Kangen

Hujan kali ini menelurkan rindu, menetaskan sendu.
Hujan kali ini berbeda. Rinainya lebih membuai, membawaku jauh ke dalam asa dimana kau tertidur tenang dalam dekapanku. Bersama merasa angkuh. Bersama mengacuhkan dunia.
Hujan kali ini berbeda. Dinginnya lebih menusuk, menghujam hati yang dulu pernah membara dibakar ciuman panas darimu. Sepanas percikan api. Seabadi mentari.
Hujan kali ini berbeda. Hujan kali ini tanpamu.
Sayang, aku tak pernah semerindu ini. Tak pernah merasa sesendiri ini. Tak pernah kuduga akan sesakit ini.
Ingin kumaki semesta, yang dengan jalang menciptakan rasa ini. Rasa ingin menggenggam apa yang sudah tak dapat digenggam. Mengecup yang tak mungkin dapat dikecup. Memeluk yang mustahil dipeluk.
Ingin kucaci semesta, yang dengan brengseknya memaksaku melepasmu. Meninggalkan segalanya kecuali kosong di hati. Pada akhirnya semua bagaikan menggengam udara. Dia ada, namun tak ada. Ada disana, namun tak ada disana.
Ingin kuludahi semesta, ingin kutampar rasa.
Sayang, kau pergi. Pergi. Pergi…
Sayang, kau pergi dan takkan kembali. Meninggalkanku yang harus bergelut dengan sepi. Meninggalkanku yang harus babak belur karena merindu. Meninggalku yang setengah mati menggapai udara karena dicekik rasa cinta yang rasanya tak akan sirna.
Hujan kali ini mengantarkan sejuta kenangan. Mereka menerobos masuk ke dalam sanubari, meruntuhkan dinding angkuh yang kubuat untuk melupakanmu. Semua sia-sia. Usahaku tak berguna. Kau tetap disana, disudut jiwa, menatapku penuh rahasia.
Hujan kali ini mengantarkan sejuta rasa. Rindu.. Kesal.. Amarah.. Cinta.. Sayang.. Jengkel.. Rindu.. Dan rindu lagi.
Hujan kali ini membawamu ke dalam pelukanku.
Aku mencoba terbiasa dengan lubang kosong di hati. Yang terkadang mencuri napas, mencekik paru. Yang terkadang menyebar sepi dalam darah, mengumbar perih dalam jiwa.
Tahukah kau, Sayang? Tentu kau tak tahu. Kau pergi terlalu cepat, meninggalkan lebih banyak perih serta pedih. Meninggalkan luka berdarah yang kemudian hari akan menjadi nanah.
Tahukah kau, Sayang? Tentu kau tak tahu. Aku yang terlalu pengecut untuk meluapkan segalanya. Meluapkan rasa. Meluapkan asa. Terlalu hina karena dipecundangi semesta.
Tahukah kau, Sayang? Tentu kau tak tahu. Kau terlalu cerdik, terlalu apik membangun tembok tak kasat mata diantara kita. Yang mendorongku, menamparku ketika rasa sudah diujung lidah.
Tahukah kau. Sayang? Tentu kau tak tahu.
Aku pernah benar-benar mencintaimu.
Ahh, hujan kali ini menelurkan sendu, menetaskan rindu.
*
20:55
Zen Ashura
Tribute to 261195

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s