Little Voice Inside (Part 2 of 4)

Tak terasa kini air mataku jatuh lagi.

“No! Jangan nangis, brother!” seru Leon keras lalu dengan tergesa-gesa berdiri dari kursinya dan melesat kesampingku, merangkulku erat, setengah mencekikku.

Kudengar suara kursi-kursi yang digeser ke belakang , dan kemudian kurasakan empat pasang tangan merangkulku, memelukku, mengusap-usap kepala dan punggungku. Dalam setiap sentuhan yang mereka berikan, mengalir rasa sayang serta khawatir yang amat sangat. Kurasakan cinta dari mereka begitu besar hingga membuatku menangis lebih kencang lagi, seperti anak kecil.

Tangis histerisku berganti menjadi isak kecil. Butuh waktu lama bagiku untuk menenangkan diri hingga bahuku tidak berguncang sekeras sebelumnya. Dan selama itu pula mereka terus memberikan bahasa sayang mereka yang begitu hangat.

“So-sorry,” ucapku pelan, suaraku terdengar serak.

“Bukan, gue yang harusnya minta maaf,” jawab Revan pelan, dari nadanya kuyakin ia merasa bersalah.

Aku tersenyum sebelum memukul keras kepalanya dengan sendok.

“Aduh!! Apaan sih? Kan gue udah minta maaf,” umpat Revan keras.

“Pengen aja,” ucapku asal. Kutatap dalam-dalam mata mereka, berharap kata-kataku selanjutnya akan menghapuskan rasa khawatir yang terpatri dalam tulusnya mata mereka.

“Mungkin ini memang jalannya buat gue. Sekarang gue bakal jalanin semuanya dengan pasrah. Gue rasa sekarang ini waktunya buat gue mengubur dalam-dalam cita-cita gue. Gue bakal ngelanjutin hidup gue seperti kemauan orang tua gue, hehehe…” putusku pada akhirnya.

Kini mereka menatapku dengan pandangan mengasihani. Dan aku benci itu.

“Ayolah, guys. Jangan ngeliat gue dengan pandangan kayak gitu. Gue tau kok kalau gue bisa bertahan,” protesku pelan, “Gue yakin kalau gue bisa bertahan karena gue tau kalian bakal selalu ada buat gue. Selalu dan selalu ada buat gue.”

Mungkin kata-kataku kali ini terlalu mellow buat mereka. Aku juga tak mengerti apa yang merasukiku hingga mampu mengucapkan kata-kata seperti itu. Kemudian Leon memelukku erat yang segera diikuti oleh sisa kera yang ada.

Akhirnya kita semua berpelukan, saling merangkul erat satu sama lain. Kami adalah cowok macho berhati teletubbies.

Kemudian terdengar suara yang tak asing diikuti oleh bau yang tak tertahankan.

“Anjing!” seruku kaget bercampur jijik, bergegas menyudahkan acara berpelukan yang sangat homo itu.

“Lo cepirit ya?” tuduhku pada Leon.

“Hehe… Iya,” jawabnya sambil cengengesan.

“Toloool!!!” seru kami berempat. Lalu ia kabur seraya menghindari peluru-peluru sendok yang kami lemparkan ke arahnya.

***

Kurasa aku datang terlalu pagi. Ruang tunggu pasien saat ini sangat sepi, sama sekali tak terlihat seorang pun. Aku menduduki kursi yang paling dekat dengan meja resepsionis, berada tepat disamping pintu yang kuduga ruang periksa.

Aku meletakkan ranselku di sebelah kursi yang kududuki. Samar-samar kusadari tidak ada bau antiseptik maupun obat-obatan di ruang tunggu ini. Wanginya seperti cemara atau pinus, entahlah, aku merasa seperti berada di tengah hutan yang asri dan tenang.

Lalu tiba-tiba terdengar musik yang pelan namun ceria dari pengeras suara yang berada di sudut atap ruangan. Wangi dan musik itu membuat suasana ruang tunggu ini terasa berbeda. Semua itu seperti mengusir rasa cemas dan khawatir yang biasa menggayut di udara.

Ketika aku berpikir seperti itu, pintu di samping meja resepsionis terbuka dan muncullah seorang lelaki yang memakai kemeja biru muda dibalik jas putih yang mirip seperti jas yang dipakai para dokter. Sosoknya terlihat begitu sibuk dengan kertas-kertas dan setumpuk buku-buku besar dalam pelukannya.

