Little Voice Inside (Part 3 of 4)

Kurasakan benjol di kepalaku masih berdenyut-denyut nyeri, tapi ini semua karena ulahnya.

Memangnya reaksiku harus seperti apa ketika melihat ada seorang pria yang bertelanjang bulat sedang tertidur pulas disampingku? Bukannya itu harusnya cukup membuat lelaki macho manapun menjerit seperti gadis perawan? Belum lagi aku harus jatuh terjengkang dari tempat tidur serta hampir membuatku gegar otak karena membentur meja.

Kini sang pelaku sedang duduk diatas tempat tidur dengan masih tanpa busana. Namun ia cukup bijak untuk menutupi tititnya dengan selimut. Kulihat raut mukanya begitu masam, kurasa karena ia dibangunkan di pagi buta dengan jeritanku yang sudah pasti jauh dari merdu.

“Jadi…” ucapku berniat untuk memulai pertanyaan.

Ia mendelik ke arahku, namun aku tak terintimidasi oleh sikapnya kali ini. Aku sibuk berpikir apa yang telah dia—kita—lakukan semalam. Aku merinding hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi.

“Jadi… apa yang terjadi semalam?”

Setelah aku bertanya seperti itu, ia tak langsung menjawab. Hening yang melanda membuat bulu tengkukku meremang. Kulihat senyumnya semakin lama semakin terkembang. Senyum piciknya membuatku ngeri memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Apakah aku sudah tidak perjaka lagi?

Aku berjengit ketika memikirkan itu. Dan entah kenapa senyum piciknya semakin lebar dari detik ke detik. Rasanya ingin kulempar saja wajahnya dengan sepatu yang berada dekat dengan kakiku.

“Semalam ya?” ucapnya lambat-lambat, kemudian ia menjilat bibirnya sendiri bagai serigala yang kelaparan. Setelah melihat ekspresinya yang penuh dengan rasa lapar, tanganku otomatis bergerak untuk menutupi tititku.

“HUAHAHAHAHA!!!”

Tanpa kuduga ia tertawa terbahak-bahak.

“MUKA LO!! MUKA LO!!!! BUAHAHAHAHAHA!!!” ucapnya disela-sela tawanya. Ia tertawa hingga terbungkuk-bungkuk seraya memegang perutnya. Disela-sela tawanya ia masih sempat melempar sebuah bantal ke arahku. Lemparannya tepat mengenai wajahku dan sukses membuat kepalaku terbentur ke dinding di belakangku.

Kuharap malaikat kematian mencabut nyawanya saat ini.

“Astaga… astaga… Fuuuh… Haaah…” Ia mencoba menenangkan dirinya setelah beberapa kali usahanya tak berhasil. Berkali-kali ia menarik napas dalam-dalam. Ketika dokter bajingan ini mampu mengontrol tawanya, barulah ia menjelaskan segalanya.

Dokter Adam menjelaskan secara singkat namun mudah dimengerti tentang apa yang terjadi seharian kemarin. Ia menjelaskan bagaimana persisnya keadaanku kemarin, lalu ia menerangkan tentang alasannya membawaku kerumahnya dan bukan kerumahku. Ia juga menjelaskan bagaimana caranya kami berdua bisa berakhir di atas ranjang dengan tanganku memeluk tubuh bugilnya.

“Makanya lo mikir, bego!” ucapnya pelan namun tajam, “Kalau kita beneran ‘ngapa-ngapain’, mana mungkin lo bangun dengan pakaian masih lengkap kayak gitu!”

Kata-katanya membuatku tersadar untuk melihat keadaanku. Benar juga, pakaianku masih persis sama dengan yang kukenakan kemarin pagi. Ia mendengus keras ketika melihatku mengecek tubuhku sendiri. Samar-samar kudengar kata ‘bego’ terucap dari mulutnya.

Setelah dia rasa semua yang perlu dijelaskan sudah diungkapkan, ia merebahkan tubuhnya sendiri yang masih telanjang bulat ke atas kasur dan melanjutkan tidurnya. Tak berapa lama, terdengar dengkur halus dari sosoknya. Kini hanya suara dengkurnya serta detik jam yang terdengar, menghalau sunyi.

Aku memikirkan banyak hal dalam kesunyian ini, seperti tidak seharusnya aku sehisteris tadi ketika aku mengetahui kalau aku bermalam di rumah seorang pria. Bukannya aku sudah sering bermalam dengan sahabat-sahabatku bahkan dengan keadaan yang sama-sama hampir telanjang? Lalu kenapa sekarang aku harus bertingkah aneh?

