kusuka.

Kafein dan rasa khawatirlah yang membuatku tetap terjaga sepanjang malam. Seharian Hariel tak mengabariku walaupun sudah berkali-kali aku mencoba untuk menghubunginya. Akhirnya pada pukul satu pagi kuberanikan diri menghubungi kakaknya yang lumayan dekat denganku. Beruntung dia belum tidur walaupun sudah selarut itu dan memberitahu kalau Hariel sudah pulang sejak pukul delapan. Aku hanya memberikan jawaban samar ketika ia bertanya tentang apakah ada permasalahan antara aku dan Hariel. Sejam setelah itu barulah aku bisa tertidur.

Lamunanku dibuyarkan ketika ada seseorang yang menduduki kursi disebelahku. Ternyata dia, Indra P. Hari ini tampangnya tak jauh berbeda dengan dua hari yang lalu dengan rambut basah serta seragam yang juga basah.

Sama seperti dua hari yang lalu, ia bergerak-gerak sedikit untuk membuat posisi yang nyaman sebelum kemudian bersiap untuk terlelap. Dan sama persis seperti dua hari yang lalu, mata kami saling bertemu.

Namun dia hanya memandangiku heran dan tak melayangkan senyum singkatnya. Namun sampai sekarang aku toh tak benar-benar yakin apakah benar dia tersenyum padaku atau tidak saat itu.

“Kau basah.”

Gumamnya singkat namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Suaranya sangat khas lelaki, dalam dan menenangkan. Entah kenapa aku langsung teringat pohon pinus dan rerumputan hijau ketika mendengar suaranya.

“Kau juga,” gumamku sama singkatnya, dalam hati merutukki kemampuan otakku yang tidak mampu melontarkan kata-kata yang lebih cerdas saat itu.

Ia tersenyum geli sebagai respon lalu merogoh-rogoh sebentar ke dalam saku celananya. Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan sebuah sapu tangan biru langit dan menyodorkannya kepadaku. Aku tak mengerti apa yang dimaksudkannya karena fokusku melayang kepada bentuk wajahnya yang menyenangkan. Jadi aku hanya diam dan memandanginya bingung.

“Pakailah, untuk mengeringkan wajahmu.”

Oh.

Segera kulebarkan sapu tangan tersebut dan menyeka wajahku dengannya. Aku baru menyadari kalau ternyata wajahku sangat basah. Dan aku juga menyadari kalau sapu tangan tersebut mempunyai harum seperti cokelat.

Setelah aku selesai mengeringkan wajahku, aku mengembalikan sapu tangan tersebut kepadanya namun pemilik sapu tangan tersebut sudah tertidur. Aku yakin kalau dia belum benar-benar terlelap karena tidak ada dengkur halus yang terdengar seperti biasanya.

Dalam riuh-rendah suasana bus itu, aku mengamati wajahnya lebih lama. Aku menemukan hal-hal lucu seperti bagaimana alisnya yang tebal terlihat aneh jika disandingkan dengan dahinya yang cukup lebar. Hidungnya yang mancung sangat pas dengan pipinya yang agak gembil. Rambut klimis dan kumis tipisnya layaknya anak-anak muda zaman sekarang. Bibirnya yang agak penuh dan berwarna pinkbenar-benar pink—sempat membuatku terpesona. Tanpa bisa kucegah, aku tersenyum. Wajahnya menyenangkan.

Namun ketika aku bepikir seperti itu, kedua kelopak matanya tiba-tiba terbuka dan tatapannya langsung terarah tepat ke kedua mataku. Aku gelagapan karenanya dan bergegas memalingkan wajahku yang memerah karena malu, entah seperti apa tampangku saat itu.

Ia menghela napas pelan namun tak berkomentar apa-apa. Beberapa saat kemudian ia menegakkan tubuhnya kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Kau kelelahan.”

Ia menatapku lagi, kali ini lebih lama. Dari semuanya, aku paling menyukai matanya. Berwarna cokelat gelap yang terkesan hangat. Hangat namun terasa teduh. Dibawah kelopak matanya ada lingkaran gelap, menyiratkan pemiliknya telah beberapa hari ini kekurangan waktu istirahat.

Ia mendengus pelan mendengar kata-kataku, “Kau juga.”

***

Kamu dimana?

Aku hanya menatap kosong layar handphone-ku. Sudah dua kali dalam waktu sepuluh menit Hariel mengirim pesan singkat kepadaku namun aku sama sekali tak membalasnya. Kini aku berada di ruang konseling sekolahku yang biasanya sepi dengan hanya ditemani seorang adik kelas yang sedang kebagian piket. Dengan kata lain aku sedang menghindarinya.