“Ah, Frans, ya?” tanyanya ketika pandangannya menemukanku.

“I-iya,” jawabku gugup, segera berdiri dan membantu lelaki itu dengan membawa sebagian barang-barangnya.

“Ah, tidak usah repot-repot,” tolaknya pelan, namun aku terlalu cepat. Kutaruh sebagian bawannya itu diatas meja resepsionis. Ia mengucapkan terima kasih kepadaku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Riki, bekerja sebagai resepsionis dan terkadang mengasisteni para dokter yang melakukan pemeriksaan. Hari ini dia diberi pekerjaan baru untuk membimbingku mengurusi administrasi yang ada di klinik ini.

Baru sebentar saja mengobrol dengannya, aku sudah merasa nyaman. Senyumnya yang tak pernah absen seperti menular, mengajakku untuk ikut tersenyum. Penjelasan-penjelasannya mudah dimengerti, diselingi banyolan-banyolan lucu yang terkadang terdengar mesum, kurasa itu wajar saja menilik umurnya yang hampir kepala tiga. Aku sih pura-pura polos saja.

“Frans lumayan ganteng juga ya,” katanya tiba-tiba ketika aku sedang membaca salah satu buku yang berisi daftar stock obat-obatan yang dimiliki klinik ini.

“Apa?” tanyaku kaget. Kurasa aku salah dengar.

“Pantas Doktor Adam suka sama kamu,” ucap Mas Riki seperti tak memedulikan pertanyaanku barusan. Aku hanya memandang wajahnya yang lumayan tampan dengan penuh tanya selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk tidak memikirkan lebih jauh kata-katanya dan melanjutkan melihat-lihat administrasi yang ada.

Sudah hampir pukul delapan ketika akhirnya datang salah satu dokter yang mendapatkan jadwal untuk praktik pagi ini. Beliau terlihat masih muda, ia mengenakkan pakaian layaknya pakaian remaja gaul jaman sekarang. Ia hanya membawa tas kerja dan jas dokter yang disampirkan di lengannya.

“Beliau Dokter Dion, salah satu dokter yang punya jadwal praktik disini,” jelas Mas Riki pelan kepadaku, “Beliau juga teman dekat Dokter Adam. Selamat pagi, Pak Dion!”

“Selamat pagi juga Mas,” balasnya kepada Mas Riki namun tatapannya yang penuh tanya terarah kepadaku, “Ehh…?”

“Oh, iya. Pak, kenalkan ini Frans yang kemarin dibicarakan sama Dokter Adam,” ucap Mas Riki seraya memperkenalkanku pada Dokter Dion. Wajah lelaki ini sepertinya tidak asing, dimana ya aku pernah melihat wajahnya?

“Perkenalkan, Pak, saya Frans. Mohon bantuannya selama saya bekerja disini,” aku mengulurkan tangan untuk menyalaminya.

“Kamu ganteng juga ya,” jawabnya lalu menyambut uluran tanganku. Apa maksudnya kata-kata barusan?

“Pantes Dokter Adam suka sama kamu. Kamu tipe dia banget, hehehe…” lanjutnya seraya terkekeh geli tanpa menyadari pandangan bertanya yang kulemparkan ke arahnya. Ada apa dengan para lelaki disini?

Setelah kupastikan Dokter Dion telah masuk ke dalam ruang kerjanya dan tidak mungkin dapat mendengarkan suaraku lagi, aku bertanya dengan terheran-heran kepada Mas Riki.

“Mas…?”

“Hmm…” gumamnya menjawab panggilanku seraya membalik tulisan ‘Tutup’ di kaca pintu menjadi ‘Buka’.

“Maksud kata-kata Dokter Dion barusan apa?”

“Kata-kata yang mana?” jawabnya masih tidak fokus, kali ini ia mulai menyapu ruang tunggu,

“Maksud Dokter Dion yang bilang kalau aku ‘tipe Dokter Adam banget’,” jelasku. Tanpa bisa kumengerti, mukaku memerah karena malu setelah mengulangi ucapan Dokter Dion barusan.

Kulihat Mas Riki menghentikan aktivitasnya sesaat, lalu mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya tepat ke arahku, seperti mencari-cari sesuatu di wajahku. Lalu tanpa kuduga ia tertawa terbahak-bahak.