Apakah karena Dokter Adam berbeda?

“Darimana lo tahu kalau gue seorang gay?”

Aku tersentak dari lamunanku. Kukira ia sudah jatuh tertidur. Aku mendengar pertanyaannya dengan sangat jelas, walaupun begitu aku terlalu kaget untuk menjawab.

“Hah?!” ucapku otomatis menjawab pertanyaannya yang tiba-tiba.

“Sudahlah, nggak usah pura-pura. Gue tahu lo tahu. Darimana lo tahu?” tanyanya sekali lagi dari balik selimut, membuat suaranya agak teredam.

Aku hanya diam. Aku tak mampu menjawab pertanyaannya kali ini. Aku terlalu takut dengan apa yang akan terjadi nantinya jika mengaku kalau Mas Riki yang memberitahuku semuanya. Apakah kalau aku mengaku nantinya Mas Riki akan kehilangan pekerjaannya?

“Mas Riki ya?” tanyanya dengan kepala menyembul dari balik selimut. Kulihat matanya yang sayu kelelahan menatap tajam ke arahku, mengebor manik mataku seakan mencoba membaca pikiranku. Aku memutuskan untuk tetap diam, namun aku bukanlah pembohong yang baik. Mataku mengkhianatiku.

“Dasar ember…” gerutunya pelan kemudian menarik selimutnya lagi hingga menutupi kepalanya lalu melanjutkan tidur, “Lo bukan tipe gue, jadi tenang aja. Gue gak akan ‘ngapa-ngapain’ lo, kok.”

Aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa.

“Lagian, gue nggak akan ngerusak apa yang gue suka,” gerutunya tak jelas dari balik selimut.

***

“KRUYUUUUUKKK…”

Perutku berbunyi keras, hingga terasa seperti menggetarkan langit-langit kamar. Kulihat sebuah poto dalam pigura yang tergantung di dinding kamar juga ikut bergoyang. Kuperhatikan ada sesosok wanita cantik dalam poto itu sedang memeluk mesra Doktor Adam.

Bukannya Doktor Adam gay?

Belum sempat aku memikirkan lebih lanjut tentang pertanyaan yang muncul dikepalaku, terlihat sebuah kepala yang menyembul dibalik selimut. Sorot matanya terlihat mengantuk seperti seseorang yang tidak tidur semalaman. Atau kenyataannya memang begitu?

Sepasang pupil hitam tersebut menatapku tajam sebelum kembali hilang dari balik selimut dan diikuti dengan erangan pelan sang empunya mata.

“Laper?” tanyanya seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuh bugilnya lalu duduk disisi ranjang. Kurasakan pelan-pelan darah mengalir deras ke kepalaku, memerahkan wajahku. Kutundukkan kepalaku agar terhindar dari pemandangan yang membuat dadaku berdebar-debar tersebut. Dengan wajah masih memerah, kuanggukkan pelan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.

Kudengar kasurnya berderit pelan ketika ia beranjak dan berjalan menuju lemari di sisi lain kamar. Tiba-tiba kurasakan sehelai handuk mandi telah bertengger di atas kepalaku yang masih menunduk.

“Mandi dulu sana!” perintahnya pelan lalu mengambil sehalai handuk untuk dirinya sendiri kemudian melilitkannya ke pinggang.

Ketika ia sudah benar-benar lulus sensor, baru kuberanikan diri untuk menatap ke arahnya. Sosoknya yang kini menjulang di tengah-tengah kamar sedang berkutat dengan ponsel mewah yang ia miliki. Tangan kirinya yang bebas menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.

Sorot matanya yang terlihat begitu serius kini membuat alisnya yang hitam saling bertaut. Tajam sorot matanya sama persis seperti ketika beliau sedang memeriksa para pasien, menunjukkan fokus yang amat sangat. Entah kenapa sosoknya yang setengah telanjang kini membuat dadaku berdebar-debar.

Kurasakan sekali lagi darah mengalir dengan deras menuju ke kepalaku, membuat wajahku memerah bahkan lebih merah padam daripada beberapa saat lalu.

“Mandi, woy!!”

Sentakannya membuatku terkaget-kaget. Tanpa babibu lagi, aku segera lari menuju ke arah toilet. Tapi…

“Kamar mandinya dimana, Dok?”