Kupikir aku hanya perlu menunggu kurang lebih setengah jam lagi lalu setelah itu aku bisa pulang dengan tanpa melihat wajahnya. Wajah yang setengah mati kurindukan. Wajah yang harus kuhindari demi egoku. Wajah yang kini entah kenapa terasa seperti mengancam akan membuat luka di jiwa.

Lima menit setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki, semakin lama semakin jelas langkah kaki itu menuju ke ruangan ini. Dan benar, kulihat pintu ruangan konseling terbuka lebar dan segera saja kulihat senyumnya yang menawan seperti biasanya.

“Main petak umpet nih?” tanyanya dengan cengiran yang seakan tak mau lepas dari wajahnya.

Aku hanya memandangi sosoknya yang biasa memberikan kehangatan, namun tidak lagi untuk kali ini dan beberapa waktu kemarin. Aku menghela napas, lelah. Lelah dengan permainan macam apa yang tengah ia mainkan kini.

Aku membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas lalu berjalan keluar melewati adik kelas yang sejak tadi mengulum senyum, menunggu entah drama macam apa yang akan dia saksikan.

Aku tetap membisu saat berjalan melewati Hariel, yang juga tak mencegahku untuk pergi. Hariel cukup pintar untuk membicarakan semuanya di luar tanpa ada adik kelas yang usil menguping. Setelah ia menutup pintu di belakangku, ia bergegas berlari kearahku dan mencengkeram erat tanganku, mencegahku untuk pergi lebih jauh.

Dan seperti yang sangat kutahu, ia akan meminta maaf. Dengan wajah polosnya. Dengan suara jenakanya. Dengan kecup lembutnya di dahiku. Dengan remasan hangat tangannya pada jemariku. Dengan senyumnya yang kukira  hanya untukku. Dan dengan kebodohanku, aku menerima maafnya.

***

Matahari bersinar cerah kali ini, seakan mengkhianati perasaanku.

Sudah dua kali dalam dua hari aku tak mendapatkan tidur yang cukup. Kantung mataku terlihat semakin menghitam dan jelas kali ini, dan aku telah menyerah untuk mencoba menyamarkannya dengan peralatan make-up Mama.

Aku baru saja hendak memakai tudung jaketku untuk menghalau sinar mentari yang terasa menusuk-nusuk kelopak mata, ketika ia datang dengan kantung mata menggayut. Tampangnya sama parahnya dengan tampangku, dan aku tak bisa untuk menahan senyum ketika melihatnya.

Ia membalas senyumku tepat sebelum ia menghempaskan tubuhnya ke kursi disampingku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya dari jarak sedekat ini, dan entah kenapa kesadaran akan hal itu membuat mukaku memerah dan udara terasa beberapa derajat lebih hangat.

“Kau terlihat parah.”

Ia berkata seraya memejamkan matanya, berniat untuk tidur sebentar. Aku baru akan balas mengatai tampangnya yang tak lebih baik dariku pagi ini ketika sebuah pesan masuk ke aplikasi LINE-ku. Suara deringnya juga didengar oleh Indra yang kemudian membuka matanya lalu menatap ke arah handphone dalam genggamanku.

Aku memutuskan untuk mengacuhkannya dan memeriksa kotak masukku. Ternyata dari Anggun yang mengirimiku gambar. Dengan rasa penasaran yang meningkat, aku membuka pesan darinya.

Ada tiga foto. Samar-samar aku mengenali sosok lelaki yang ada dalam ketiga foto tersebut. Dan saat sebuah pemahaman menghantam kesadaranku, rasa sakit yang selama ini kutakutkan akhirnya datang.

Lebih sakit dari yang pernah kubayangkan.

Foto pertama adalah foto Hariel yang diambil secara diam-diam. Ia bersandar pada motornya dengan posisi agak membelakangi kamera. Dalam foto itu ia bersama dengan seorang perempuan yang terasa familiar oleh ingatanku, tapi siapa?

Foto kedua adalah foto Hariel yang sedang memakaikan helm kepada perempuan itu. Perempuan tersebut tersenyum begitu lebar hingga kupikir apakah mulutnya tidak akan robek jika ia tersenyum lebih lebar lagi?

Dan foto terakhir adalah foto Hariel yang sedang berboncengan oleh perempuan tersebut. Ia dipeluk erat dari belakang, terlihat mesra.

Melihatnya membuat hatiku terpilin. Sakit.

“Hei.”

Suaranya mengejutkanku, namun aku tak menggubrisnya karena baru saja ada pesan masuk dari Anggun.

Bintar udah cerita semuanya sama gue. Cewek itu satu tingkat di bawah kita. Dia udah sebulan ini deket sama Hariel, tapi Bintar sama sekali nggak tahu mereka udah pacaran atau belum. Sorry, ya. Lo nggak apa-apa kan?