“BWAHAHAHAHAHAHA…”

Aku tak mengerti alasan kenapa Mas Riki tertawa terbungkuk-bungkuk hingga mengeluarkan air mata seperti itu. Kubiarkan ia tertawa tanpa interupsi selama beberapa menit hingga tawanya mereda.

“Hahaha… Aduh… Ka-kamu beneran nggak tahu?” tanya Mas Riki akhirnya.

Aku hanya memandangnya semakin keheranan. Apa yang harus kuketahui?

“Dokter Adam itu gay.”

***

“Saya kira kamu sudah tahu. Hahahaha…”

Ucapan Mas Riki masih terngiang-ngiang sampai sekarang walaupun aku telah berada jauh dari klinik. Aku berguling ke arah kanan, mencari posisi yang lebih nyaman untuk dapat terlelap, namun sia-sia. Tubuhku terasa remuk redam karena kelelahan namun otakku terasa sangat segar. Begitu banyak yang harus kupikirkan.

Aku bukannya phobia atau apa tentang gay dan sejenisnya, hanya saja semua terasa sangat aneh bagiku. Aku sama sekali tak tahu menahu tentang hal ini, tak berpengalaman. Seseorang pernah berkata, pada dasarnya manusia selalu takut pada hal-hal yang tak mereka ketahui.

Takut. Mungkin benar aku takut.

Awalnya aku menganggap ucapan Mas Riki hanya keisengan saja, tapi bagaimana kalau Dokter Adam benar-benar seorang gay? Bisa saja yang diucapkan Mas Riki semuanya benar.

Kalau memang benar, lalu apa motif dokter menyebalkan itu dengan memberikan pekerjaan padaku? Apa ia hanya ingin mengerjaiku? Atau ia ingin membalas dendam karena perlakuanku padanya tempo hari di stasiun? Apa ada niat yang lain ketika dia memutuskan ingin membantuku?

Yang paling penting, apa benar dia suka kepadaku?

Hiii… memikirkannya saja sudah membuatku merinding. Beruntung hari ini Doktor Adam mendapatkan jadwal praktik beberapa jam setelah jam pulangku.

Hari ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat, pekerjaanku cukup asyik. Mas Riki dan Dokter Dion serta beberapa staff lainnya juga menyambutku dengan hangat. Semua terasa menyenangkan. Aku mulai berpikir memang ini bukan jalan yang kuinginkan, tapi bukankah mungkin kalau ini jalan yang kubutuhkan?

Pemikiran itu membuat tubuhku merileks dan sedikit demi sedikit rasa kantuk segera menguasaiku. Aku tertidur walaupun disudut otakku aku masih saja mencurigai Dokter Adam dan segala motifnya. Sesekali wajah sang dokter membayangiku.

Ahh, persetan.

***

“Selamat pagi, Mas Riki,” salamku kepada seniorku yang sedang sibuk merapihkan peralatan kerjanya.

“Oh, pagi,” ia membalas salamku ditengah-tengah kesibukannya.

“Lagi ngapain, Mas?”

“Ini, lagi nyari daftar stock obat, dimana ya? Kamu lihat nggak?”

“Oh, iya, kemarin aku bawa pulang. Ini,” jawabku seraya mengeluarkan sebuah buku besar yang kemarin aku pinjam lalu menyerahkannya kepada Mas Riki.

“Astaga, Tuhan!” desahnya lega, “Kamu ini bagaimana, sih? Kok tidak izin dulu ke saya kalau mau bawa pulang benda-benda punya klinik?”

Kata-katanya memang terdengar lembut dan tak terkesan memarahi, membuatkuku merasa tak enak karena ditegur olehnya.

“Ma-maaf, Mas. Sorry. Kemarin waktu saya mau pinjam, Mas Rikinya lagi sibuk, saya jadi nggak enak. Akhirnya saya malah lupa mau minta izin. Maaf, Mas, saya nggak bermaksud menyusahkan Mas Riki, kok,” kataku meminta maaf.

“Jangan minta maaf ke saya. Nanti kamu minta maaf ke Mas Aldi, soalnya dia yang semalam kena semprot sama Dokter Adam,” sanggahnya, membuatku makin tak enak.

“Iya, Mas, maaf sekali lagi.”

Aku menundukkan kepala, benar-benar merasa bersalah karena telah menyusahkan orang lain.

“Hmm… Yasudah, kamu jangan terlalu menyalahkan diri kamu. Mas Aldi pasti mau maafin kamu kok. Tapi kamu juga harus minta maaf sama Dokter Adam.”