Kalau ada lubang, mungkin aku sudah mengubur diriku hidup-hidup karena malu.

“Bego. Dari sini ke kanan. Terus lurus sampai kelihatan kamar mandinya. Pakai aja sikat gigi yang baru, ada di rak.”

***

Usai mandi aku memakai pakaian milik dokter yang telah disiapkan olehnya. Pakaian itu terlipat rapih diatas kasur, ketika aku mengangkatnya sebuah kertas kecil berisi tulisan tangan sang dokter terjatuh ke lantai dekat dengan kakiku.

Pakai ini. Bersih kok. Dalemannya terserah mau dipakai atau nggak. Gue nggak tanggung jawab kalau lu tiba-tiba kondor karena nggak mau pakai celana dalem gue. Makanan bentar lagi siap, tunggu aja di kamar.

Tanpa kusadari aku terkikik geli ketika membaca pesan tersebut, terutama di bagian ‘kondor’. Kusimpan tulisan Dokter Adam ke saku celana, seraya berpikir betapa lucu kelakuan Dokter Adam yang baru kali ini kulihat..

Sambil menunggu, aku memutuskan untuk berkeliling kamar, melihat-lihat berbagai benda yang ada disana. Perhatianku lama tersita oleh foto berpigura tadi yang menggantung di dinding kamar. Kulihat dengan seksama foto wanita yang tengah memeluk mesra Dokter Adam. Cantik.

Wajah putihnya merah merona, terlihat sangat bahagia ketika foto itu diambil. Senyum lebarnya yang memperlihatkan barisan gigi putih dan rapih semakin menunjukkan pada dunia kalau sang empunya senyuman sedang sangat berbahagia. Mata hitamnya bersinar-sinar, menatap ke arah kamera.

Tangan wanita itu merangkul erat Dokter Adam yang terlihat sama bahagianya. Pandangan mata sang dokter terpaku menatap wanita di sampingnya. Ada sesuatu yang hangat dalam sorot mata Dokter Adam yang belum pernah kulihat.

Yang kusadari mereka saling mencintai.

Aku menyimpulkan dari apa yang digambarkan sebuah foto sederhana. Tetapi bukankah Dokter Adam seorang gay?  Mungkin saja itu salah satu teman wanitanya. Tetapi mana mungkin sang dokter bersusah-payah menyimpan foto seseorang yang dia anggap hanya sekedar teman? Mungkin wanita itu teman terdekatnya. Itu tidak mungkin, yang bisa memandang dengan pandangan berlumur cinta seperti itu hanyalah sepasang kekasih.

Terjadi perdebatan di dalam kepalaku yang membuatku pusing hingga langkah kaki sang dokter yang berjalan mendekatiku pun tidak terdengar.

“Bengong aja!” teriak Dokter Adam tepat ditelingaku, membuatku terlonjak kaget.

“Yuk, makan!” ajaknya setelah puas menertawaiku.

“Oke, Dok,” jawabku atas ajakannya. Kemudian kami berdua berjalan beriringan keluar kamar menuju ruang makan. Sesuatu mengganggu pikiranku, karena rasa penasaranku yang tidak bisa ditahan lagi aku bertanya pada Dokter Adam.

“Wanita itu… siapa, Dok?”

Kulihat bahunya sempat sedikit menegang, lalu ia menjawab, “Adam.”

Hah? Aku tak mengerti.

Mungkin karena ia tak  lagi mendengar langkah kakiku yang beriringan dengan langkah kakinya, ia berbalik dan menemukanku telah berhenti cukup jauh dari belakangnya. Ia menghela nafas kesal sebelum berjalan kembali ke arahku.

“Panggil gue Adam, nggak usah pake ‘Dok’,” jelasnya setelah tepat di hadapanku. Ia kemudian meraih tanganku dan menariknya, menuntunku ke arah ruang makan. Aku terkejut namun tak menolak rasa nyaman yang ia berikan dalam genggamannya.

Pada akhirnya ia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Kupikir, yasudahlah, memang bukan kapasitasku sebagai bawahan Dokter Adam untunk menggerecoki kehidupan pribadinya.

Ketika kita berdua sampai di meja makan, ia melepaskan gandengan tangannya dariku. Untuk sekejap, kurasakan rasa kehilangan yang asing.