“Hei,” panggilnya sekali lagi, “Kamu kenapa?”

Aku berpaling ke arahnya, bingung. Sebelum aku mampu berbicara, mataku menangkap sosok dengan jaket yang sangat kuingat, begitu juga dengan helm dan motornya.

Hariel.

***

Hanya butuh tujuh detik untuk berdiri sedekat ini dengannya.

Satu detik untuk berteriak ke arah kondektur. Dua detik untuk berlari ke arah pintu bus. Dua detik untuk melompat dari atas bus yang belum benar-benar terhenti. Dua detik untuk bergegas  ke arah Hariel. Dan di sanalah dia, berdiri membelakangiku, asyik bercengkerama dengan seorang perempuan cantik.

“Kamu kenapa sih!?” Indra tiba dengan terengah-engah disampingku. Namun aku masih tak menggubrisnya. Ada hal yang lebih penting. Suara Indra membuat sang perempuan menoleh ke arahku, memandangi kami dengan kebingungan.

“Hariel,” panggilku pelan.

Orang yang kupanggil namanya akhirnya menoleh ke arahku. Sorot matanya terkejut ketika pandangannya menemukanku.

“Hariel,” namanya masih disebut diantara kami, namun bukan mulutku yang mengucapkannya. “Dia temen kamu?” tanya perempuan tersebut dengan polos, kemudian ia melempar senyumnya yang teramat manis kepadaku.

“Uhm… i-itu…”

Ah, tipikal cowok.

“Oh, bukan kok. Kita cuma kebetulan satu sekolah kok. Tadi aku niatnya mau minta tumpangan ke Hariel soalnya ban motorku bocor. Eh, tapi kayaknya Hariel nggak bisa,” ujarku seraya memberikan senyuman terbaikku kepada dua orang di hadapanku. Apa lagi yang kubisa? Mengungkap semuanya kalau Hariel lelaki brengsek yang berani-beraninya membuat suatu ikatan dengan perempuan lain di saat ia masih dalam suatu ikatan denganku?

“Ah, aku bisa naik angkutan umum kok,” ucap perempuan itu seraya melepaskan helmnya.

Lelaki brengsek yang berhasil mendapatkan perempuan baik. Semesta lagi-lagi membuatku bingung dengan caranya bekerja.

“Nggak usah, biar dia sama aku aja,” ujar Indra tiba-tiba sebelum Hariel sempat berkata apa-apa. Aku dan Hariel sama terkejutnya dengan ucapan Indra. Orang yang baru saja membuatku bingung hanya menatapku lekat tanpa ekspresi.

“Ah, bagus deh kalau begitu,” ia bersorak kegirangan dengan polosnya, sama sekali tak melihat raut kecewa pada wajahku dan pandangan bersalah dalam matra Hariel, “Har, yuk jalan, temen kamu udah ada yang bisa ditebengin. Aku mau buru-buru sampe ke sekolah, ada majalah fashion baru yang mau aku kasih liat ke Tiara.”

Ah, bukan, bukan baik. Bodoh. Terima kasih Semesta.

Dan mereka pergi. Dengan perempuan itu memeluk mesra Hariel seraya melambaikan tangannya pada kami berdua. Meninggalkanku dengan rasa sakit yang sakitnya tak terperi. Aku menghela napas panjang, aku hanya perlu tegar sampai Indra pergi. Hingga ia pergi jauh, hingga ia takkan mampu melihat air mataku yang rasanya telah menggenang di pelupuk mata.

Aku harus kuat, seperti biasa.

“Nggak usah sok kuat.”

Kata-katanya memotong ucapanku, membuatku terkejut. Indra masih disana, disampingku. Baru kusadari hampir tidak ada jarak diantara kita. Bahunya bersentuhan dengan bahuku. Salah satu tangannya memegangi tasku yang baru kusadari tak sempat kubawa pada saat turun dari bus.

“Nggak usah sok kuat,” ucapnya lagi. Ia mengucapkannya dengan lebih pelan, irisnya menghujam milikku. Cokelat tua yang hangat namun teduh. Kata-katanya, matanya, menatapnya membuatku tersihir.

Aku tak perlu berpura-pura kuat. Ada dirinya yang entah kenpaa membuatku percaya kalau ‘semua akan baik-baik saja’. Ada dirinya yang membuatku yakin kalau aku tak sendiri dalam kubangan kesedihan ini. Ada dirinya kini, disampingku, entah sampai kapan, namun dirinya ada.

Sedetik kemudian aku sudah berada dalam peluknya. Entah siapa memeluk siapa.

Dan aku menangis, membasahi kemejanya.

Layaknya hujan pertama di Februari.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s