DEG.

“Hah? Apa, Mas?”

“Ck, kamu ini. Jangan lupa kamu juga harus minta maaf kepada Dokter Adam. Beliau marah besar semalam,” jelasnya singkat, “Yuk, mulai kerja.”

Mati gue.

***

Perutku mulas, kurasakan telapak tanganku basah oleh keringat. Aku bergerak-gerak gelisah di kursiku menunggu datangnya Dokter Adam. Sebenarnya jam pulangku sudah lewat lebih dari satu jam yang lalu, Mas Riki juga sudah pulang sedari tadi.

Kini tinggal aku sendiri dan beberapa pasien yang sedang menunggu untuk diperika serta Mas Aldi yang sedang mengurusi stok obat-obatan di dalam klinik. Oh, iya, Mas Aldi memaafkanku dengan satu syarat, yaitu mentraktirnya baso yang sering mangkal di depan gang. Tak apalah, toh memang aku yang salah, hehehe…

Entah kenapa aku sangat gelisah, terngiang-ngiang kata-kata Mas Riki dulu tentang orientasi seksual Dokter Adam. Rasa ini apakah takut? Atau mungkin jijik?

Aku merasa jahat. Seharusnya orientasi seksual seseorang bukanlah hal yang bisa dijadikan dasar untuk menilai seseorang. Aku mencoba berpikir seperti itu, namun bayangan Dokter Adam yang aneh-aneh mulai masuk ke pikiranku, membuatku mual.

“Haaah…” Aku hanya bisa menghela nafas untuk saat ini, dibuat pusing oleh pikiranku sendiri.

Tak lama kemudian terdengarlah suara knalpot motor dari kejauhan, hingga akhirnya lampu sorot berwarna oranye menerangi ruang tunggu ini. Terlihat sesosok lelaki yang turun dari motornya. Siluet Doktor Adam semakin jelas dan semakin jelas. Kupandangi sosoknya yang tegap berjalan melintasi ruang tunggu, hingga akhirnya mata kami bertemu selama sekejap.

Lalu seakan tak melihatku berada disana, Doktor Adam bergegas menuju ruang kerjanya. Tak menghiraukan sapaanku yang tak mungkin tak beliau dengar.

Ada apa ini?

***

Aku diacuhkan.

Aku telah sampai pada suatu kesimpulan kalau aku telah diacuhkan oleh Doktor Adam. Selama seminggu aku didiamkan olehnya. Aku juga tak mengerti penyebabnya, apakah hanya gara-gara tak meminta izin untuk membawa pulang buku stok obat-obatan hingga aku harus didiamkan seperti ini?

Dokter Adam sungguh konyol dan kekanak-kanakan.

“Selamat pagi!” aku mengucapkan salam keras-keras. Namun tak ada yang menjawab salamku. Kemana perginya Mas Riki?

“Mas? Mas Riki?!” panggilku berulang-ulang, lalu tiba-tiba dari ruang periksa muncul Doktor Adam.

“Mas Riki nggak masuk hari ini, ada urusan keluarga katanya. Kamu ambil alih pekerjaan Riki yang bisa kamu kerjakan. Sekarang beres-beres klinik sana,” perintahnya datar.

Mampus gue?! Kata-kata Dokter Adam membuatku mematung karena terlalu kaget.

“Nunggu apa lagi? Kerjain!” bentaknya tiba-tiba, membuatku ngacir sebelum ada hal-hal yang tidak diharapkan.

***

“Haaah… Capek…” gumamku lesu setelah hampir satu jam menyapu klinik, mengelap jendela, menyiram tanaman dan berbagai hal lain yang biasanya dikerjakan oleh Mas Riki. Kini aku mempunyai beberapa menit waktu untuk beristirahat sebelum aku mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku.

“Itu papan tanda ‘Buka’-nya belum dibalik,” perintah sebuah suara dari dalam ruang periksa.

“Kalau tahu kenapa nggak dibuka sendiri ajah, bego,” sungutku kesal lalu berjalan kearah pintu untuk membalik papan tanda tersebut.

“Gue denger ya,” kata suara keras dari dalam.

Aku yang makin kesal mengacungkan jari tengahku ke arah ruang periksa yang tertutup gorden cukup tebal.

“Mau gue patahin itu jari?” ancam Doktor Adam pelan.