Aku memutuskan untuk tak memusingkannya, karena kulihat di atas meja makan telah tersedia dua bungkus nasi uduk lengkap dengan irisan telur dadar, bawang juga kerupuk. Di piring yang lain terlihat setumpuk gorengan mulai dari tempe goreng, tahu isi, combro dan lain-lain yang membuat perutku keroncongan. Baru kusadari kalau aku belum makan apa-apa sejak kemarin siang, jelas saja kalau perutku kerocongan sekarang.

Tanpa babibu lagi, aku mengambil sendok dan garpu lalu mulai menyendokkan makanan yang terasa bagaikan makanan paling lezat sedunia.

***

Aku kekenyangan hingga terasa sulit untuk menarik nafas. Sebungkus nasi uduk ternyata masih kurang, beruntung Dokter Adam membeli dua bungkus lagi untuk jaga-jaga yang langsung kumakan semuanya.

Sarapan kali ini berlangsung seperti sarapan-sarapanku yang biasa. Aku menolak untuk berbicara ketika sedang makan, Dokter Adam juga sepertinya tidak berniat untuk menggerecoki kegiatanku.

Aku masih kesusahan menggapai udara, perutku membuncit melebihi perut om-om. Kulihat Dokter Adam menyelipkan sebatang rokok berwarna putih di bibir kemudian menyulutnya. Ia menghisap dalam-dalam rokoknya lalu menghembuskan gumpalan asap berwarna putih ke udara. Aku tersenyum melihatnya.

Sebelah alis Dokter Adam terangkat ketika menemukanku yang sedang mesem-mesem, membuatku nyengir semakin lebar. Dokter Adam hanya menggeleng-geleng melihatku nyengir kuda.

“Dia mantan pacar gue dulu. Wanita yang di foto.”

Dokter Adam tiba-tiba berbicara ketika aku sedang dibuai dalam keadaan setengah sadar menuju lelap. Awalnya aku tak mengerti dengan apa yang dia bicarakan, namun lambat-laun pemahaman menghampiri otakku yang sedang tumpul karena kekenyangan. Ia sedang membicarakan wanita di foto itu.

Aku mengangguk seraya memfokuskan diriku pada apa yang akan diucapkannya.

Ia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, membuat ujungnya menyala. Beberapa saat kemudian ia menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit. Ia menghembuskan keras-keras asap rokoknya ke udara, kabut putih yang ditimbulkan menyamarkan sosoknya sesaat. Ada kesedihan yang purba ketika ia berbicara.

“Ia mengkhianati gue dan pergi untuk selama-lamanya. Tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa penjelasan apa-apa.”

Ia bertahan dalam posisi seperti itu selama beberapa saat, hingga kabut putih yang mengelilinginya menipis dan hilang. Kemudian dengan perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arahku, menatap mataku dalam-dalam.

“Dia lesbi.”

Penjelasannya mengejutkanku, tapi aku berusaha mati-matian menjaga raut wajahku agar tetap netral. Kita saling berpandang-pandangan untuk waktu yang terasa sangat lama. Aku menatapnya, dia menatapku. Ada sendu dalam wajahnya. Kami berpandang-pandangan begitu intens, hingga aku merasa telah hafal garis wajahnya yang memesona.

Ia tetap diam seolah menunggu respon dariku. Sesuai keinginannya, aku memutuskan untuk memberikan respon. Respon yang tolol sepertinya. Mungkin.

“Bukannya dengan begitu kalian bisa ‘main’ bertiga?”

Kemudian kurasakan benjol di kepalaku karena sebuah sendok yang melayang.

***

“Kenapa Dokter—“

“Adam,” ucapnya memotong kata-kataku. Aku tak mempunyai banyak waktu, jadi haruskah dia membuatku kesal di waktu yang sempit ini.

Hari sudah sore ketika mobil Dokter Adam berhenti tepat didepan gerbang rumahku. Ia bersikeras mengantarku hingga ke depan pintu walaupun tahu gerimis telah turun.

“Kenapa Dokter nggak berusaha merebutnya kembali? Atau Dokter memang tak secinta itu?” tanyaku agak sedikit menuduh. Ia menatapku tajam sebelum menjawab.

“Gue nggak sebego itu. Harga diri gue menolak buat bersaing dengan wanita cuma buat mendapatkan seorang wanita,” ucapnya sinis, “Lagipula kalau dia memang sudah nggak mau meraih tangan gue yang terulur ke arahnya, apalagi yang bisa gue lakukan? Selain menarik uluran tangan gue?”

Aku terpana oleh kata-kata serta senyumnya yang terlihat begitu sedih. Kesedihannya ikut menusuk hatiku, rasanya seperti dihujam oleh bongkahan-bongkahan es yang runcing. Sosoknya begitu pilu, hingga rasanya ia terlihat seperti diseret-seret diatas duri-duri pedih. Untuk sesaat aku ingin memeluknya, memberikan hangat tubuhku untuk hatinya yang telah terluka terlalu lama.

“Jadi itu yang ngebuat Dokter menjadi gay seperti sekarang?” tanyaku tak berpikir.

Dokter Adam terlihat sama kagetnya denganku karena pertanyaan yang kuucapkan. Namun sedetik kemudian kulihat senyumnya membentuk lengkungan aneh, seperti seringai yang mempunyai arti yang tak mampu kujelaskan.

“Hujan,” katanya pada akhirnya.

Kemudian kusadari wajahnya kian mendekat ke arahku. Bisa kulihat janggutnya yang pendek terlihat kasar karena belum dicukur. Wajahnya semakin dekat dan semakin dekat. Aku memejamkan mataku perlahan, ragu-ragu. Kurasakan panas tubuhnya yang makin terasa di kulit wajahku. Kemudian…

Kurasakan bibirnya yang lembut serta hangat di keningku. Terasa nyaman.

***

“Aaaahh!”

Aku mengerang nikmat ketika badanku menyentuh kasur empuk setelah seharian bekerja keras.

Mataku lelah, kuharap kantuk bisa datang sesegera mungkin. Namun sepertinya tubuhku sendiri berniat mengkhianatiku. Malam ini pikiranku terasa segar bugar walaupun seluruh tulang di tubuhku rasanya telah copot dari engselnya.

Lagi-lagi pikiranku melayang, ke saat ketika Dokter Adam mengecup keningku. Aku teringat betapa lembut serta hangatnya bibir Dokter Adam. Tanpa bisa kucegah, telapak tanganku kini mengusap-usap lembut keningku. Aku mulai terkikik sendiri seperti orang sinting.

“Dih? Kenapa lo? Cengar-cengir sendiri, udah gila lo ya?” damprat Riza tiba-tiba, berdiri menjulang di samping kasur.

Tanpa memperdulikannya, aku membalikkan tubuhku dan memunggunginya.

PLAKKK!

Aduh! Salah apa lagi gue?

“Apaan sih?!” protesku kesal karena merasa diinterupsi, kini aku menatap sosoknya yang tengah memegangi sandal rumah yang dipakainya untuk memukul kepalaku. Ingin rasanya kulempar dia dengan lampu meja disisi tempat tidur disebelahku.

“Songong, lo!” ucapnya pelan seraya naik ketempat tidur.

“Jangan macem-macem! Gue masih perawan nih!” candaku.

PLAKKK!

“ADUH!! APA-APAAN SIH?”  jeritku kesakitan karena dipukul untuk yang kedua kalinya, “Gue kan cuma bercanda!”

“Lo bukan tipe gue, jadi tenang aja, gue gak akan ‘ngapa-ngapain’ lo, kok,” jelasnya pelan.

Untuk sesaat kata-katanya membuat tubuhku membeku. Seperti deja vu, aku teringat sesorang yang pernah mengucapkan hal serupa kepadaku. Tanpa sadar sebuah senyum kembali terkembang diwajahku.

Pikiranku melayang ketika ia mendaratkan kecupannya yang lembut serta hangat di dahiku. Perasaan yang aneh dan asing terasa menggelenyar di perutku. Merambat hingga ke ujung jemariku, seperti disengat listrik, namun terasa menyenangkan.

Aku yang terperangah karena apa yang telah dia lakukan hanya bisa berdiri diam seperti papan. Ia terkekeh pelan lalu mengacak-acak rambutku lembut, lalu setelah melambaikan tangannya padaku ia pergi bersama mobilnya, meninggalkan aku yang tak tahu bagaimana caranya mengurai kacaunya perasaanku saat itu.

Esoknya kami bertemu lagi di klinik. Aku yang berfikir segalanya akan menjadi berbeda ternyata salah. Dokter Adam tetap memperlakukanku dengan biasanya, cuek dan menyebalkan. Berkali-kali ia menyuruhku ini-itu. Bokongku yang seksi bahkan tak mendapatkan waktu untuk bercumbu dengan kerasnya kursi kerjaku.