Aku langsung menyamarkan kelakuanku tadi dengan berpura-pura meregangkan tubuh.

“Bego,” ledek suara itu pelan.

***

BRAK!!!

Terdengar suara keras dari jalan raya di depan sana, kemudian terdengar jeritan orang-orang. Apa yang sebenarnya terjadi?

Dari depan terlihat orang-orang berkerumun dan menuju ke arah klinik ini seraya menggotong seseorang.

“Astaga, kecelakaan,” seru salah seorang calon pasien yang berada di ruang tunggu.

“Minggir! Minggir!” salah satu dari kerumunan orang tersebut menyeruak masuk, “Mas! Tolong Mas! Ada yang kecelakaan!”

“I-iya, langsung di bawa ke dalam aja,” seruku mencoba untuk tenang dan tidak panik. Aku memasuki ruang periksa dan memberitahu Dokter Adam yang sedang memeriksa salah satu pasien.

“Dok! Maaf, Dok! Ada kecelakaan! Korbannya mau dibawa kesini untuk pertolongan pertama,” jelasku singkat. Wajah Dokter Adam yang awalnya terkejut kini paham dan mengerti. Beliau menginstruksikan beberapa orang yang menggotong korban untuk membaringkannya di ranjang.

Ketika orang-orang yang menggotong korban melewatiku, aku melihat apa yang tidak sempat kulihat.

Darah. Banyak sekali darah.

***

Oh, Tuhan. Parah sekali.

Itulah yang terlintas dibenakku ketika melihat korban. Wanita ini mengalami kecelakaan yang amat parah. Kulihat pergelangan kaki kiri dan siku kirinya mencuat ke arah yang aneh, kemungkinan besar patah.

Ia merintih-rintih kesakitan, harus segera kuberikan pertolongan pertama, apalagi pelipis kirinya juga terluka lumayan parah

“Frans, lo bantu gue disini,” ucapku keras pada pemuda tampan yang kini mematung di dekat pintu.

“Mbak, tahan sakitnya sedikit ya,” pintaku pelan kepada wanita ini, lalu tanpa menunggu jawaban darinya, kuluruskan siku tangan kanannya. Kutarik kuat-kuat hingga ia menjerit sangat keras, namun aku berusaha untuk tak peduli, prioritasku adalah nyawanya.

“Frans! Ambilkan kain gendongan di lemari,” teriakku keras mengatasi jerit kesakitan korban yang sekali lagi terdengar ketika aku meluruskan pergelangan kaki kirinya. Wanita itu menjerit keras sekali, jeritannya begitu kencang hingga mendirikan bulu roma.

“Frans! Gendongannya! ” teriakku sekali lagi ketika tak juga ada yang membawakan barang yang kubutuhkan. Ketika aku melihat ke arahnya, orang yang kupanggil hanya berdiri diam mematung di dekat pintu, memandang ngeri ke arah wanita ini, “FRANS!!!”

Akhirnya ia tersadar setelah mendengar teriakkanku. Setelah sadar, ia berjalan dengan langkah sempoyongan menuju ke arah lemari, mencari-cari gendongan yang kumaksud, kemudian dengan wajah linglung bergegas ke arahku lalu menyerahkan barang yang kupinta. Aku melihat ada yang aneh dengannya saat ini.

Kurebut gendongan dari tangannya dengan kasar dan memakaikannya ke wanita ini. Sekarang aku hanya perlu mengkhawatirkan luka di pelipis kirinya yang terus menerus mengucurkan darah. Sebelumnya aku telah meminta tolong kepada salah satu warga yang tadi membawa korban ke klinik ini untuk menekan pelipis kiri wanita ini kuat-kuat dengan buntalan kain agar pendarahannya dapat terhenti selagi aku mengurus tangan dan kakinya yang patah.

Seharusnya pendarahannya sudah berhenti, dan benar saja, sudah tidak ada lagi darah yang mengucur, namun lukanya cukup besar hingga membutuhkan beberapa jahitan.

“Frans, ambilkan obat merah serta kassa steril untuk membalut luka! Cepat!”

Kini ia langsung merespon perintahku namun masih dengan sikap yang menurutku aneh. Aku mengawasinya dari sudut mataku selagi aku memulai menjahit luka sang korban. Langkahnya tidak mantap, sorot matanya seperti orang kebingungan. Butuh waktu yang lebih lama baginya untuk menemukan barang-barang yang kuminta.