Awalnya ia meminta daftar stok obat-obatan, lalu meminta riwayat kesehatan beberapa pasien, menyuruhku membuatkan teh (yang sengaja kucampur  lada putih lalu setelah itu aku kabur sebelum Dokter Adam meminumnya), dan banyak hal lain.

Disaat aku sedang kelelahan dan iseng-iseng memikirkan metode yang paling baik untuk menyantet  Dokter Adam, tiba-tiba saja sebuah bungkusan plastik hitam berisi kotak bekal berwarna hijau polos mendarat di meja didepanku. Aku mendongak untuk melihat sosok yang sengaja menaruh kotak bekal tersebut yang kini menguarkan bau lezat dari dalamnya.

“Makan, yuk,” ajak Dokter Adam dengan senyumnya yang hampir saja membuatku semaput karena lupa caranya bernafas. Aku hanya mengangguk mengiyakan kemudian berdiri lalu mengekorinya menuju ke dalam kantornya yang lebih kecil dari ruang periksa.

Ia duduk di kursinya sementara aku mengambil tempat tepat dihadapannya. Aku tak menyadari betapa laparnya perutku hingga aku benar-benar mencium aroma nasi goreng yang menguar dari dalam kotak bekal setelah tutupnya kubuka.

Nasi gorengnya sederhana, hanya ada sebutir telur ceplok dan suwir-suwiran ayam serta bawang goreng di atasnya. Beberapa kerupuk kini sudah melempem, nasi gorengnya pun sudah mendingin, namun itu semua tak menurunkan seleraku malah membuatku semakin lapar begitu mengetahui kalau Dokter Adam sudah repot-repot membuatkannya untukku.

“Kenapa? Gak suka? Yaudah, sini nanti gue kasih Mas Riki aja,” ucapnya seraya berusaha merebut nasi gorengku. Namun aku bergerak lebih cepat darinya, aku meraih nasi gorengku dan menjauhkannya dari jangkauannya. Aku menjulurkan lidahku kepadanya yang membuatnya terkekeh. Aku yang menyadari kalau sikapku kini seperti anak kecil, berdeham dan berusaha terlihat lebih dewasa.

Acara makan siang kami awalnya berlangsung dengan tenang, aku sangat menikmati nasi goreng yang terasa sangat lezat itu. Berulang kali aku mencuri pandang ke arahnya, dan berulang kali juga pandangan kami bertemu. Dan ketika itu terjadi aku berusaha mati-matian untuk terlihat biasa saja walaupun sebenarnya hatiku kacau balau.

Beberapa kali ketika aku ingin minum, tanganku bersentuhan dengan tangannya yang juga ingin meraih gelas yang kita gunakan bersama. Sebenarnya bisa saja aku mengambil gelas lain dari dapur, tetapi kami berdua sepertinya tak terlalu memusingkan perkara gelas yang harus kami gunakan berasama. Aku sendiri merasa sedikit senang karena hal ini, entah kenapa.

“Seharian ini lo masih kelihatan pucat, kemarin istirahat cukup gak?” tanyanya memecahkan kecanggungan di antara kita berdua.

Aku mendelik ke sosok tepat dihadapanku. Bagaimana mungkin ia masih bertanya seperti itu ketika dialah sang pelaku yang tanpa henti menguras energiku hari ini?

“Cukup kok, Dok,” jawabku masam lalu kembali melanjutkan menyuapkan nasi ke mulutku.

“Hmm, bagus deh,” ucapnya seraya tersenyum. Entah Dokter Adam pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku setelah melihat responnya. Beberapa saat setelah itu sebuah sendok yang telah terisi berhenti tepat di depan mulutku. Kulihat Dokter Adam tersenyum jail seraya berusaha menyuapiku.

“Ngg… Dok…” ucapku pelan berusaha menolak entah apa yang dia coba lakukan, namun tatapannya telah mengintimidasiku dengan cara yang tidak adil, karenanya aku mau-mau saja membuka mulutku untuk disuapi oleh Dokter Adam.

Aku berusaha mengunyah suapan dari Dokter Adam, namun setelah kunyahan yang ketiga, lidahku menemukan rasa pedas yang amat sangat. Aku begitu terkejut hingga membuatku tersedak. Aku berusaha menggapai-gapai segelas air namun tak kudapatkan karena pandanganku kabur oleh air mata.

Ketika kurasakan tangan Dokter Adam menyurukkan segelas air ke genggamanku, tanpa babibu lagi aku menenggaknya, kemudian untuk yang kedua kalinya aku tersedak, kali ini lebih parah, tehku tak mengobati rasa pedas di mulutku, hanya menambah parah keadannya. Sang dokter memberiku teh rasa lada putih yang kubuat tadi pagi.

Dokter Adam berusaha membunuhku.

***

BUK!

Kali ini wajahku dipukul dengan bantal.

“Woy! Gue tanya juga, malah diem aja lo,” dumel Riza.

“Apaan sih?! Dari tadi gue disiksa terus sama lo? Emangnya pacar lo suka nge-hardcore, ya?” tanyaku kesal.

BUK!

Sekali lagi kepalaku dipukul dengan semena-mena. Karena aku tak mau lagi menjadi Cinderella yang selalu disiksa oleh saudara tirinya, aku membalasnya, dan dimulailah perang bantal yang sangat tidak macho.

Lama setelah itu kami memutuskan untuk mengakhiri perang bantal ini. Dengan terengah-engah, kami kembali mengempaskan tubuh kami ke kasur, berbaring menatap langit-langit kamar.

“Lo… gimana sama Danny?” tanyaku setelah nafasku teratur.

“Hmm..?” ia balik bertanya, kebingungan. Kulihat ia menatapku dalam keremangan malam.

“Iya… Lo gimana sama Danny?” tanyaku lagi.

“Gimana apanya?”

“Ya, gimana? Lo sama Danny gimana?”

Ia tak menjawab namun menatapku makin keheranan. Tatapannya membuatku ingin teriak dan mengguncangkan kepalanya keras-keras. Kenapa sih Riza harus jadi bego banget kali ini.

“Gimana hubungan lo sama Danny? Lancar, gak?” tanyaku pada akhirnya, wajahku memanas karena pertanyaanku yang terdengar konyol ditelingaku sendiri.

“Hmm…” aku mendengar senyuman dari responnya terhadap pertanyaanku. Benar saja, ketika kulihat sosoknya dalam keremangan malam, ia sedang tersenyum lebar, begitu lebarnya hingga membuatku khawatir mulutnya akan robek.

“Kenapa?”

“Hmm… Jadi gitu…”

Jawabannya yang tidak menjelaskan apapun membuatku kesal sekaligus malu.

“Apaan sih lo? Cengar-cengir gitu, kesambet lo, ye?” tanyaku salah tingkah.

“Lagi jatuh cinta lo ya?”

STRIKE!!! Tepat sasaran.

“A-apa sih lo?” aku berusaha menyanggah namun mataku menkhianatiku.

“Sama cowok?”

STRIKE!!! AGAIN!!!

Mungkin ia melihat kebenaran dalam mataku, sedetik setelah itu ia tertawa terbahak-bahak. Benar-benar tertawa terbahak-bahak.

***

“Jadi, gimana?” tanyaku setelah mengakhiri ceritaku.

“Lo udah bener-bener jatuh cinta, ya?” tanyanya balik seraya menyunggingkan senyum jail, “Nggak nyangka orang yang sering ngeledek orientasi seksual gue, ternyata kemakan omongannya sendiri. Kualat lo! Hahaha…”

Saat ini yang paling kuinginkan adalah mencekik lehernya serta mencincangnya kecil-kecil lalu menjadikannya makanan ikan hias yang ada di akuariumnya. Menyebalkan.

“Jadi gimana?” tanyaku lagi sembari membanting tubuhku ke kasur. Ia menatapku sebentar kemudian mengikutiku, menghempaskan tubuhnya di sebelahku.

“Untuk kami, gue dan Danny, semuanya begitu… begitu sulit.”

Kudengar ia berbicara dengan cara yang tak pernah kudengar sebelumnya. Ucapannya terdengar sedih, sarat emosi. Ia seolah-olah membutuhkan segenap jiwanya untuk mengeluarkan kata demi kata. Dan setiap nama ‘Danny’ disebut, pandangannya melembut. Kalau bukan cinta, aku tak tahu apa.

“Awalnya terasa menyakitkan. Rasanya setiap organ di tubuh gue mempunyai pikirannya sendiri. Gue memeluknya, namun tak pernah benar-benar memeluknya. Segenap jiwa hanya menginginkan dia, namun logika tak pernah sejalan. Bibir ini membutuhkan bibirnya, namun kedua tangan selalu mendorong menjauhkan tubuhnya. Mata ini setengah mati mengemis teduh matanya, namun kedua kaki tak ingin membawaku berlari ke arahnya.”