Setelah mendapatkan barang-barang yang kuperlukan, ia bergegas ke arahku, namun ketika hampir sampai di sisiku, ia terjatuh.

Kutahan badannya dengan badanku hingga tak menimpa sang korban. Botol besar berisi obat merah juga jatuh dan tumpah tepat dipunggungku, kurasakan jas ku basah dan terasa sejuk karenanya.

Aku mendorongnya kasar dan meraih obat merah yang kini tersisa kurang dari setengah. Aku ambil juga kassa steril yang ia pegang. Aku tak mempedulikannya dan terus menjahit luka korban. Beberapa saat kemudian pekerjaanku akhirnya selesai dengan cukup memuaskan. Kini obat penghilang rasa sakit sudah memainkan perannya, sang korban kini tak sadarkan diri. Wanita ini terlihat sangat kacau namun nyawanya dapat terselamatkan.

Tapi ini belum selesai, korban perlu ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih baik seperti rontgen untuk melihat seberapa parah tangan dan pergelangan kakinya telah patah. Karena yang aku lakukan hanyalah memberikan pertolongan pertama padanya.

Aku keluar ruang periksa dan meminta beberapa orang yang berbaik hati menunggui korban untuk menggotongnya ke dalam ambulans yang disediakan oleh klinik kami. Kuberikan kunci ambulans kepada mereka dan memberikan instruksi-instruksi selanjutnya.

Aku tak langsung mengantar para warga yang sedari tadi menunggui korban. Aku harus menyelesaikan hal lain yang perlu kuselesaikan. Ketika aku kembali ke dalam, kulihat Frans masih berdiri mematung di tempatnya sejak tadi. Mungkin dia shock karena ada kejadian seperti ini. Sikapnya yang seperti ini tidak bisa ditolerir karena bisa saja ia memperparah keadaan korban.

PLAKKK!

Oleh karena itu kutampar dia.

“Kuasai diri lo!”

Aku meninggalkan dia yang terjatuh karena tamparanku yang lumayan keras tadi. Kuharap dia benar-benar bisa menguasai diri, setidaknya hingga aku bisa berada disisinya.

***

“Haaah…”

Aku menghela nafas panjang sebelum memasuki klinik. Matahari sudah hampir terbenam di timur sana ketika aku sampai setelah seharian menunggui sang korban serta menangani administrasi yang diperlukan. Sekitar sejam yang lalu kerabat korban akhirnya datang, dan aku menyerahkan segalanya kepada kerabat korban tersebut. Bukan main lelahnya hari ini.

Aku memasuki pintu yang menuju ke ruang tunggu para calon pasien, mencari-cari sosok yang kukhawatiri sejak tadi siang. Bagaimana keadaannya saat ini?

Lima menit penuh aku mencar-cari sosoknya di ruang tunggu, namun nihil. Kuhampiri Mas Aldi yang sedang sibuk hingga tak sempat melihatku memasuki pintu.

“Mas,” panggilku pelan, membuatnya terlonjak dari tempat duduknya.

“Astaga, Dok! Kaget saya, jangan begitu dong Dok, bisa copot jantung saya, hehehe…” jawabnya cengengesan, aku hanya tersenyum mendengar candaannya.

“Frans udah pulang, Mas?” tanyaku akhirnya.

“Uh, ng… Belum, Dok. Kayaknya dia shock karena kejadian tadi siang. Sekarang dia lagi di di pantri. Boleh tolong Dokter periksa? Saya takut dia kenapa-kenapa.”

“Oh. Oke, Mas jaga disini dulu ya. Sekalian tolong beritahu Dokter Dion kalau saya harus mengantar Frans pulang dulu. Duluan, Mas,” pamitku pada pemuda itu. Lalu aku memasuki pintu yang menuju ke arah pantri.

Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyusuri lorong yang menghubungi klinik dan pantri, lalu sampailah aku di ruangan yang lumayan luas namun penuh dengan berbagai barang itu. Disudut ruangan, aku melihat sosoknya.

Ia sedang duduk membungkuk, dengan gelas dalam kedua genggamannya. Matanya memandang nyalang ke dalam gulita di luar jendela. Langkah-langkah kakiku yang berisik tak mengusiknya, bahkan ia sepertinya tak menyadari kedatanganku.

Aku berjalan ke arahnya perlahan, lalu menyandarkan punggungku ke lemari yang berada dekat dengannya.