Di akhir kalimat, ia tersenyum. Aku membiarkannya berenang-renang dalam kenangannya sendiri hingga ia siap menjelaskannya lebih lanjut kepadaku.

“Gue menyerah. Gue menyerah kepada perasaan. Gue nggak sanggup lagi menahan sakit dan perihnya. Dan setelah itu, gue merasa berbeda. Hidup gue terasa lebih ringan walaupun beban dipundak nggak pernah benar-benar hilang.

“Setelah itu, setiap kami bertemu, entah kenapa semuanya terasa benar. Terasa tepat, bagaikan semesta yang bergerak dalam pergerakannya masing-masing. Harmonis. Indah,” ia menarik nafas, aku mencoba membayangkan dunia yang ia coba gambarkan, “Terasa benar, namun terasa salah pada saat bersamaan.

“Tetap saja pada akhirnya kami tak seleluasa mereka yang mencinta dengan cara yang normal. Terlalu banyak prasangka yang terlahir dari pikiran-pikiran mereka. Entah pikiran-pikiran mereka yang sempit, atau kami yang terlalu cupat.”

Ia menatapku tajam, mengebor manik mataku dengan tatapannya yang terluka.

“Ini salah. Berjuta kali gue mengatakan itu kepada diri gue sendiri. Tapi apa yang terjadi sekarang? Gue menyerah. Gue menyerah kepada perasaan. Gue tak lagi mampu membela akal sehat. Gue menyerah kepada perasaan dan membiarkannya berbicara.”

Aku menatap sosoknya yang kini mengalihkan pandangannya ke langit-langit diatas kami.

“Gue sayang Danny.”

Tiga kata itu, dan hanya tiga kata itu yang mampu membuatku merasa begitu iri. Diucapkan dengan pelan, dalam, dan berlumur cinta. Beruntunglah Danny mempunyai seseorang yang mampu mencintainya begitu dalam.

“Semuanya sulit bagi kami berdua, Frans,” ia menyimpulkan, “tapi selama gue mampu menggenggam tangannya, memeluk tubuhnya, kupikir gue mampu menghadapi segalanya.”

Riza tersenyum kecil. Bahkan senyumannya juga menggaungkan cinta.

“Memangnya gue secinta itu? Lagipula apa ini memang cinta? Bukankah ini lebih seperti kegilaan sesaat?” tanyaku akhirnya. Kini aku semakin bingung.

“Cantik, tampan, kaya, baik, setia tak pernah benar-benar menjadi alasan buat seseorang untuk jatuh cinta. Mereka terlalu cupat dan angkuh jika berpikir itulah alasan mereka telah jatuh cinta. Lo mau jadi salah satu dari mereka?”

Ditanya seperti itu membuatku menggeleng cepat-cepat. Ia terkekeh geli melihat tingkahku.

“Terus kenapa lo kayak lagi nyari sebuah penyangkalan? Lo ragu-ragu sama kata hati lo sendiri??

Lagi-lagi aku menggeleng sebagai jawabannya.

“Just let your heart speaks. You know that lil voice inside your heart? Have you ever heard that? Sebagian orang menyebutnya ‘Suara Tuhan’. Mereka percaya kalau Tuhan berbicara kepada kita melewati hati kita masing-masing. Jadi dengarkan suara hati lo. Maybe something great could happen. Trust me, you better give it a try.

“Frans yang gue kenal orangnya simpel, kok.”

Aku masih ragu. Kurasa ia tahu kalau aku masih ragu dalam hal ini.

“Oke, coba  sekarang lo tutup mata,” perintahnya tiba-tiba.

“Buat apaan?”

“Udeh tutup ajah, banyak omong lo kayak perawan lagi di perkosa!”

Aku yang diancam dengan sendal kamar yang dipegangnya langsung memejamkan mataku rapat-rapat.

“Lalu apa?”

“Pikir. Pikirin tentang semuanya.”

Awalnya aku tak mengerti apa yang dia maksud, lalu sedetik setelah itu semua kenangan itu membanjiriku. Aku dibuai oleh setiap ingatan yang muncul di pikiranku. Hanya butuh sedetik untuk menyadari kata hatiku, membiarkannya berbicara kepadaku.

“Halo…” sayup-sayup kudengar sebuah suara, dan baru kusadari kalau aku masih bersama dengan Riza. Ingatanku membuatku begitu terlena hingga aku hampir lupa dimana aku berada.

“Halo, Danny… Nggak kok… Aku… Aku cuma kangen.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s