“Belum pulang?” tanyaku pelan, terheran-heran dengan nada bicara yang kugunakan. Seharusnya aku tidak memanjakan bocah babon ini. Kentara sekali ia tidak mendengarkanku bahkan tidak menyadari kalu aku sudah ada di hadapannya.

Aku menyetel volume suaraku lebih keras namun dengan nada yang tetap lembut.

“Hei, sampai kapan mau disini?”

Akhirnya ia bereaksi, awalnya ia terkejut melihatku tiba-tiba ada di depannya, seperti melihat setan. Lalu raut wajahnya berganti menjadi sendu. Seperti menahan sakit akibat dilumat luka. Seperti sendu yang kulihat pada diriku di masa lalu.

“Yuk,”

Aku menarik lengannya pelan, mengambil gelas dari dalam genggamannya lalu meletakkannya di atas meja. Dengan tangan kananku yang bebas, kugenggam jemarinya lalu kutuntun dia. Aku menuntunnya ke arah motorku yang terparkir di depan klinik. Aku merasa, entahlah, ada yang aneh. Perasaanku campur aduk, terasa begitu salah sekaligus begitu benar. Ketika menggenggam erat tangannya, yang kupikirkan hanyalah tak ingin melepaskannya lagi. Mungkin egois untuk berharap ‘selama-lamanya’.

***

Hari sudah malam ketika aku sampai di rumahku. Rencananya aku memang ingin mengantarnya pulang, namun kurasa lebih baik jika Frans bermalam di tempatku dulu. Karena jika aku mengantarkan Frans ke rumahnya, maka aku harus menjelaskan segalanya. Masalahnya, sekarang aku terlalu lelah untuk menjelaskan segalanya tersebut. Dan aku berjanji tidak akan macam-macam dengan Frans. Sumpah.

Mungkin sedikit, kuperhatikan bibirnya begitu menggiurkan.

Aku tak sempat memikirkan kelanjutan pikiran kotorku karena ketika aku turun dari motor, tubuh Frans limbung. Aku menangkapnya tepat waktu, karena jika terlambat sedikit saja bisa dipastikan dia akan mencium semen di bawahku.

Aku mencoba menyadarkannya, namun sia-sia. Aku memapahnya, menolongnya untuk memasuki rumahku. Setelah sampai di kamarku, kubaringkan tubuhnya diatas kasurku.

“Berat sekali bocah ini,” gerutuku pelan. Aku segera membetulkan posisi tubuh Frans yang kini sudah tertidur. Kulihat tidurnya gelisah, mungkin mimpi buruk. Tak ada yang bisa kulakukan, oleh karena itu aku memutuskan untuk mandi dan meninggalkannya.

***

Kulihat Frans telah terbangun ketika aku kembali memasuki kamar dengan rambut yang masih basah serta hanya dengan mengenakkan handuk sebatas pinggang hingga lutut. Dia duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya, sorot matanya kembali nyalang. Ia tak menyadari suara langkahku yang berisik

“Hei…” panggilku pelan seraya menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya.

Barulah ketika kupanggil, Frans mendapatkan kembali fokusnya. Matanya lagi-lagi menatap sendu ke arahku. Lalu tanpa bisa kuduga, ia melompat ke arahku dan menangis hebat.

***

Silau.

Kukerjapkan kedua mataku karena silaunya cahaya mentari pagi yang menerobos melewati jendela besar di hadapanku. Kukerjapan sekali lagi agar penglihatanku lebih terfokus, namun kedua mataku terasa lengket.

Kepalaku pening, rasanya seperti setelah semalam mabuk berat. Kuangkat tangan kiriku untuk memijit-mijit pelipisku, berharap dengan begitu bisa meredakan sedikit rasa sakitnya.

Ketika penglihatanku kembali normal, kulihat langit-langit kamar yang sudah pasti bukan langit-langit kamarku. Kurasakan sedikit demi sedikit kepingan ingatan menyatu di kepalaku bagaikan puzzle yang harus diselesaikan.

Selagi mencoba memecahkan teka-teki dalam kepalaku, kurasakan tititku gatal. Aku berniat menggunakan tangan kananku untuk menggaruknya namun tak bisa, sesuatu kini menindihnya hingga aku tak kuasa mengangkatnya. Oleh karenanya kupalingkan wajahku untuk melihat apa yang telah menindihnya.

Dan kemudian…

“AAAAARRRRGGGHHHHH!!!!!!!!”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s